Generasi Kuat Mental dengan Islam sebagai Dasar Kehidupan
Agama | 2026-03-13 14:44:36
Kesehatan mental anak menjadi isu serius di Indonesia. Pasalnya, banyak anak kesehatan mentalnya bermasalah hingga berakhir dengan bunuh diri. Oleh karena itu, pemerintah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 9 menteri sebagai langkah serius menangani isu ini (3/5/2026, antaranews.com).
Kementrian kesehatan akan mulai dengan melakukan pendidikan pengasuhan positif dan edukasi Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Mulai tahun ini, kementrian akan menugaskan petugas kesehatan jiwa di setiap fasilitas kesehatan (7/3/2026, kompas.com).
Tingkat stress di kalangan remaja memang tinggi. Kebanyakan dari penderita adalah mereka yang mengalami kekerasan baik fisik, verbal, seksual, maupun emosional. Selain itu, faktor keluarga, lingkungan, pergaulan, dan media sosial juga menjadi faktor penyebab menurunnya kesehatan mental di kalangan anak dan remaja.
Gaya hidup materialistis dan tujuan hidup materi sesungguhnya yang menyebabkan mental anak-anak dan remaja lemah bahkan berakhir dengan bunuh diri. Saat hidup hanya untuk kesenangan dan materi semata, hubungan dengan Tuhan hanya saat ibadah saja, kehidupan dan lingkungan dipenuhi dengan paham materialisme dan hedonisme, manusia menjadi sosok individualis, apatis, dan melakukan segala cara untuk mendapatkan materi yang diinginkan.
Saat ada ujian berupa kesakitan, kemiskinan, mereka merasa rendah dan seakan hidup begitu susah, akhirnya mengakhiri hidupnya. Manusia tak percaya kekuatan Tuhan dan lemah dari segi mental.
Bagi mereka yang punya kekuatan dan kekayaan, mereka menjadi pongah dan merasa bisa merendahkan manusia lainnya. Mereka merasa mampu melakukan segalanya dan bertindak semaunya termasuk membully temannya dan melakukan segala cara hanya untuk mencapai kesenangannya walaupun itu bisa jadi sebuah kejahatan.
Beginilah kehidupan di era kapitalisme sekulerisme dimana kehidupan manusia dipisahkan dengan Tuhan. Tuhan hanya dipakai saat ibadah ritual. Sedangkan pemegang pengaturan adalah manusia yang berlagak tahu segalanya padahal sejatinya menimbulkan kerusakan. Pemenang dalam kehidupan adalah mereka sang Kapital (pemilik modal).
Untuk menyelamatkan anak, remaja, dan generasi bangsa adalah dengan menjadikan Islam sebagai dasar kehidupan. Meluruskan makna sebenarnya tentang kehidupan. Allah telah berfirman dalam Al-Qur'an bahwa sejatinya manusia di dunia ini hanyalah untuk beribadah kepadaNya, menjadi KhalifahNya untuk mengelola bumi sesuai dengan apa yang Allah perintahkan. Manusia harus meyakini Allah sebagai Al-Khaliq (Pencipta) dan Al-Mudabbir (Pengatur) kehidupan. Syariat Allah adalah penghubung manusia dengan Tuhannya dan ia lakukan karena ketaatan padaNya. Dengan demikian akidahnya akan kuat dan kokoh. Keyakinannya akan segala yang Allah sampaikan dalam firman-nya menghujam kuat dalam jiwanya.
Baik dari ranah keluarga, lingkungan masyarakat, pendidikan, ekonomi, dan pemerintahan semuanya harus dijalankan berdasarkan syariat Islam. Menjalankan semua karena ketaatan sehingga melahirkan muslim yang taat dan taqwa pada Tuhannya.
Keluarga mendidik dasar-dasar akidah, dengan penuh kasih sayang mengenalkan anak pada Rabbnya serta mendidik dan membiasakan anak beribadah sejak dini.
Lingkungan juga penuh dengan ruh ketaatan, saling amal ma'ruf nahi mungkar dan tolong menolong dalam kebaikan.
Pendidikan ditujukan untuk menjadikan generasi yang beriman dan bertaqwa pada Allah, berakhlak baik, pribadi yang sholeh-sholehah, cerdas dalam ilmu dunia dan akhirat, bermanfaat bagi umat, serta perjuangan agama Islam. Hidupnya bukan untuk prestige, pujian, kesenangan, atau harta. Tetapi untuk ridho Allah semata.
Pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk membuat generasi semakin taat pada Tuhannya. Menggunakan teknologi untuk mempermudah aktivitas dan dakwah Islam. Pemerintah akan melarang seluruh media yang menyebarkan ide-ide yang tidak sesuai dengan Islam seperti gaya hidup hedonis, kapitalis, sosialis, apatis, liberal, dan lain sebagainya. Karena dalam Islam media adalah alat untuk menyebarluaskan Islam.
Dengan demikian anak akan tumbuh dengan mental yang tangguh. Mereka yakin akan kekuatan Allah sehingga tak mudah rapuh dalam menghadapi ujian hidup. Hidup mereka penuh dengan makna karena setiap detik mereka, mereka tahu bahwa itu bisa menjadi ibadah. Ridho Allah yang menjadi tujuan, sehingga mereka tak peduli akan hal lain di dunia selain pandangan Allah pada diri mereka. Hidupnya produktif dengan amal karena mereka tahu dunia ini sementara sedangkan akhirat selamanya. Begitu mulianya generasi bangsa saat hidup dalam kehidupan yang didasarkan Islam. Mereka mulia di dunia dan juga di akhirat. Inilah gambaran generasi yang lahir dari dunia Kekhilafahan karena Islam dijadikan asas kehidupan. Rasulullah dan para Khalifah selanjutnya telah mencontohkan bagaimana melahirkan para generasi emas pejuang Islam yang kuat secara fisik, cerdas dalam intelektual, dan bermental baja.
WaAllahu'alam
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
