Asam Jawa dan Kisah Bocah Sepulang Sekolah
Wisata | 2026-01-25 07:19:01
Sepanjang jalan yang terbentang arah utara selatan, berjejer puluhan pohon asam Jawa. Pepohonan rindang berdiri kokoh di pinggir kanan dan kiri jalan yang menghubungkan antar desa atau antar kecamatan. Bukan sebuah jalan nasional. Lokasinya tak jauh dari kampung kami.
Menurut cerita kakek yang kelahiran tahun 1923, pohon-pohon asam di dekat kampung kami sudah ada sejak dia masih kecil. Mungkin zaman Belanda. Jadi umur pohon itu bisa jadi puluhan bahkan ratusan tahun.
Diameter pohonnya bisa tiga-empat kali atau bahkan lebih, dari lingkar badan kami yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tinggi pohon yang konon berasal dari Afrika ini bisa mencapai belasan atau puluhan meter.
Daunnya majemuk menyirip genap dan buahnya seperti buah polong yang menggelembung -yang ketika sangat masak memiliki rasa asam manis dan melengket. Apabila matang, kadang buahnya berjatuhan di bawah pohon.
Keluar dari gapura desa kami belok kanan, pohon asam Jawa sudah tersenyum menyambut dan memberikan keteduhan tersendiri. Dalam keseharian, sebagian warga ada yang mengambil daunnya untuk digunakan sebagai pakan ternak kambingnya. Pun ada yang dipakai untuk obat tradisional.
Kulit batang berwarna coklat keabu-abuan, batangnya bertekstur kasar dan beralur-alur vertikal. Batang yang menonjol di sana sini dan tidak licin ini memudahkan kami -bocah kampung- untuk memanjatnya. Rantingnya kuat, banyak, dan berdaun lebat. Sedangkan bunganya berwarna kuning kemerahan. Hal yang mengherankan, daun-daunnya tidak sampai banyak mengotori jalanan atau lingkungan sekitar.
Selepas sekolah, kami -anak-anak kampung, sudah punya sederet kesenangan. Bentuknya berbeda-beda. Adapun SD kami terletak di sebelah selatan lapangan sepak bola, dekat pohon mahoni raksasa.
Sepulang sekolah SD, sambil berjalan kaki menuju rumah sekitar 800 meter, melewati sebuah lapangan dan area persawahan, saya dan teman-teman sudah merencanakan kegiatan.
Hari itu, ketika cuaca cerah, saya dan Warjono, teman SD sekaligus tetangga sebelah rumah, sudah janjian mau mengambil buah asam Jawa.
Setelah makan dan ganti baju, kami berdua berboncengan naik sepeda onthel milik Warjono. Setelah ratusan meter mengayuh sepeda ke utara desa, kami berhenti di bawah sebuah pohon asam Jawa yang menjulang.
"Jangan yang ini, buahnya sedikit," kata Warjono setelah beberapa saat mendongakkan kepala, jeli sekali mengamati buah asam yang bergelantungan di atas sana.
Kami pun melanjutkan perjalanan, agak ke utara. Benar, di tikungan jalan (Negok, nama tempat itu) ada beberapa pohon asam yang buahnya rimbun, lebat, mungkin karena letaknya jauh dari perkampungan, jarang dijamah orang. Tempatnya memang agak sepi. Kiri kanan hanya terlihat hamparan sawah tadah hujan.
Sepeda angin kami pepetkan ke pohon. Dengan tangkasnya Warjono memanjat pohon. Saya disuruh di bawah saja, kebagian tugas mengumpulkan buah asam yang akan berceceran karena dijatuhkan oleh teman saya itu. Kadang ada yang jatuh di saluran air yang mengering, kadang sampai bertebaran di sawah penduduk, kadang juga jatuh di aspal jalanan.
Saya sudah menyiapkan plastik kresek berukuran besar. Dari rumah sudah saya masukkan saku celana saya. Saya membungkuk-bungkuk memunguti buah asam. Suatu kesempatan, saya pernah melihat ada sepasang suami istri yang mengambil asam juga dengan membawa karung plastik.
Saya lihat Warjono sangat lihai memanjat pohon dan berani hingga ke atas, tinggi sekali. Hingga dia terlihat kecil di atas pohon. Kalau aku paling hanya memanjat sekitar lima meter ketinggian, itu pun ketika lihat ke bawah serasa ngeri. Mungkin karena itu, aku ditugasi mengumpulkan buah asam oleh teman saya itu. Dia sangat terampil memanjat, dan di sekolah, dia jago lompat tinggi dan loncat jauh.
Tak terasa, kantong plastik yang saya bawa hampir penuh terisi.
"Sudah banyak belum, To?" teriak Warjono dari atas pohon.
"Sudah, turunlah," sahutku sambil memastikan semua asam sudah kumasukkan ke dalam plastik.
Dengan girang kami mengayuh sepeda. Saya mengikat plastik dan memegangnya kuat-kuat di boncengan. Pulang. Hati kami bersuka cita. Sejumlah uang sudah di depan mata.
Kami tidak langsung pulang ke rumah masing-masing tetapi menuju rumah Bu Lik Sami. Dia adalah seorang pedagang sayur mayur di kampung kami. Hampir setiap pagi dia pergi kulakan ke pasar tradisional. Dia naik sepeda onthel, pulang-pulang keranjang belanja di kanan-kiri boncengannya sudah penuh.
Satu plastik asam Jawa itu kami tawarkan ke Bu Lik Sami. Dia langsung menerima dan menumpahkannya ke dalam besek (sejenis bakul terbuat dari anyaman bambu tipis).
"Kubayar segini ya," kata Bu Lik Sami sambil menyerahkan sejumlah uang. Dua keping uang logam.
"Ya Lik, terima kasih, ya," jawab kami.
"Ini bukan asam dari kuburan kan?" tambah Lik Sami penasaran.
"Bukan, ini dari pohon di ratan gede (jalan raya) Lik," jelasku.
Di kuburan desa kami memang ada sebatang pohon asam Jawa yang sangat rindang dan buahnya sangat lebat. Tetapi tidak ada yang berani mengambilnya. Entah pamali atau apa. Selama ini dibiarkan begitu saja, mungkin ketika ada kerja bakti baru dirapikan. Makanya Lik Sami tadi bertanya seperti itu. Kalau asam dari kuburan, dia tidak mau beli, khawatir tidak laku dijual. Di kampung kami, asam dipakai sebagai pelengkap sayur.
Setelah sejumlah uang logam pun kami terima. Uang itu kami bagi berdua. Kami pun pulang ke rumah masing-masing dengan wajah tersenyum karena sudah punya uang jajan hari itu. Terima kasih Warjono atas kebaikan hatimu.
Kini, empat puluh tahun kemudian, ketika saya pulang kampung, sudah tidak menjumpai lagi pohon-pohon asam penuh memori itu. Meskipun memori kecil kami. Seluruhnya nyaris hilang, ditumbangkan, katanya terkena proyek pelebaran jalan. Pohon Tamarindus Indica yang masih berdiri tegak di dekat kampung kami hanya pohon yang tumbuh di pinggir kuburan desa.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
