Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image pdpm kabupaten pekalongan

Hujan, Nikmat yang Disalahkan Manusia

Khazanah | 2026-01-21 12:45:14

Setiap musim hujan tiba, keluhan sering terdengar. Hujan disebut sebagai penyebab banjir, longsor, dan berbagai bencana. Seolah-olah air yang turun dari langit adalah sumber petaka. Padahal, jika ditelaah dengan jujur dan jernih, hujan sama sekali bukan masalah. Masalah sesungguhnya ada pada cara manusia memperlakukan bumi.

Islam mengajarkan bahwa alam semesta diciptakan Allah dengan ukuran, keseimbangan, dan ketetapan yang sempurna. Tidak ada satu pun ciptaan-Nya yang sia-sia atau salah. Hujan adalah bagian dari sistem keseimbangan bumi yang Allah atur dengan presisi. Udara yang diturunkan tidak berlebihan dan tidak pula kurang, sesuai kebutuhan kehidupan.

Jika kemudian terjadi ketidakseimbangan, maka itu bukan karena cacat pada sistem alam, melainkan akibat ulah manusia sendiri. Banjir terjadi karena daya serap tanah yang rusak, hutan yang digunduli secara liar, sungai yang dipersempit dan dipenuhi sampah. Longsor terjadi karena lereng-lereng bukit dibebani bangunan tanpa perhitungan, vegetasi penahan tanah dihilangkan, dan tata ruang diabaikan. Semua itu adalah potret kegagalan manusia dalam mengelola lingkungan.

Al-Qur'an telah menegaskan fungsi hujan secara jelas. Dalam QS. An-Nahl ayat 10, Allah menyebutkan bahwa hujan adalah sumber air minum bagi manusia dan sarana menyuburkan tanaman, yang darinya tumbuh padang rumput untuk ternak. Ayat ini menegaskan dua hal penting: hujan menopang kehidupan manusia sekaligus menjaga ekosistem pertanian dan peternakan. Tanpa hujan, kehidupan akan terganggu dan ketahanan pangan berada dalam ancaman serius.

Menyalahkan hujan atas bencana sama saja dengan menutup mata dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ketika alam rusak, sejatinya itu adalah cerminan dari perilaku manusia yang abai, serakah, dan tidak amanah. Hujan tetap turun dengan patuh pada perintah Tuhannya, sementara manusialah yang sering melampaui batas.

Oleh karena itu, yang diperlukan bukanlah kemarahan terhadap hujan, melainkan introspeksi dan perubahan sikap.

Menjaga hutan, mengelola sampah, menata ruang dengan bijak, dan menjaga keseimbangan ekologi alam adalah bagian dari ibadah yang sering dilupakan. Keselehan tidak hanya diukur dari hubungan dengan Allah, tetapi juga dari cara manusia menjaga ciptaan-Nya.

Semoga hujan yang Allah turunkan selalu menjadi rahmat, menyuburkan bumi, menghidupkan harapan, dan mengingatkan manusia agar kembali berlaku adil terhadap alam. Sebab ketika manusia berdamai dengan bumi, bumi pun akan kembali bersahabat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image