Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Kang Lahudin

Amar Maruf Nahi Munkar sebagai Pilar Kaderisasi Muhammadiyah

Agama | 2026-01-25 07:25:31

1. Pendahuluan

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, dakwah, dan tajdid menjadikan amar ma’ruf nahi munkar sebagai ruh perjuangan. Sejak awal berdirinya, KH. Ahmad Dahlan menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber nilai sekaligus basis gerakan sosial-keagamaan. Salah satu ayat kunci yang menjadi landasan ideologis kaderisasi Muhammadiyah adalah QS. Ali ‘Imran ayat 104, yang menegaskan kewajiban melahirkan kelompok umat yang terorganisir untuk menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Dalam konteks kaderisasi, ayat ini tidak hanya dipahami sebagai perintah normatif, tetapi sebagai mandat strategis untuk mencetak kader dakwah yang berilmu, berakhlak, dan berorientasi pada transformasi sosial.

2. Teks dan Kandungan Makna QS. Ali ‘Imran: 104

Allah SWT berfirman:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”(QS. Ali ‘Imran: 104)

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menegaskan kewajiban adanya sekelompok umat yang secara khusus mengemban tugas dakwah, bukan sekadar aktivitas individual, tetapi dakwah yang terstruktur dan berkesinambungan. Hal ini menunjukkan bahwa Islam mendorong lahirnya organisasi dakwah yang kuat dan berdisiplin.

Sementara itu, Tafsir Al-Qurthubi menegaskan bahwa amar ma’ruf nahi munkar merupakan fondasi tegaknya agama dan rusaknya umat terjadi ketika kewajiban ini ditinggalkan.

3. Amar Ma’ruf Nahi Munkar sebagai Identitas Gerakan Muhammadiyah

Dalam Muhammadiyah, amar ma’ruf nahi munkar tidak dimaknai secara sempit sebagai teguran moral semata, tetapi sebagai gerakan pencerahan (tanwir). Hal ini sejalan dengan penjelasan Tafsir Al-Misbah (Quraish Shihab) yang menyatakan bahwa al-khair dalam ayat ini mencakup seluruh nilai kebaikan universal, baik spiritual, sosial, pendidikan, maupun kemanusiaan.

Oleh karena itu, amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi merupakan manifestasi nyata dari amar ma’ruf nahi munkar yang bersifat konstruktif dan solutif.

4. Kaderisasi sebagai Implementasi Fardhu Kifayah

Frasa “wal takun minkum ummatun” menunjukkan bahwa dakwah adalah kewajiban kolektif (fardhu kifayah). Muhammadiyah menjawab mandat ini melalui sistem kaderisasi yang terstruktur, mulai dari pengajian, Darul Arqam, hingga penguatan ideologi di berbagai level pimpinan.

Menurut Tafsir Ibnu ‘Asyur, penggunaan kata ummatun menunjukkan pentingnya keteraturan, visi bersama, dan kepemimpinan dalam dakwah. Ini sejalan dengan prinsip Muhammadiyah sebagai organisasi modern yang menekankan sistem, manajemen, dan keberlanjutan gerakan.

5. Etika Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Kader Muhammadiyah

Amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan dengan hikmah dan keteladanan. Kader Muhammadiyah dituntut menjadi contoh hidup dari nilai yang didakwahkan. Tafsir Al-Misbah menekankan bahwa keberhasilan dakwah bukan hanya pada kebenaran pesan, tetapi juga pada cara penyampaian yang arif dan beradab.

Dalam konteks ini, kader Muhammadiyah harus menjauhi sikap ekstrem, konfrontatif, dan eksklusif, serta mengedepankan dakwah bil-hal melalui karya nyata dan akhlak mulia.

6. Relevansi QS. Ali ‘Imran: 104 dalam Pengajian Kader

Materi QS. Ali ‘Imran: 104 sangat relevan dijadikan bahan pengajian kader karena:

a) Menguatkan kesadaran ideologis bahwa Muhammadiyah adalah gerakan dakwah, bukan sekadar organisasi sosial.

b) Menegaskan peran kader sebagai agen perubahan (agent of change).

c) Membentuk militansi dakwah yang rasional, berkemajuan, dan berlandaskan ilmu.

d) Pengajian kader bukan hanya sarana transfer ilmu, tetapi juga media internalisasi nilai perjuangan Muhammadiyah yang berorientasi pada kemaslahatan umat dan bangsa.

7. Penutup

QS. Ali ‘Imran ayat 104 merupakan fondasi teologis dan ideologis bagi kaderisasi Muhammadiyah. Ayat ini menegaskan pentingnya dakwah yang terorganisir, beretika, dan berorientasi pada perubahan sosial. Kader Muhammadiyah dituntut tidak hanya memahami ayat ini secara tekstual, tetapi mengaktualisasikannya dalam gerakan nyata melalui amal usaha, pengabdian sosial, dan kepemimpinan yang berintegritas.

Dengan demikian, keberuntungan (al-muflihûn) yang dijanjikan Allah SWT tidak hanya bersifat ukhrawi, tetapi juga terwujud dalam lahirnya masyarakat Islam yang berkemajuan.

*) Materi ini disampaikan pada Pengajian PRM Pejagalan, Penjaringan -Jakarta Utara, Ahad, 25 Januari 2026, bertempat di Musholla Tarbiyah Jl. Cupang Raya No. 31 Rt 05/Rw 012 Pejagalan, Penjaringan Jakarta Utara.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image