Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Joko Susanto

Tiga Pelajaran Berharga, Kado Istimewa Puasa

Agama | 2026-02-22 21:51:26

Dr. Fahmi Akbar membagikan kuliah Ramadan dengan tema 'Tiga Pelajaran Berharga dari Ibadah Puasa.' Kegiatan dilaksanakan sebelum tarawih di Masjid Al-Furqon Slipi Palmerah Jakarta Barat, Ahad (22 Februari 2026).

Dr. . Fahmi Akbar (berdiri kanan) di hadapan jamaah tarawih Al Furqon.

Sosok mubaligh murah senyum itu memulai ceramahnya, "Ramadan kali ini mungkin ada perbedaan. Tahun lalu mungkin ada teman atau jamaah yang masih bersama kita, namun sekarang ada beberapa teman yang sudah tidak bersama dengan kita lagi. Batas rezekinya sampai di situ, dan sudah menjadi takdir Allah."

Kuliah Ramadan dipadati jamaah baik laki-laki di lantai dua dan perempuan di lantai bawah. Segenap DKM Al-Furqon berikut ketuanya, Achmadin, hadir pada kesempatan tersebut.

Dengan keterbatasan waktu, kita pahami tiga pelajaran berharga dari ibadah puasa.

1. Orang yang berpuasa memiliki kemampuan untuk survival. Nggak makan minum dari fajar hingga Maghrib. Mampu mengendalikan diri. Hasilnya setelah satu bukan nanti punya ketahanan luar biasa.

Allah SWT pasti akan menguji kita sebagaimana dalam Qur'an Surat Al Baqarah:155 : yang artinya: "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan....". Ayat ini menegaskan kepastian Allah SWT akan menguji keimanan manusia dengan berbagai cobaan, termasuk rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, namun menjanjikan kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.

Bergembiralah orang yang berpuasa karena berlatih survive. Kita jangan cemas dengan apa yang akan terjadi di hari esok. Ketakutan akan menimbulkan perilaku yang spekulatif. Jaga ketakutan dari hal yang tidak jelas ujungnya.

2. Puasa melatih empati terhadap orang lain. Lapar dan haus ternyata tidak enak. Maka, jangan susah melihat orang lain senang, jangan senang melihat orang lain susah.

Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa barang siapa meringankan beban atau kesusahan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan akhirat. Ini merupakan bagian dari hadis riwayat Muslim (no. 2699) yang menekankan balasan setimpal berupa kemudahan dan pertolongan Allah atas pertolongan yang diberikan kepada sesama. Allah akan melepaskan kesusahan orang tersebut pada hari kiamat.

Ada hukum kausalitas, bahwa kebaikan akan kembali kepada kita sendiri.

Demikian pula, Barang siapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.

Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.

Hadits ini mengajarkan kaidah al-jaza-u min jinsil 'amal (balasan sesuai jenis perbuatan), di mana kebaikan yang diberikan kepada orang lain akan kembali kepada diri sendiri, terutama dalam bentuk kemudahan di hari kiamat.

Bersyukur kita masih diberikan rezeki, berupa panjang umur dapat menjumpai ramadan tahun ini. Idealnya panjang umur makin dekat kepada Allah, makin taat beribadah. Bukan sebaliknya.

3. Meningkatkan rasa syukur dengan nikmat yang tersisa. Makin tua beberapa orang banyak penyakitnya muncul, namun kita masih bisa salat berjamaah, masih bisa baca Al-Qur'an. Nikmat-nikmat yang ada sekarang harus kita syukuri. Dengan ujian penyakit-penyakit ringan kita ikhtiarkan untuk tetap beribadah. Kalau kita terus bersumgguh-sungguh beramal baik, semoga selalu berada pada garis yang benar. Kita masih banyak melakukan hal baik sedangkan orang lain sudah banyak yang tidak dapat melaksanakannya karena berbagai sebab.

Ketika Nabi Sulaiman mau lewat, semut tahu sehingga mereka pada minggir. Nabi Sulaiman meminta untuk diberikan kekuatan bersyukur atas amal shaleh.

Robbi auzi'nii an asykuro ni'matakallatii an'amta 'alayya wa 'alaa waalidayya wa an a'mala shoolihan tardhoohu, wa ad-khilnii birohmatika fii 'ibaadikash-shoolihiin.

Doa syukur Nabi Sulaiman AS, yang tercantum dalam QS. An-Naml Ayat 19 ini bermakna permohonan agar diberi kemampuan untuk selalu bersyukur atas nikmat Allah yang diberikan kepadanya dan orang tuanya, serta dimudahkan beramal saleh.

Dengan berbagai kenikmatan, rasa syukurnya tak berkurang. Maka tirulah cara Nabi Sulaiman tersebut agar ditambah kesyukuran kita. Wallahu a'lam.

(Disclaimer: kalau terdapat kesalahan bisa jadi karena keterbatasan penulis dalam menyimak dan menyalin, mohon dimaafkan)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image