Krisis Pengelolaan Sampah di Perkotaan Makin Serius, Apa yang Bisa Dilakukan?
Gaya Hidup | 2026-01-25 07:22:37
Pertumbuhan penduduk, urbanisasi yang pesat, dan pola konsumsi masyarakat yang semakin tinggi membuat persoalan sampah di perkotaan kian mendesak. Setiap hari, ribuan ton sampah dihasilkan dari rumah tangga, pusat perbelanjaan, perkantoran, hingga kawasan industri. Sayangnya, peningkatan volume sampah ini belum sepenuhnya diimbangi dengan sistem pengelolaan yang efektif dan berkelanjutan. Akibatnya, tumpukan sampah, pencemaran lingkungan, dan krisis tempat pembuangan akhir (TPA) menjadi masalah yang semakin kompleks.
Jika tidak segera ditangani secara serius, persoalan sampah bukan hanya mengancam kebersihan kota, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat, kualitas lingkungan hidup, dan stabilitas pembangunan perkotaan. Lantas, apa saja langkah nyata yang bisa dilakukan untuk mengatasi krisis pengelolaan sampah di perkotaan?
Ledakan Volume Sampah, Tantangan Nyata Kota-Kota Besar
Kota-kota besar di Indonesia menghadapi tantangan yang sama: produksi sampah yang terus meningkat setiap tahun. Perubahan gaya hidup, maraknya penggunaan plastik sekali pakai, serta meningkatnya aktivitas ekonomi menjadi faktor utama melonjaknya timbulan sampah.
Di banyak daerah, TPA sudah mendekati atau bahkan melampaui kapasitasnya. Sistem pembuangan terbuka (open dumping) yang masih digunakan di sejumlah wilayah memperparah pencemaran tanah, air, dan udara. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendekatan lama dalam pengelolaan sampah tidak lagi memadai untuk menjawab tantangan perkotaan modern.
Pengelolaan Sampah Harus Dibangun dari Hulu
Salah satu kesalahan utama dalam pengelolaan sampah adalah terlalu fokus pada pembuangan akhir, bukan pada pengurangan sejak dari sumbernya. Padahal, sebagian besar sampah di perkotaan berasal dari rumah tangga dan aktivitas konsumsi sehari-hari.
Penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) harus menjadi fondasi utama dalam sistem pengelolaan sampah. Pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, pemilahan sampah organik dan anorganik, serta pemanfaatan kembali barang layak pakai dapat secara signifikan menekan volume sampah yang masuk ke TPA.
Edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pemilahan sampah dari rumah juga menjadi langkah krusial agar sistem daur ulang dapat berjalan efektif.
Peran Pemerintah Daerah Tak Bisa Diabaikan
Pemerintah daerah memegang peran strategis dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi. Mulai dari penyediaan infrastruktur pengolahan sampah, penguatan regulasi, hingga pengawasan terhadap pelaku usaha yang menghasilkan limbah dalam jumlah besar.
Pengembangan fasilitas pengolahan sampah terpadu (TPST), bank sampah, serta instalasi pengolahan sampah organik menjadi kompos perlu diperluas dan didukung secara konsisten. Selain itu, kebijakan pembatasan plastik sekali pakai dan insentif bagi pelaku usaha ramah lingkungan dapat mendorong perubahan perilaku di tingkat industri dan konsumen.
Sebagai contoh di tingkat daerah, Dinas Lingkungan Hidup Kota Gorontalo terus mendorong penguatan sistem persampahan melalui program pengurangan sampah, edukasi publik, dan peningkatan layanan kebersihan kota. Masyarakat juga dapat mengenal lebih dekat struktur organisasi dan program kerja lembaga ini dengan mengunjungi situsnya di https://dlhkotagorontalo.org/struktur/.
Inovasi Teknologi sebagai Solusi Tambahan
Di era digital dan teknologi hijau, pengelolaan sampah tidak lagi harus bergantung pada metode konvensional. Berbagai inovasi, seperti mesin pengolah sampah menjadi energi (waste-to-energy), aplikasi pelaporan sampah, hingga sistem pengumpulan sampah berbasis digital, mulai diterapkan di sejumlah kota.
Meski belum bisa menjadi solusi tunggal, pemanfaatan teknologi dapat membantu meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akurasi dalam pengelolaan sampah. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, teknologi berpotensi mempercepat transformasi sistem persampahan di perkotaan.
Keterlibatan Masyarakat Jadi Kunci
Sebagus apa pun sistem yang dibangun pemerintah, pengelolaan sampah tidak akan berhasil tanpa partisipasi aktif masyarakat. Kebiasaan membuang sampah sembarangan, tidak memilah sampah, serta konsumsi berlebihan menjadi penghambat utama perubahan.
Melalui kampanye publik, edukasi lingkungan sejak dini, dan program berbasis komunitas, kesadaran masyarakat dapat ditingkatkan. Ketika warga kota merasa memiliki tanggung jawab bersama terhadap kebersihan lingkungannya, perubahan perilaku akan lebih mudah tercapai.
Dunia Usaha Juga Harus Bertanggung Jawab
Persoalan sampah tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah dan masyarakat. Dunia usaha, khususnya produsen barang konsumsi, juga memiliki tanggung jawab besar terhadap limbah yang dihasilkan produknya.
Penerapan prinsip extended producer responsibility (EPR), penggunaan kemasan ramah lingkungan, serta sistem pengembalian kemasan dapat menjadi langkah konkret untuk mengurangi timbulan sampah dari sektor industri.
Penutup
Pengelolaan sampah di perkotaan kian mendesak dan tidak bisa lagi ditunda. Tanpa perubahan pendekatan yang menyeluruh, kota-kota akan terus bergulat dengan tumpukan sampah, krisis TPA, dan pencemaran lingkungan.
Solusi atas persoalan ini membutuhkan kolaborasi semua pihak: pemerintah yang tegas dan visioner, dunia usaha yang bertanggung jawab, serta masyarakat yang sadar dan peduli. Dengan membangun pengelolaan sampah dari hulu, memanfaatkan teknologi, dan memperkuat partisipasi publik, kota yang bersih, sehat, dan berkelanjutan bukanlah sekadar impian, melainkan tujuan yang bisa diwujudkan bersama.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
