Wahabisme dan Geopolitik di Timur Tengah
Politik | 2026-04-09 10:05:34Munculnya Wahabisme di Semenanjung Arab menandai pergeseran drastis dari tradisi intelektual Islam yang kaya menuju bentuk literalisme yang kaku. Sesungguhnya sebelum dominasi Wahabi, wilayah Hijaz merupakan pusat kehidupan intelektual yang kosmopolit, di mana teologi Sufisme dan filsafat Islam berkembang pesat di bawah tokoh seperti Ibrahim al-Kurani.
Wahabisme datang dengan membawa apa yang disebut sebagai pembersihan elemen-elemen metafisika dan spiritual, yang pada akhirnya memfasilitasi kemunduran berpikir secara filosofis di kalangan masyarakat Arab karena menutup pintu interpretasi simbolik dan esoterik yang menjadi ruh peradaban Islam klasik (Dumairieh, 2021).
Kritik tajam terhadap penyempitan nalar pemahaman Islam Wahabisme dikemukakan oleh Hamid Algar (2002) dalam Wahhabism: A Critical Essay. Algar berpendapat bahwa Wahabisme dicirikan oleh kekeringan intelektual yang luar biasa, di mana doktrin Tauhid direduksi menjadi alat untuk mengafirkan sesama Muslim (takfir).
Penolakan mutlak terhadap tasawuf dan filsafat yang secara historis berfungsi sebagai jembatan spiritualitas dan kecerdasan intelektual telah menciptakan kekosongan filosofis. Kekosongan ini membuat negara-negara Teluk kehilangan fondasi spiritual yang kuat untuk melawan narasi materialisme Barat, sehingga cenderung terjebak dalam formalisme agama yang dangkal.
Dalam konteks sejarah gerakan, doktrin al-wala’ wa-l-bara’ (loyalitas dan penolakan) digunakan secara sempit. Awalnya ditujukan untuk memisahkan diri dari pengaruh luar, doktrin ini dalam praktiknya di Arab Saudi justru bermutasi menjadi instrumen politik untuk mendukung kekuasaan dinasti.
Akibatnya, terjadi kenaifan geopolitik di mana musuh-musuh internal, sesama Muslim yang berbeda aliran, dipandang lebih berbahaya daripada penetrasi asing, yang secara tidak langsung membuka jalan bagi ketergantungan keamanan terhadap Amerika Serikat (Bunzel, 2023).
Firro (2018) menyoroti bahwa aliansi antara Muhammad ibn Abd al-Wahhab dan Muhammad ibn Saud menciptakan simbiosis antara Pedang dan Kitab yang kaku. Ketika kekuasaan politik Saudi mulai bergantung pada dukungan militer Barat untuk mempertahankan stabilitas kawasan, doktrin keagamaan Wahabi dipaksa untuk beradaptasi atau diam terhadap kebijakan luar negeri yang pro-Barat.
Hal ini menjelaskan mengapa negara-negara Teluk sering kali pasif dalam konflik melawan zionisme, karena stabilitas dinasti lebih diutamakan daripada solidaritas Islam yang konfrontatif terhadap Barat.
Ketidaksiapan intelektual ini menyebabkan negara-negara Arab di Teluk mengalami kenaifan geopolitik yang nyata dalam menghadapi perang di Timur Tengah hari ini. Simon Ross Valentine (2015) dalam Force and Fanaticism: Wahhabism in Saudi Arabia and Beyond mencatat bahwa meskipun Wahabisme tampak radikal dalam retorika, dalam struktur kekuasaan global, ia justru menjadi sekutu pragmatis bagi Amerika Serikat.
Ketergantungan terhadap perlindungan militer Barat membuat bangsa Arab sulit untuk mengambil posisi tegas dalam membela Palestina secara totalitas jika hal itu harus berbenturan dengan kepentingan strategis Washington di kawasan tersebut.
Kritik filosofis-spiritual juga datang dari perspektif Syiah, sebagaimana ditulis oleh Ayatullah Ja’far Subhani (2020) dalam Wahabism. Subhani menunjukkan bahwa penolakan Wahabi terhadap tawasul dan penghormatan kepada wali adalah bentuk kesalahpahaman terhadap konsep syafaat dan kedekatan spiritual dengan Tuhan.
Dari sudut pandang ini, Wahhabisme telah mendegradasi agama menjadi sekadar aturan legal-formal yang kehilangan dimensi transendensinya. Hilangnya kedalaman spiritual ini mengakibatkan ketumpulan intuisi politik dalam membedakan antara lawan ideologis sejati yaitu Barat-Zionisme dengan saudara seiman yaitu Iran walau beda mazhab dan cara berpikir, sehingga menciptakan fragmentasi yang melemahkan posisi umat Islam secara global.
Peter Mandaville (2022) menguraikan bagaimana pengaruh Saudi melalui diplomasi agama sebenarnya telah mengekspor literalisme ini ke seluruh dunia. Dampaknya di tingkat global adalah pelemahan terhadap Islam politik yang revolusioner. Wahabisme cenderung mempromosikan ketaatan buta kepada penguasa (waliyyul amr), yang dalam konteks Arab Saudi, berarti menerima aliansi strategis negara dengan Barat. Hal ini secara efektif meredam potensi resistensi kolektif bangsa Arab terhadap dominasi Amerika-Israel di Timur Tengah.
Kenaifan geopolitik ini mencapai puncaknya ketika kita melihat persaingan antara Iran dan blok Teluk. Doktrin anti-Syiah dalam Wahabisme telah menjadi katalisator utama bagi ketakutan berlebihan terhadap Iran.
Ketakutan ini dimanfaatkan oleh Barat untuk menjual perlindungan kepada negara-negara Teluk. Alih-alih membentuk poros Islam yang bersatu antara Iran-Palestina-Arab untuk melawan zionisme, Wahabisme justru memfasilitasi normalisasi hubungan dengan Israel melalui pintu belakang demi melawan ancaman Syiah yang dikonstruksi secara teologis (Crawford, 2014).
Kritik terhadap metodologi teologis Wahabi banyak dilakukan para sarjana karena Wahabi semakin menjauh dari konsensus Sunni klasik. Pengabaian terhadap disiplin logika (Mantiq) dan kalam dalam Whabisme menyebabkan pengikutnya sulit melakukan analisis geopolitik yang kompleks (Nahouza, 2018).
Mereka cenderung melihat dunia dalam warna hitam-putih teologis, sehingga terjebak dalam permainan adu domba kekuatan besar. Dalam konflik hari ini, Palestina sering kali hanya menjadi retorika, sementara dukungan nyata lebih banyak diberikan pada stabilitas ekonomi-politik yang dikawal oleh Amerika Serikat.
Ironi dari gerakan ini sejatinya terlihat sejak awal kelahirannya bagaimana sejarah awal gerakan ini penuh dengan kekerasan terhadap sesama Muslim. Rekam jejak kekerasan internal ini membekas dalam memori kolektif yang membuat integrasi regional di Timur Tengah menjadi hampir mustahil (Al-Jibouri, 2019).
Tanpa persatuan regional, bangsa Arab menjadi pion dalam papan catur geopolitik Barat, di mana kekayaan energi mereka justru digunakan untuk membiayai infrastruktur keamanan yang pada akhirnya melayani kepentingan zionisme di kawasan.
Ketidakmampuan Wahhabisme untuk menghargai warisan spiritualitas Islam telah menciptakan masyarakat yang, meminjam istilah Algar, maju secara material namun mundur secara intelektual. Dalam perang antara Iran-Palestina melawan Barat saat ini, kenaifan bangsa Arab di bawah pengaruh Wahabi terlihat dari keragu-raguan mereka untuk menggunakan kekuatan minyak atau boikot total sebagai senjata politik.
Keberpihakan terselubung pada Amerika dan Israel bukan hanya masalah politik praktis, tetapi juga buah dari kegagalan sistem pendidikan keagamaan yang memangkas kapasitas berpikir kritis dan strategis umat.
Alhasil, Wahabisme di Arab Saudi telah menjadi faktor penghambat bagi kebangkitan kembali kekuatan Islam yang mandiri. Dengan meminggirkan teologi Sufisme-filosofis yang inklusif dan mendalam, serta menggantinya dengan literalisme yang memicu takfir, gerakan ini telah melemahkan imunitas bangsa Arab terhadap hegemoni asing.
Selama narasi Wahabi masih mendominasi cara pikir keagamaan di negara Arab Teluk, kecenderungan untuk menjadi subordinat Amerika dan Israel akan terus berlanjut, membiarkan Iran dan pejuang Palestina berdiri sendirian sebagai representasi resistensi Islam yang otentik melawan penjajahan Barat di era modern.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
