Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Pusat Inovasi Perempuan

Rantau Dedap Lokomotif Desa Energi: Pelopor Pusat Wisata Edukasi

Kolom | 2026-04-09 13:58:29
Foto : berita.com

Dr. Susianah Affandy, M.Si

Ambassador Woman In Nuclear

Di tengah percepatan transisi energi nasional menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060, narasi kemandirian energi tidak lagi berpusat di kawasan urban. Ia tumbuh subur di pelosok negeri, salah satunya di Dusun Rantau Dedap, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Melalui Program Desa Energi Berdikari (DEB), dusun yang sebelumnya hidup dalam gelap selama lebih dari empat dekade itu kini bertransformasi menjadi percontohan energi hijau sekaligus pusat wisata edukasi berbasis pemberdayaan masyarakat. Artikel ini menyajikan analisis akademis mengenai profil wilayah, dasar pemilihan sebagai lokasi percontohan, tata kelola program, integrasi wisata edukasi, peran pemangku kepentingan, dampak ekonomi, tantangan yang dihadapi, serta inovasi hijau yang potensial dikembangkan di masa depan.

1. Profil Rantau Dedap : Geografi, Demografi, dan Potensi Ekonomi

Dusun Rantau Dedap secara administratif merupakan bagian dari Desa Segamit, Kecamatan Semende Darat Ulu (SDU), Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Berlokasi di dataran tinggi Semende pada ketinggian sekitar 1.400 meter di atas permukaan laut (mdpl) di lereng Bukit Barisan, dusun ini memiliki topografi berbukit dengan hawa sejuk yang khas pegunungan. Letaknya yang berada di wilayah paling ujung dataran tinggi Semende menjadikan aksesibilitas sebagai tantangan utama. Dari ibu kota Kabupaten Muara Enim, dibutuhkan sekitar enam jam perjalanan melalui jalur Semende Raya yang berliku. Sementara dari Desa Segamit menuju dusun, masih harus ditempuh sekitar 12 kilometer melalui jalan cor beton dan tanah merah yang hanya dapat dilalui kendaraan double cabin saat musim hujan. Selain itu, wilayah ini juga terhalang oleh kawasan hutan lindung Bukit Jambul Gunung Patah yang turut memperkuat isolasi geografisnya. Secara tipologi, Rantau Dedap dikategorikan sebagai daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).

Dusun yang mulai dihuni sekitar tahun 1965 ini kini dihuni oleh 364 Kepala Keluarga (KK) dengan total populasi 1.047 jiwa. Mayoritas warganya menggantungkan hidup sebagai petani kopi, padi, dan hortikultura. Sebelum program DEB hadir, aktivitas ekonomi berjalan secara tradisional dengan produktivitas terbatas, terutama akibat tidak adanya akses listrik yang memadai. Selama lebih dari 42 tahun sejak dusun berdiri, masyarakat belum pernah menikmati pasokan listrik dari negara melalui jaringan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Keterisolasian ini secara struktural menghambat kapasitas masyarakat untuk mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah dan mengembangkan sektor ekonomi produktif lainnya. Dengan kata lain, potensi sumber daya alam yang melimpah belum dapat dioptimalkan karena terhambat oleh keterbatasan infrastruktur energi dasar.

2. Rantau Dedap sebagai Pilot Project Desa Energi Berdikari

Penetapan Rantau Dedap sebagai lokasi percontohan Program DEB didasarkan pada pertimbangan strategis yang multidimensional. Pertama, dari perspektif keadilan energi dan prinsip pembangunan inklusif, wilayah 3T seperti Rantau Dedap menjadi prioritas utama program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina. Kesenjangan akses energi yang ekstrem—ketiadaan listrik PLN selama lebih dari 42 tahun—menjadikannya laboratorium alami bagi uji coba model kemandirian energi berbasis masyarakat. Kedua, potensi sumber daya energi terbarukan lokal yang melimpah menjadi pertimbangan teknis yang krusial. Aliran air dari Danau Deduhuk menyediakan debit dan tinggi jatuh (head) yang memadai untuk pembangkitan listrik tenaga mikrohidro (PLTMH), sementara posisi geografis di dataran tinggi mendukung pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber energi pelengkap. Ketiga, ketersediaan modal sosial dan inisiatif lokal menjadi faktor penentu keberhasilan. Sebelum Pertamina hadir, warga Rantau Dedap di bawah kepemimpinan Kepala Dusun Markun telah membangun turbin mikrohidro sederhana secara swadaya dengan memanfaatkan aliran air Danau Deduhuk, meskipun instalasi tersebut belum memenuhi aspek keamanan yang memadai. Keberadaan embrio pengelolaan energi berbasis komunitas ini menjadi fondasi sosial yang kokoh bagi pendampingan dan pengembangan lebih lanjut. Keempat, program DEB secara strategis dirancang selaras dengan agenda pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Asta Cita, khususnya poin keenam tentang membangun dari desa untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan.

3. Tata Kelola Program EBT dan Penerima Manfaat

Tata kelola Program DEB di Rantau Dedap didesain dengan pendekatan partisipatif dan berorientasi keberlanjutan jangka panjang. Proses dimulai dengan pemetaan sosial (social mapping) serta pembentukan kelompok pengelola di tingkat masyarakat, memastikan intervensi yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan, kapasitas, dan kearifan lokal. Setelah pondasi kelembagaan terbentuk, program difokuskan pada pembangunan infrastruktur energi terbarukan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan teknis. Salah satu aspek kunci dari tata kelola ini adalah prinsip keberlanjutan operasional: warga Dusun Rantau Dedap tidak hanya menikmati manfaat listrik, tetapi juga dibekali kemampuan untuk melakukan perawatan turbin mikrohidro secara mandiri, sehingga program tidak menciptakan ketergantungan baru melainkan membangun kemandirian teknis yang berkelanjutan.

Dari sisi infrastruktur EBT, program DEB di Rantau Dedap mengembangkan kombinasi dua teknologi utama. Pertama, Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang dibangun pada tahun 2023 dengan kapasitas awal 10 kWh, kemudian ditingkatkan menjadi 47 kWh. PLTMH ini memanfaatkan aliran air Danau Deduhuk sebagai sumber energi kinetik yang dikonversi menjadi energi listrik melalui turbin dan generator. Peningkatan kapasitas dari 10 kWh menjadi 47 kWh mencerminkan proses adaptif program terhadap pertumbuhan kebutuhan energi masyarakat seiring meningkatnya aktivitas ekonomi produktif. Selain itu, KPI menghadirkan lima unit PLTMH dan tiga unit PLTS untuk mendukung pasokan listrik yang lebih stabil dan berkelanjutan di wilayah ini. Kedua, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berfungsi sebagai sumber energi pelengkap, terutama untuk mengantisipasi fluktuasi debit air pada musim kemarau. Kombinasi PLTMH dan PLTS menciptakan sistem energi hibrida yang lebih andal dan berketahanan iklim.

Penerima manfaat dari program ini mencakup spektrum yang luas. Secara langsung, listrik yang dihasilkan dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga warga, tempat ibadah (masjid), operasional UMKM, serta penerangan jalan sepanjang empat kilometer. Dampak ini dirasakan langsung oleh 130 Kepala Keluarga atau sekitar 445 jiwa dari total populasi 1.047 jiwa. Selain konsumsi rumah tangga, energi listrik juga menjadi penopang rumah produksi aneka olahan kentang dan stroberi. Dengan kata lain, program ini tidak hanya menerangi kegelapan fisik, tetapi juga membuka ruang-ruang baru bagi aktivitas ekonomi, pendidikan, dan sosial yang sebelumnya terhambat oleh keterbatasan energi.

4. Pusat Wisata Edukasi : Integrasi dengan Desa Energi Berdikari

Salah satu inovasi paling strategis dari program DEB di Rantau Dedap adalah integrasi antara infrastruktur energi hijau dengan pengembangan pusat wisata edukasi. Kawasan Danau Dedughuk—yang sumber airnya juga dimanfaatkan untuk PLTMH—diangkat menjadi destinasi agroeduwisata yang memadukan potensi energi bersih dengan daya tarik wisata alam. Konsep ini melampaui sekadar penyediaan energi, menciptakan nilai tambah melalui ekonomi pengalaman (experience economy) yang melibatkan wisatawan secara interaktif.

Aktivitas wisata edukasi yang dikembangkan meliputi panen kentang dan penanaman stroberi sebagai atraksi utama. Saat ini, Sentra Agroeduwisata Rantau Dedap telah memiliki demonstration plot (demplot) stroberi yang tidak hanya berfungsi sebagai area edukasi bagi pengunjung tentang teknik budidaya tanaman dataran tinggi, tetapi juga sebagai unit produksi yang menghasilkan panen untuk diolah menjadi berbagai produk turunan. Dengan demikian, demplot berfungsi ganda: sebagai laboratorium lapangan bagi wisatawan edukasi dan sebagai sumber bahan baku bagi industri rumah tangga warga. Wisatawan yang berkunjung dapat belajar secara langsung tentang siklus budidaya tanaman hortikultura, sekaligus menyaksikan bagaimana energi terbarukan dari PLTMH dan PLTS menggerakkan seluruh aktivitas ekonomi desa. Model ini menciptakan virtuous cycle di mana wisata edukasi menarik pengunjung, pengunjung membelanjakan uangnya untuk produk lokal, dan pendapatan yang diperoleh digunakan untuk memelihara dan mengembangkan infrastruktur energi serta wisata. Jumlah pengunjung ke Danau Deduhuk dilaporkan meningkat dua kali lipat sejak program DEB berjalan, menjadi indikator nyata tingginya daya tarik model wisata edukasi terintegrasi ini.

## 5. Peran Stakeholder dalam Program Desa Energi Berdikari

Keberhasilan program DEB di Rantau Dedap tidak terlepas dari sinergi multipihak yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dengan pembagian peran yang jelas dan saling melengkapi.

Pertamina (Persero) sebagai induk perusahaan berperan sebagai penggerak utama kebijakan dan penyedia pendanaan strategis. Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menegaskan bahwa energi bukan hanya untuk penerangan dan aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai katalisator perubahan sosial menuju kemandirian desa.

Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit III Plaju bertindak sebagai pengelola wilayah dan fasilitator program di tingkat lokal. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani, menyatakan bahwa DEB merupakan program unggulan TJSL KPI yang selaras dengan kebijakan Pertamina dalam pemerataan akses energi dan pemberdayaan masyarakat. KPI bertanggung jawab atas koordinasi dengan pemerintah desa, identifikasi kebutuhan masyarakat, serta pendampingan langsung dalam pembangunan dan operasionalisasi infrastruktur. KPI juga menerapkan teknologi ramah lingkungan, seperti panel surya dan pemanfaatan biomassa dari limbah pertanian.

Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) sebagai subholding yang mengemban mandat pengembangan EBT memberikan dukungan teknis yang krusial dalam pembangunan infrastruktur energi terbarukan, mulai dari survei potensi, desain teknis, pengadaan peralatan, konstruksi, hingga pelatihan masyarakat.

Pemerintah Desa dan masyarakat lokal berperan sebagai pemilik dan pengelola utama program. Kepala Dusun Markun dan warga Rantau Dedap tidak hanya menjadi penerima manfaat pasif, tetapi juga aktor aktif dalam perawatan turbin mikrohidro secara mandiri serta pengembangan inisiatif turunan seperti wisata edukasi dan unit-unit usaha produktif. Modal sosial yang telah ada sebelum program, yaitu inisiatif swadaya membangun turbin sederhana, menjadi fondasi yang memperkuat rasa kepemilikan dan tanggung jawab kolektif terhadap keberlanjutan program.

6. Analisis Peningkatan Ekonomi UMKM

Dampak ekonomi dari program DEB di Rantau Dedap dapat dianalisis dari beberapa dimensi yang saling terkait. Secara makro, program ini menciptakan nilai ekonomi baru yang sebelumnya tidak ada karena keterbatasan akses energi. Hadirnya listrik yang andal telah membuka ruang bagi pengembangan unit-unit UMKM berbasis pengolahan hasil pertanian. Rumah produksi aneka olahan kentang dan stroberi menjadi lokomotif ekonomi baru, menghasilkan produk turunan seperti donat kentang, serbuk stroberi, dan puding segar. Produk-produk ini tidak hanya menambah nilai (value addition) dari hasil panen yang sebelumnya dijual dalam bentuk mentah, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi warga.

Sektor pariwisata melalui agroeduwisata Danau Deduhuk memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan. Peningkatan jumlah pengunjung hingga dua kali lipat tidak hanya mendatangkan pendapatan langsung dari tiket masuk, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal melalui pengeluaran wisatawan untuk konsumsi, cendera mata, dan jasa-jasa pendukung lainnya. Munculnya produk turunan seperti donat kentang dan jus stroberi yang menjadi oleh-oleh khas wisatawan mencerminkan terbentuknya rantai nilai (value chain) baru yang melibatkan petani, pengolah, pedagang, dan pelaku jasa wisata. Model ini menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang jauh melampaui dampak langsung dari penyediaan energi.

Selain itu, penghematan biaya energi yang sebelumnya harus dikeluarkan untuk membeli minyak tanah atau bahan bakar lain kini dapat dialokasikan untuk kebutuhan produktif lainnya. Dengan kata lain, program DEB menciptakan double dividend : pendapatan meningkat dari sisi hulu (produksi dan pariwisata) sekaligus beban menurun dari sisi hilir (pengeluaran energi). Dampak positif ini sejalan dengan tujuan program DEB untuk mendukung ketahanan energi sekaligus peningkatan perekonomian masyarakat desa.

7. Hambatan dan Tantangan

Meskipun program DEB di Rantau Dedap telah menunjukkan berbagai capaian positif, sejumlah hambatan dan tantangan tetap perlu diidentifikasi untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang.

Tantangan geografis dan infrastruktur menjadi kendala paling mendasar. Akses jalan yang masih terbatas—sekitar 12 kilometer masih berupa tanah merah dengan hamparan batu dan sebagian cor beton—menghambat mobilitas logistik, termasuk pengiriman produk olahan ke pasar yang lebih luas dan kedatangan wisatawan dalam jumlah besar. Kondisi ini juga mempersulit akses terhadap layanan perbaikan dan perawatan jika terjadi kerusakan teknis pada infrastruktur PLTMH dan PLTS yang memerlukan suku cadang atau keahlian khusus. Selain itu, jarak yang jauh dari pusat kota (enam jam perjalanan dari Muara Enim) meningkatkan biaya transportasi dan logistik secara signifikan.

Tantangan teknis dan kapasitas sumber daya manusia menjadi Pekerjaan Rumah. Infrastruktur energi terbarukan membutuhkan perawatan rutin dan manajemen yang baik, sementara kesiapan masyarakat desa dalam mengelola fasilitas kerap terbatas. Meskipun warga telah dilatih untuk melakukan perawatan turbin mikrohidro secara mandiri, kompleksitas teknologi PLTMH dan PLTS tetap memerlukan pemeliharaan berkala yang mungkin berada di luar kapasitas teknis masyarakat awam. Untuk mengatasi hal tersebut, program DEB dilengkapi dengan pelatihan teknis dan pendampingan agar manfaat energi terbarukan dapat bertahan dalam jangka panjang.

Tantangan sosial dan kelembagaan juga perlu mendapatkan perhatian. Keberlanjutan program sangat bergantung pada kohesivitas sosial dan kapasitas kelembagaan lokal dalam mengelola aset bersama. Risiko konflik internal terkait pembagian manfaat, melemahnya partisipasi masyarakat seiring berjalannya waktu, serta regenerasi kepengurusan kelompok pengelola merupakan tantangan-tantangan umum dalam program pemberdayaan berbasis masyarakat.

8. Inovasi Hijau yang Dapat Dikembangkan di Masa Depan

Berdasarkan potensi alam yang melimpah dan modal sosial yang telah terbukti tangguh, beberapa inovasi hijau strategis dapat dikembangkan lebih lanjut di Rantau Dedap.

Pertama, pengembangan sistem biogas terintegrasi dari limbah pertanian dan peternakan. Dengan memanfaatkan ketersediaan biomassa dari hasil pertanian (sekam padi, batang kopi) dan potensi peternakan lokal, biogas dapat menjadi sumber energi tambahan untuk kebutuhan memasak dan pembangkit listrik skala rumah tangga, sekaligus mengurangi ketergantungan pada kayu bakar dan mengurangi emisi gas rumah kaca.

Kedua, peningkatan kapasitas dan efisiensi PLTMH eksisting dengan teknologi smart microgrid. Integrasi PLTMH dengan sistem penyimpanan energi baterai (BESS) dan PLTS yang sudah ada dapat menciptakan sistem energi yang lebih andal dan adaptif terhadap fluktuasi debit air dan intensitas matahari. Sistem ini memungkinkan manajemen beban yang lebih cerdas, distribusi energi yang lebih merata, serta cadangan energi untuk musim kemarau ekstrem.

Ketiga, pengembangan produk turunan berbasis bioekonomi sirkular. Limbah pertanian dan perkebunan (seperti kulit kopi, batang pisang, dan jerami padi) dapat diolah menjadi produk bernilai tambah seperti pupuk organik, pakan ternak, atau bahan baku kerajinan tangan. Pendekatan ekonomi sirkular ini tidak hanya mengurangi limbah tetapi juga menciptakan sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

Keempat, digitalisasi pengelolaan wisata edukasi dan pemasaran produk UMKM. Pemanfaatan teknologi informasi untuk promosi destinasi wisata Danau Deduhuk, sistem reservasi online, serta platform pemasaran digital untuk produk olahan kentang dan stroberi dapat memperluas jangkauan pasar hingga ke luar daerah. Hal ini akan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan sekaligus volume penjualan produk lokal.

Kelima, pengembangan kapasitas masyarakat melalui sekolah lapang energi terbarukan (Field School on Renewable Energy). Dengan memanfaatkan infrastruktur PLTMH dan PLTS yang sudah ada sebagai laboratorium hidup, masyarakat (termasuk generasi muda) dapat memperoleh pelatihan teknis secara berkelanjutan tentang instalasi, perawatan, dan pengembangan sistem EBT. Program ini akan menciptakan kader-kader teknisi lokal yang mampu mengelola dan mengembangkan sistem energi mandiri di masa depan.

Inovasi-inovasi tersebut, jika diimplementasikan secara bertahap dan terintegrasi, akan semakin memperkuat posisi Rantau Dedap sebagai lokomotif desa energi berdikari sekaligus pusat wisata edukasi yang berkelanjutan.

9. Penutup

Rantau Dedap telah membuktikan bahwa keterisolasian geografis bukanlah penghalang mutlak bagi kemajuan, melainkan dapat diubah menjadi peluang melalui pendekatan yang tepat. Program Desa Energi Berdikari yang mengintegrasikan penyediaan energi hijau, pemberdayaan ekonomi, dan pengembangan wisata edukasi telah menciptakan model pembangunan desa yang holistik dan berkelanjutan. Keberhasilan ini tidak hanya relevan bagi Rantau Dedap, tetapi juga menawarkan pelajaran berharga bagi ribuan desa 3T lainnya di Indonesia yang masih bergelut dengan keterbatasan akses energi dan keterisolasian geografis. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, korporasi, akademisi, dan masyarakat, serta inovasi berkelanjutan yang disesuaikan dengan potensi lokal, mimpi untuk mewujudkan desa-desa yang mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan bukanlah sekadar utopia, melainkan keniscayaan yang dapat diraih. Rantau Dedap telah memulainya. Kini giliran desa-desa lain untuk menapaki jalan yang sama.

Daftar Pustaka

Sumber Media Nasional dan Lokal:

1. Antara News. (2025, September 1). Pertamina hadirkan energi berkelanjutan lewat Desa Energi Berdikari di Sumatera Selatan. Antara News Lampung. https://lampung.antaranews.com

2. Beritajatim. (2025, September 2). Pertamina NRE hadirkan energi bersih di OKU dan Rantau Dedap, dorong ekonomi desa mandiri. Beritajatim. https://beritajatim.com

3. Detik.com. (2025, September 5). Pertamina berdayakan Desa Rantau Dedap lewat energi bersih-wisata edukasi. Finance.detik.com.

4. Ecobiz Asia. (2025, September 5). Punya PLTMH dan wisata edukasi, Rantau Dedap jadi desa energi berdikari. Ecobiz.asia. https://ecobiz.asia

5. Enimekspres. (2025, Oktober 27). Ketika air Danau Dedughuk menjadi cahaya, jejak energi terbarukan di Rantau Dedap. Enimekspres.

6. Enimekspres. (2025, Oktober 19). Swasembada energi dari hulu ke hilir: Cahaya terang Rantau Dedap di tengah hutan lindung. Koran Enimekspres.

7. Harian Disway. (2025, September 5). Pertamina wujudkan Desa Energi Berdikari di Rantau Dedap. Harian Disway. https://harian.disway.id

8. IDN Times Sumsel. (2024, November 15). Kisah warga Rantau Dedap Muara Enim bawa cahaya listrik. IDN Times

9. Infoenergi. (2025, September 1). KPI dorong energi berkelanjutan melalui Desa Energi Berdikari di Sumatera Selatan. Infoenergi.id.

10. Infoenergi. (2025, September 2). Pertamina perluas akses energi bersih di Sumatera Selatan. Infoenergi.id. https://infoenergi.id

11. Inilah.com. (2025, September 5). Pertamina berdayakan Desa Rantau Dedap: Dari energi bersih hingga wisata edukasi. Inilah.com

12. Jawa Pos. (2025, September 2). Akses energi terbarukan di pedesaan Sumsel: Harapan baru di tengah ketimpangan akses listrik. Jawa Pos. https://www.jawapos.com

13. Kabar BUMN. (2025, Agustus 30). Program Desa Energi Berdikari Pertamina hadir di Sumatera Selatan, dorong kemandirian energi dan ekonomi lokal. Kabar BUMN

14. Kabar BUMN. (2025, September 5). Dari energi hijau ke wisata edukasi, Pertamina dorong Desa Rantau Dedap mandiri. Kabar BUMN

15. Liputan6. (2025, September 5). Pertamina berdayakan Desa Rantau Dedap Muara Enim: Dari energi bersih hingga wisata edukasi. Liputan6.com. https://www.liputan6.com

16. Mediaindonesia. (2025, September 1). Wujudkan energi berkelanjutan, Pertamina resmikan Desa Energi Berdikari. Mediaindonesia.com. https://mediaindonesia.com

17. Petrominer. (2025, Agustus 29). Ada 3 Desa Energi Berdikari di Sumatera Selatan. Petrominer. https://petrominer.com

18. Suara Sumsel. (2024, November 29). Desa Energi Berdikari, solusi Pertamina untuk listrik desa dan ekonomi lokal. Suara.com

19. Tempo. (2025, Agustus 29). Pertamina hadirkan Desa Energi Berdikari di Sumatera Selatan. Tempo.co. https://www.tempo.co

20. Tempo. (2025, September 5). Pertamina berdayakan Desa Rantau Dedap dengan energi bersih dan wisata edukasi. Tempo.co

21. Tribunnews. (2025, September 1). Dukung energi terbarukan, Pertamina pasang PLTMH dan PLTS di Sumsel, 500 jiwa dapat manfaat. Tribunnews.com

22. Tribunjabar. (2025, September 1). Program Desa Energi Berdikari jadi cara Kilang Pertamina hadirkan energi berkelanjutan. Tribunjabar.id

23. Warta Ekonomi. (2025, September 5). Pertamina berdayakan Desa Rantau Dedap lewat energi bersih dan wisata edukasi. Warta Ekonomi. https://wartaekonomi.co.id

24. Warta Ekonomi. (2025, September 5). Bantu transisi energi, Pertamina bangun turbin mikrohidro dan eduwisata di desa. Warta Ekonomi

25. Waspada. (2025, September 1). Pertamina hadirkan energi berkelanjutan di Provinsi Sumsel. Waspada.id

Sumber Jurnal Ilmiah dan Akademis:

1. Maulana, M. I. (2023). Geologi dan analisis fracture di lapangan panas bumi Rantau Dedap, Sumatera Selatan [Skripsi]. UPN Veteran Yogyakarta.

2. Sidik, R. P., Sihotang, M. A., & Azis, H. (2020). Stress-dependent fracture property delineation and sweet spot zonation in unconventional geothermal reservoir: South Sumatra Basin, Indonesia. SPE/SPWLA

3. Supreme Energy Rantau Dedap. (2022). From backyard to national stage: Supreme Energy Rantau Dedap‘s geothermal CSR initiative. Jakarta Globe.

4. Universitas Sriwijaya. (2021). Analisis lineament dan alterasi hidrotermal berdasarkan citra satelit untuk pemetaan potensi panas bumi di PT. Supreme Energy Rantau Dedap, Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatera Selatan. Repository Universitas Sriwijaya.

5. ITB Geothermal Forum. (2022). Rantau Dedap Geothermal Project Challenge. Geothermal ITB. https://geothermal.itb.ac.id

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image