Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image khulashoturrojibah

Menghidupkan Kembali Nilai Kesatuan Indonesia di Ruang Digital

Agama | 2026-03-13 17:45:32

Seperti yang kita ketahui bahwa banyak turis yang ingin tinggal ataupun sekedar staycation di Indonesia ini. Selama ini, dunia mengenal Indonesia bukan hanya sekedar tentang keindahan alamnya saja, melaikan melalui identitas yang telah mendarah daging diantaranya yaitu keramah-tamahan masyarakat Indonesia yang ikonik. Senyuman dan sapaan yang tiada henti tak henti-hentinya mereka pancarkan mereka selalu menggunakan kata “monggo”, “punten” disertai gerakan yang sedikit menunduk dan senyuman yang terpancarkan telah lama menjadi pelekat sosial yang menjaga keharmonisan di tengah keberagaman. Namun, seiring bermigrasinya interaksi kita yang semula era informasi (The Information Age) hingga sekarang yang serba digital, perlahan lahan terjadinya pergeseran yang cukup signifikan dan mengkhawatirka. Layar gawai seolah-olah menjadi benteng yang memisahkan kita dari etika-etika bertatap muka.

Transformasi ini mencapai titik puncaknya pada tahun 2020 seperti yang kita ketahui bahwa pada era itu kita dilanda pandemi global yang memaksa kita untuk menutup pintu rumah sehingga kita malah membuka gerbang digital selebar-lebarnya. Dalam sekejap, ruang-ruang fisik yang dulunya tempat kita belajar tatakrama, seperti meja sekolah, koridor sekolah, meja diskusi hingga pertemuan antara keluarga secara paksa berpindah ke gawai. Pada saat itu merupakan babak baru Indonesia dimana pertemuan tatapmuka dihilangkan, dan digantikan oleh internet dan pertemuan tatap muka digantikan melalui koneksi internet dan kehadiran fisik digantikan oleh ketikan di kolom komentar. Sayangnya, perubahan yang signifikan itu membuat kita abai bahwa etika itu tidak ikut bermigrasi dengan benar. Kita terpaksa masuk ke ruang kelas digital yang luas tanpa adanya bekal tatakrama digital yang memadai, sehingga layar yang seharusnya menjadi jendela informasi justru berubah menjadi cermin dari ketidaksabaran dan ego yang kolektif bahkan tidak terkendali.

Budaya santun Indonesia di ruang digital kini menghadapi tantangan berupa keberanian disinhibisi, di mana anonimitas menyebabkan hilangnya kendali diri (Pratama & Sari, 2024). Hal inilah yang menuntut adanya revitalisasi kearifan lokal seperti tepo seliro sebagai bentuk filter etis dalam berkomunikasi (Wibowo, 2025). Namun, membangun kembali tatakrama tidak hanya melalui kata-kata atau aturan formal terbaru. Nilai-nilai ini harus hars hidup mendarah daging dalam setiap percakapan kita baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Kita perlu dan harus menyadari bahwa setiap akun media sosial yang kita temui, ada sosok manusia yang layak kita hormati, sehingga etika digital bukan hanya sekedar beban, tetapi bentuk sederhana dari cara kita memanusiakan sesama dan menghormati sang pencipta.

Sopan santun bukan aturan yang kaku, tapi soal perasaan. Kita punya “Tepo Seliro” dan “Tenggang Rasa”, yaitu sebuah cara pandang yang dimana kita belajar menempa diri sebelum berkomentar bahasa lainnya yaitu berpikir sebelum bertindak. Tantangan kita yaitu apakah kita kuat membawa semangat untuk menjaga etika kita?. Selain menjaga etika di dunia maya, ada kata Tabayyun. Tabayyun merupakan sebuah pengingat klasik yang bahkan sampai sekarang masih sangat relevan, jangan asal menerima informasi secara mentah mentah. Kita harus mencari kebenaran, itu merupakan bentuk rasa hormat kita kepada orang lain. Kalau ini kita bawa ke ruang digital, kolaborasi antar-teman atau rekan organisasi tidak akan lagi berakhir di perdebatan yang memuakkan, melainkan jadi ajang buat saling berbagi hal positif (Wibowo, 2025).

Kendala kita di dunia digital yang sering membuat kita lupa akan diri sendiri. Adanya Efek Disinhibisi Online, kita merasa aman bicara di belakang laya, banyak yang berani ngomong ngegas bahkan ngegad dan sedikit nyelekit, yang pastinya jika kita ketemu langsung nyalinya tidak seberani itu (Pratama & Sari, 2024). Dan parahnya lagi kita malah terkecoh dalam kelompok fanatisme demi membela opini pribadi, tatakrama kita pergi entah kemana. Akhirnya kejujuran dikalahkan oleh ego yang besar dan hoax menjadi senjata utama hanya karna kita tidak mau kalah berdebat dengan netizen yang lain.

Sebenarnya, memperbaiki suasana digital itu tidak perlu menggunakan cara-cara yang ribet. Cukup mulai dari kebiasaan yang kecil di kolom komentar. Kita harus selalu mengingat aturan dan batasan tatakrama komunikasi diantara kita. Jangan sampai kita lupa akan sapaan dengan sopan, cara meminta bantuan yang baik dan benar. Yang paling penting yaitu kita jangan sampai pelit dan malu untuk mengatakan “Maaf atau Terimakasih”. Meski terlihat sepeleh, namun jika kita melkukan secara konsisten, efeknya bakalan terasa ke orang yang merasakannya. Sebagai anak muda atau Gen-Z, kita jangan sampai menjadi penonton. Kita bisa bergerak membuat Aktivisme positif. Bentuk Self-Regulation yang paling nyata kemampuan kita menghadapi ego kita sendiri. Bukan seberapa pintar kita berpendapat, bukan seberapa pintar berdebat, tetapi seberapa bijak kita menggunakan teknologi untuk memberi dampak positif bagi orang lain.

Kesatuan itu bukan berarti kita menjadi lemah bahkan kaku, justru dengan kesatuan kita menjadi tanda jika kita mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi. Kemajuan teknologi bukanlah alasan untuk mengorbankan martabat budaya kita. Saat kita memilih untuk memberikan komentar yang membangun dan menyebarkan narasi positif, kita sedang menanam benih kedamaian yang akan tumbuh menjadi kekuatan bangsa yang kokoh. Jika dulu orang tua kita membangun jembatan silaturrahmi lewat sapaan dan senyuman di dunia nyata, maka sekarang giliran kita anak muda yang melanjutkan baik di dunia maya maupun di dunia nyata (ruang virtual). Mari kita jadikan jempol orang Indonesia se-ramah senyumannya, jangan sampai jati diri kita sebagai bangsa Indonesia yang terkenal dengan intimidasinya ini hilang karna kita terlalu asik dengan segala kegilaan di dunia maya.

DAFTAR PUSTAKA

Pratama, AR, & Sari, DK (2024). Etika komunikasi dalam ruang siber: Tantangan dan strategi literasi digital bagi Generasi Z di Indonesia. Jurnal Ilmu Komunikasi Indonesia , 12 (1), 38–52.

Wibowo, ES (2025). Revitalisasi kearifan lokal dalam komunikasi digital: Mempertahankan jati diri bangsa di era globalisasi. Jurnal Sosiologi Budaya dan Masyarakat , 9 (2), 112–128.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image