Ketika Angka Pengungsi Menjadi Cerita Tentang Manusia
CSR | 2026-01-27 18:54:55Di sebuah balai kelurahan di pesisir Pekalongan, tikar-tikar hijau digelar rapat. Di atasnya, anak-anak duduk bersila, sebagian bermain, sebagian terdiam memeluk tas kecil berisi pakaian yang tersisa. Di sudut ruangan, seorang ibu paruh baya menatap kosong, seperti mencoba menerima kenyataan bahwa rumahnya kembali digenangi banjir.
Bencana banjir yang melanda wilayah pesisir Pekalongan kembali memaksa ribuan warga mengungsi. Data terbaru per 25 Januari 2026 mencatat 2.138 pengungsi tersebar di 14 titik, mulai dari kawasan Lokatex hingga Tegalowo dan Tanjung. Titik pengungsian terbesar berada di Kopindo (400 jiwa), Tegalowo (326 jiwa), dan Masjid Aftawa/Al Bayar (240 jiwa), disusul Dupantex (225 jiwa) dan Balai Kelurahan Mayangan (162 jiwa).
Angka-angka itu tampak dingin di atas kertas. Namun di baliknya, ada cerita tentang keluarga yang kehilangan tempat tinggal, anak-anak yang harus tidur di lantai balai desa, dan lansia yang bertahan dengan obat-obatan seadanya.
Di tengah situasi itu, LAZISMU Kantor Layanan (KL) Wiradesa menyalurkan bantuan kemanusiaan ke empat titik pengungsian pada Senin (26/1/2026). Bantuan berupa minuman, roti anak-anak dan makanan ringan, minyak angin, serta obat-obatan dibagikan langsung kepada warga terdampak.
Tim LAZISMU bersama unsur Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Wiradesa mendatangi lokasi pengungsian satu per satu. Kehadiran mereka bukan hanya untuk menyalurkan logistik, tetapi juga untuk memastikan bahwa para penyintas tidak merasa sendiri.
Ketua LAZISMU KL Wiradesa, H. Slamet Fahrudin, menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan amanah dari para donatur yang harus segera sampai kepada warga terdampak.
“Alhamdulillah, hari ini kami menyalurkan kebutuhan dasar bagi para pengungsi di empat titik. Ini adalah amanah dari Bapak dan Ibu donatur yang kami sampaikan secepat mungkin sesuai kebutuhan di lapangan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kantor LAZISMU KL Wiradesa, Mustaqim, S.E., menegaskan bahwa solidaritas masyarakat menjadi kekuatan penting dalam merespons bencana.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh donatur yang telah mempercayakan donasinya melalui LAZISMU. Semoga Allah membalas setiap kebaikan dengan keberkahan, kesehatan, dan kelapangan rezeki. Tidak ada balasan bagi kebaikan kecuali kebaikan pula,” katanya.
Di antara tumpukan kardus bantuan, Ketua PCA Wiradesa, Hj. Ummu Hanik, S.Ag., melihat langsung wajah-wajah kelelahan para pengungsi.
“Kehadiran PCM, PCA, dan pengelola LAZISMU bukan hanya untuk menyalurkan bantuan, tetapi juga memberikan dukungan moril kepada warga yang sedang menghadapi ujian berat,” tuturnya.
Bagi warga pengungsi, bantuan itu bukan sekadar roti dan obat. Ia adalah simbol bahwa di tengah bencana, masih ada tangan-tangan yang terulur. Di tengah banjir yang merendam rumah, solidaritas menjadi selimut hangat yang menjaga martabat kemanusiaan.
Bencana mungkin datang setiap musim, tetapi kepedulian tidak boleh menjadi musiman. Sebab di balik angka 2.138 pengungsi, ada 2.138 kisah manusia yang sedang belajar bertahan, berharap, dan menunggu pulang ke rumah mereka.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
