Orientalisme Edward Said dan Cara Dunia Melihat Gaza dan Iran
Politik | 2026-04-08 09:13:51
Warga Gaza mengamati kerusakan bangunan akibat konflik yang terus berlangsung
Foto: Mohammed Ibrahim / Unsplash
Di tengah reruntuhan Gaza, yang hancur tidak hanya infrastruktur, tetapi juga cara dunia memahami realitas. Kematian hadir setiap hari. Namun, tidak semua kematian diperlakukan dengan cara yang sama. Sebagian diberi wajah, nama, dan cerita. Sebagian lainnya mengendap sebagai angka tanpa konteks, tanpa kedalaman, tanpa urgensi.
Perbedaan ini bukan sekadar bias sesaat. Ia merupakan pola yang telah lama bekerja dalam cara dunia melihat Timur Tengah.
Dalam konteks ini, pemikiran Edward Said melalui Orientalism kembali menemukan relevansinya. Said tidak hanya berbicara tentang stereotip, tetapi tentang bagaimana pengetahuan diproduksi untuk menopang kekuasaan. Timur, dalam konstruksi ini, bukan sekadar wilayah geografis, melainkan objek yang harus dijelaskan, dikendalikan, dan jika perlu ditertibkan.
Narasi yang Tidak Pernah Benar-Benar Netral
Dalam konflik yang berlangsung sejak 2023, terlihat bagaimana representasi menjadi medan pertempuran tersendiri.Pemberitaan global tidak selalu berdiri di atas ruang kosong. Ia membawa sejarah panjang cara pandang yang membedakan siapa yang layak mendapat empati, dan siapa yang cukup dipahami sebagai bagian dari konflik yang rumit.
Ketika kekerasan dijelaskan tanpa konteks sejarah panjang pendudukan, blokade, dan ketimpangan kekuasaan, maka yang tersisa hanyalah gambaran tentang kekacauan yang tampak tidak beralasan. Di titik ini, orientalisme bekerja secara halus, bukan dengan menyatakan secara eksplisit, tetapi dengan memilih apa yang ditampilkan dan apa yang dihilangkan.
Dari Gaza ke Teheran: Jejak Narasi Yang Sama
Aksi publik di Tehran mencerminkan dinamika politik dan sosial yang membentuk lanskap geopolitik kawasan.
Foto: hosein charbaghi / Unsplash
Pola yang sama dapat ditemukan dalam cara Iran diposisikan dalam global. Selama bertahun-tahun, Iran direpresentasikan sebagai ancaman yang inheren, sebuah negara yang digerakkan oleh irasionalitas ideologis. Narasi ini jarang memberi ruang pada kemungkinan bahwa kebijakan luar negeri Iran juga dibentuk oleh kalkulasi strategis yang rasional, sebagaimana negara lain.
Dalam lanskap geopolitik, posisi Israel dan dukungan konsisten dari United States menunjukkan bahwa konflik Gaza tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan konfigurasi kekuasaan yang lebih luas, di mana narasi menjadi instrumen legitimasi. Ketika satu pihak dipahami sebagai sekutu yang sah, sementara pihak lain diposisikan sebagai ancaman permanen, maka ruang untuk melihat kompleksitas menjadi semakin sempit.
Orientalisme yang Bertransformasi
Sering kali diasumsikan bahwa di era digital, dominasi narasi telah melemah. Namun, yang terjadi bukanlah hilangnya orientalisme, melainkan pergeseran bentuknya. Hari ini, ia bekerja melalui algoritma, distribusi informasi, dan logika visibilitas. Tidak semua suara memiliki peluang yang sama untuk didengar, bahkan dalam ruang yang tampak terbuka.Dengan demikian, orientalisme tidak lagi hadir sebagai wacana yang kasat mata, tetapi sebagai struktur yang mengatur bagaimana realitas disusun dan dipahami.
Masalah Cara Melihat
Apa yang terjadi di Gaza pada akhirnya bukan hanya persoalan konflik, tetapi juga persoalan perspektif. Selama dunia masih melihat melalui lensa yang tidak setara, yang membedakan nilai kemanusiaan berdasarkan kedekatan politik dan historis, maka pemahaman yang utuh akan selalu tertunda.Dalam situasi seperti ini, yang dipertarungkan bukan hanya wilayah atau kekuasaan, tetapi juga makna. Dan siapa yang memiliki kuasa untuk menentukan makna, pada akhirnya memiliki kuasa untuk menentukan bagaimana dunia bereaksi.
Referensi:
Said, E. W. (1978). Orientalism. Pantheon Books.
Human Rights Watch. (2023). Meta’s Broken Promises.
United Nations OCHA. (2024). Gaza Strip: Humanitarian Update.
Mearsheimer, J. J., & Walt, S. M. (2007). The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy.
Said, E. W. (1997). Covering Islam
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
