Mandiri Energi Menunjang Pelestarian Hutan Desa Besakih Bali
Kolom | 2026-04-08 10:53:42
Dr. Susianah Affandy, M.Si
Ambassador Woman In Nuclear
Di tengah gencarnya upaya transisi energi nasional menuju Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, pendekatan berbasis komunitas (community-based energy transition) menjadi strategi yang semakin relevan. Salah satu model yang menarik perhatian adalah program Desa Energi Berdikari (DEB) yang diinisiasi PT Pertamina (Persero) di Desa Besakih, Kabupaten Karangasem, Bali. Program ini tidak sekadar menyediakan akses energi bersih bagi masyarakat pedesaan, tetapi secara simultan mengintegrasikannya dengan upaya pelestarian hutan, penguatan ekonomi lokal, serta revitalisasi kearifan budaya setempat. Artikel ini menyajikan analisis akademis mengenai profil Desa Besakih, landasan pemilihannya sebagai lokomotif Desa Energi Berdikari, ragam program energi baru terbarukan (EBT) yang telah diimplementasikan, peran para pemangku kepentingan, serta hambatan dan tantangan yang dihadapi dalam proses transformasi energi berbasis masyarakat tersebut.
Profil Hutan Desa Besakih
Desa Besakih secara administratif terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali, dengan luas wilayah mencapai 21,23 km². Secara geografis, desa ini berada di lereng Gunung Agung—gunung tertinggi di Pulau Bali dengan ketinggian 3.142 meter di atas permukaan laut—yang menjadikannya kawasan penyangga ekologis strategis bagi keseimbangan tata air dan iklim mikro di Bali bagian timur. Secara historis, wilayah ini merupakan kawasan hutan belantara yang mulai dihuni sejak sekitar abad ke-9 Masehi, dengan kompleks Pura Besakih—pura terbesar dan tersuci bagi umat Hindu Bali—sebagai pusat peradaban dan spiritualitas.
Hutan desa di wilayah ini dikelola secara resmi oleh Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Maha Wana Basuki, dengan luasan lahan hutan negara yang dimanfaatkan untuk kegiatan produktif mencapai 187 hektare. Sejak 2019, pemerintah desa bersama masyarakat telah menginisiasi pembangunan tujuh objek wisata berbasis hutan di kawasan tersebut, meliputi jogging trek, camping ground, down hill, wisata spiritual, selfie point, pra wedding, dan yoga meditation, dengan tagline “Hutan Lestari Warga Sejahtera”. Dalam perkembangannya, program perhutanan sosial ini diperluas melalui kolaborasi dengan Pertamina yang mencakup pengelolaan area penanaman tanaman endemik seluas 5 hektare untuk mendorong keanekaragaman hayati kawasan Besakih.
Dari sisi demografi, berdasarkan data BPS tahun 2016, jumlah penduduk Desa Besakih mencapai 7.197 jiwa, terdiri atas 3.738 laki-laki dan 3.459 perempuan, dengan rasio jenis kelamin (sex ratio) sebesar 108[reference:6]. Sumber lain menyebutkan populasi mencapai 7.564 jiwa dengan 2.424 kepala keluarga, disertai kunjungan peziarah (pemedek) sekitar 600 orang per hari ke kawasan Pura Besakih. Kepadatan penduduk tercatat sekitar 320 jiwa/km² (2010). Potensi lokal yang dikembangkan mencakup hasil hutan non-kayu, terutama madu hutan, serta ekowisata berbasis nilai-nilai lokal seperti Tri Hita Karana—filosofi harmonisasi hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan.
Desa Besakih sebagai Lokomotif Desa Energi Berdikari
Desa Besakih dinobatkan sebagai lokasi program Desa Energi Berdikari (DEB) bukan tanpa alasan yang sistematis. Terdapat setidaknya tiga pilar utama yang mendasari pemilihan desa ini.
Pertama, keberadaan kawasan hutan desa yang terkelola secara legal dan produktif melalui LPHD Maha Wana Basuki menjadi infrastruktur kelembagaan yang matang bagi pengembangan program terintegrasi antara konservasi hutan dan energi terbarukan. Sebagaimana ditegaskan oleh Corporate Secretary PT Pertamina Patra Niaga, Heppy Wulansari, keberadaan LPHD ini memungkinkan masyarakat tidak hanya melakukan penghijauan tetapi juga mengembangkan produk berbasis hasil hutan dan ekowisata.
Kedua, posisi geografis Desa Besakih sebagai Huluning Bali Rajya (hulu Pulau Bali) memberikan legitimasi ekologis dan kultural bagi upaya pelestarian hutan berbasis energi bersih. Ketua LPHD Mahawana Besakih, I Nyoman Artana, menegaskan bahwa mengelola lingkungan harus dimulai dari hulu karena kawasan ini berfungsi sebagai pengatur tata air, penyerap karbon, dan penyeimbang iklim bagi seluruh Pulau Bali. Jika hulu tidak dipelihara dengan baik, potensi bencana alam dan perubahan iklim di Bali akan meningkat secara signifikan.
Ketiga, kesesuaian program DEB dengan visi pemerintah pusat, sebagaimana diamanatkan Presiden Prabowo Subianto agar setiap desa dapat mandiri energi, menjadikan Besakih sebagai proyek percontohan yang sejalan dengan peta jalan ketahanan energi nasional. Apalagi, Pertamina secara nasional telah membangun 173 DEB yang tersebar di seluruh Indonesia, terdiri atas 146 DEB berbasis energi surya, 16 DEB gas metana dan biogas, 8 DEB mikrohidro, 2 DEB biodiesel, serta 1 DEB hibrida surya dan angin. Dengan potensi lokal dan kesiapan kelembagaan yang dimiliki, Desa Besakih dipandang sebagai lokomotif yang ideal untuk menunjukkan bagaimana kemandirian energi dapat berjalan beriringan dengan pelestarian hutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Program dan Kegiatan Pengembangan EBT di Desa Besakih
Sejak proses penguatan pondasi program dimulai pada 2023 melalui social mapping dan pembentukan kelompok pengelola di masyarakat, berbagai kegiatan pengembangan EBT telah diimplementasikan secara bertahap.
Infrastruktur Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Komponen paling konkret dari program DEB Besakih adalah pembangunan PLTS berkapasitas 6,6 kWp dengan baterai penyimpanan 20 kWh, yang diresmikan pada 11 Juli 2025. Energi bersih yang dihasilkan dimanfaatkan untuk mendukung operasional mesin ekstraktor madu otomatis serta menyediakan penerangan di kawasan wisata camping. Keberadaan PLTS ini diproyeksikan memberikan penghematan biaya listrik hingga Rp14 juta per tahun serta mendukung pengurangan emisi karbon sebesar 8,59 ton CO eq per tahun.
Reforestasi dan Penanaman Pohon Endemik. Program DEB tidak terbatas pada infrastruktur energi, tetapi mencakup pemulihan ekologis kawasan hutan. Hingga saat ini, tercatat 35.100 pohon telah berhasil ditanam melalui berbagai program penghijauan yang terintegrasi. Penanaman difokuskan pada pohon endemik yang mendukung keanekaragaman hayati dan berfungsi sebagai habitat bagi flora dan fauna lokal.
Pengembangan Ekowisata Berbasis EBT. Kawasan hutan dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi yang memperkenalkan konsep energi bersih kepada pengunjung. Lebih dari 2.000 wisatawan telah berkunjung untuk merasakan pengalaman wisata edukasi berbasis EBT. Selain itu, dibangun sarana edukasi berupa camping ground yang dilengkapi penerangan PLTS serta area yoga meditation bernama Surya Raditya Meditation yang memanfaatkan suasana alam yang sejuk dan jauh dari polusi udara.
Pengembangan Produk Hasil Hutan Non-Kayu. Energi dari PLTS digunakan untuk mengoperasikan ekstraktor madu otomatis yang meningkatkan efisiensi produksi madu hutan. LPHD Maha Wana Basuki mampu memanen 100 hingga 150 kg madu per tahun, dengan harga jual mencapai Rp500.000 per liter untuk madu kelanceng. Selain madu, dikembangkan pula produk-produk turunan berbasis hasil hutan non-kayu lainnya yang dikelola secara berkelanjutan.
Peningkatan Kapasitas dan Literasi Energi. Program ini juga menyasar aspek penguatan sumber daya manusia melalui pelatihan EBT yang diberikan kepada pelajar desa, bertujuan menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak usia dini. Tahun 2024 difokuskan untuk meningkatkan kapasitas warga melalui berbagai pelatihan, sementara tahun 2025 diarahkan pada pengembangan produk turunan berbasis energi terbarukan.
Peran Masing-masing Pemangku Kepentingan
Keberhasilan program DEB di Desa Besakih tidak terlepas dari sinergi multipihak yang melibatkan korporasi, pemerintah, masyarakat, dan lembaga pengelola hutan.
PT Pertamina (Persero) melalui Subholding Commercial & Trading, PT Pertamina Patra Niaga. Sebagai inisiator utama, Pertamina berperan dalam pendanaan, penyediaan infrastruktur PLTS, pendampingan teknis, serta pengembangan ekosistem program secara holistik. Integrated Terminal (IT) Manggis menjadi ujung tombak operasional pendampingan di lapangan. Vice President Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menyatakan bahwa pembangunan DEB disesuaikan dengan potensi sumber energi bersih serta kekuatan ekonomi masing-masing desa.
Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Maha Wana Basuki. LPHD yang diketuai I Nyoman Artana berperan sebagai mitra pelaksana utama di tingkat masyarakat. Tanggung jawabnya mencakup pengelolaan hutan desa secara lestari, penanaman pohon endemik, pengembangan produk madu, serta penataan kawasan wisata. LPHD juga bertindak sebagai local hero yang menjembatani nilai-nilai kultural (seperti Tri Hita Karana) dengan praktik pengelolaan EBT.
Pemerintah Daerah dan Instansi Teknis. Pemerintah Kabupaten Karangasem, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Bali, serta UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bali Timur memberikan dukungan regulasi, perizinan, dan supervisi teknis terkait pengelolaan hutan. Kolaborasi dengan Perhutani juga memperkuat aspek kelembagaan dalam pengelolaan kawasan hutan negara.
Masyarakat Desa Besakih. Peran masyarakat sebagai subjek utama program diwujudkan melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan penghijauan, pengelolaan ekowisata, produksi madu, serta partisipasi dalam pelatihan-pelatihan EBT. Secara langsung, program ini meningkatkan kesejahteraan 25 orang warga lokal yang aktif terlibat dalam kegiatan pengelolaan kawasan.
Hambatan dan Tantangan
Meskipun program DEB Besakih menunjukkan capaian positif, sejumlah hambatan dan tantangan perlu dicermati secara kritis.
Pertama, tantangan keberlanjutan pendanaan dan pemeliharaan infrastruktur. PLTS berkapasitas 6,6 kWp yang saat ini terpasang masih tergolong skala kecil untuk memenuhi seluruh kebutuhan energi masyarakat dan kegiatan produktif. Kapasitas baterai 20 kWh juga membatasi durasi penyimpanan energi. Apabila tidak disertai dengan mekanisme pendanaan berkelanjutan dari pemerintah daerah atau skema public-private partnership, risiko degradasi infrastruktur dalam jangka menengah cukup signifikan.
Kedua, ketergantungan pada korporasi dan risiko project-based trap. Program DEB hingga saat ini sangat bertumpu pada inisiatif dan pendanaan Pertamina. Jika terjadi perubahan prioritas korporasi atau berkurangnya alokasi dana Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), keberlanjutan program dapat terganggu. Diperlukan strategi exit yang jelas dengan transfer kepemilikan dan kapasitas pengelolaan secara penuh kepada masyarakat dan pemerintah daerah.
Ketiga, kesenjangan literasi energi dan kapasitas teknis masyarakat. Meskipun pelatihan EBT telah diberikan kepada pelajar dan masyarakat, kedalaman pemahaman teknis terkait operasi dan pemeliharaan (operation and maintenance) PLTS masih perlu ditingkatkan. Keterbatasan tenaga teknis lokal yang mampu menangani kerusakan sistem secara mandiri menjadi kendala klasik dalam proyek EBT pedesaan.
Keempat, tantangan pengembangan pasar produk hasil hutan non-kayu. Produksi madu hutan saat ini mencapai 100–150 kg per tahun dengan harga jual yang relatif tinggi (Rp500.000/liter. Namun, volume produksi yang terbatas dan fluktuasi musim panen menjadi kendala untuk mencapai skala ekonomi yang memadai. Sementara target pendapatan dari sektor pariwisata dan hasil hutan non-kayu mencapai Rp120–123 juta per bulan perlu didukung oleh strategi pemasaran yang lebih agresif dan diversifikasi produk.
Kelima, ancaman perubahan iklim dan potensi bencana alam. Letak geografis Desa Besakih di lereng Gunung Agung—gunung api aktif yang terakhir erupsi pada 2017—menempatkan kawasan ini pada risiko bencana vulkanik. Selain itu, perubahan pola curah hujan akibat perubahan iklim global dapat memengaruhi produktivitas tanaman endemik dan ketersediaan sumber daya air yang menopang ekosistem hutan. Sebagaimana diingatkan I Nyoman Artana, jika kawasan hulu tidak dipelihara dengan baik, potensi bencana alam di Bali akan meningkat.
Keenam, harmonisasi antara pengembangan wisata dan konservasi hutan. Pembangunan tujuh objek wisata di kawasan hutan rawan bencana (KRB III) perlu dikelola secara hati-hati agar tidak mengakibatkan degradasi lingkungan, erosi, atau gangguan terhadap habitat satwa liar. Risiko overtourism—terutama jika kunjungan wisatawan mencapai target 2.000 orang—dapat mengancam kelestarian hutan yang menjadi fondasi utama program.
Penutup
Program Desa Energi Berdikari di Desa Besakih merupakan model inovatif yang berhasil mengintegrasikan kemandirian energi berbasis EBT dengan pelestarian hutan, penguatan ekonomi lokal, dan revitalisasi kearifan budaya Tri Hita Karana. Keberhasilan awal yang ditunjukkan melalui penanaman 35.100 pohon, pemasangan PLTS 6,6 kWp, produksi madu 100–150 kg per tahun, serta peningkatan pendapatan masyarakat hingga Rp120 juta per bulan dari sektor ekowisata dan hasil hutan, menegaskan potensi besar pendekatan berbasis komunitas dalam transisi energi nasional. Namun, keberlanjutan program ke depan menghadapi tantangan serius, mulai dari keberlanjutan pendanaan, penguatan kapasitas teknis masyarakat, hingga mitigasi risiko perubahan iklim dan bencana alam. Diperlukan komitmen jangka panjang dari seluruh pemangku kepentingan—korporasi, pemerintah, masyarakat, dan akademisi—serta strategi adaptif yang tanggap terhadap dinamika lokal dan global, agar Desa Besakih tidak hanya menjadi lokomotif sesaat, tetapi benar-benar menjadi model lestari bagi desa-desa lain di Indonesia dalam mewujudkan kemandirian energi sekaligus pelestarian lingkungan.
Daftar Pustaka
1. Besakih, Rendang, Karangasem. (2023). Wikipedia bahasa Indonesia. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Besakih,_Rendang,_Karangasem
2. Desa Besakih. (2016). Kampung KB BKKBN. https://kampungkb.bkkbn.go.id
3. Manfaatkan Hutan Negara, Desa Besakih Bangun Objek Wisata. (2024, 24 Juli). NusaBali. https://www.nusabali.com/berita/65025/manfaatkan-hutan-negara-desa-besakih-bangun-objek-wisata/halaman/1
4. Diinisiasi Pertamina, DEB Besakih Kini Dilengkapi PLTS. (2025, 12 Juli). Denpost. https://www.denpost.id/bali/105515524129/diinisiasi-pertamina-deb-besakih-kini-dilengkapi-plts
5. Cara PPN Ajak Warga Desa di Bali Perkuat Ekonomi Daerah dan Mandiri Energi. (2025, 12 Juli). Liputan6. https://www.liputan6.com/on-off/read/6103410/cara-ppn-ajak-warga-desa-di-bali-perkuat-ekonomi-daerah-dan-mandiri-energi
6. Desa Energi Berdikari, Sinergi EBT dan Ekowisata. (2025, 15 Juli). IDXCarbon. http://idxcarbon.com/detail/63384/
7. DEB Besakih Bali, Pertamina Lestarikan Hutan Tingkatkan Kesejahteraan Dengan Energi Terbarukan. (2025, 11 Juli). tvOneNews. https://www.tvonenews.com/ekonomi/351656-deb-besakih-bali-pertamina-lestarikan-hutan-tingkatkan-kesejahteraan-dengan-energi-terbarukan?page=2
8. Kolaborasi Bersama Masyarakat, Pertamina Patra Niaga Kelola Desa Energi Berdikari. (2025, 12 Juli). Republika Online. https://esgnow.republika.co.id/berita/sz9r48522/kolaborasi-bersama-masyarakat-pertamina-patra-niaga-kelola-desa-energi-berdikari
9. Lestarikan Hutan dan Tingkatkan Kesejahteraan dengan Energi Terbarukan. (2025, 11 Juli). Petrominer. https://petrominer.com/lestarikan-hutan-dan-tingkatkan-kesejahteraan-dengan-energi-terbarukan/
10. Pengembangan Desa Energi Berdikari Sekaligus Dorong Ekonomi Masyarakat. (2025, 12 Juli). MetroTV News. https://www.metrotvnews.com/read/N4EC47zM-pengembangan-desa-energi-berdikari-sekaligus-dorong-ekonomi-masyarakat
11. Desa Energi Berdikari Hadir di Besakih, Dorong Mandiri Energi-Kesejahteraan. (2025, 14 Juli). detikFinance. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-8010503/desa-energi-berdikari-hadir-di-besakih-dorong-mandiri-energi-kesejahteraan
12. Program hutan lestari Pertamina hasilkan harmoni alam dan ekonomi rakyat. (2026, 22 Maret). ANTARA News Bali. https://bali.antaranews.com/berita/401682/program-hutan-lestari-pertamina-hasilkan-harmoni-alam-dan-ekonomi-rakyat
13. Proyek Pengolah Sampah di Pura Besakih Bali Diluncurkan. (2023, 9 November). MetroTV News. https://www.metrotvnews.com
14. Pertamina Patra Niaga kelola desa energi berdikari di Besakih Bali. (2025, 13 Juli). Antara News. https://m.antaranews.com
15. Trading, PT Pertamina Patra Niaga menginisiasi program Desa Energi Berdikari (DEB) di Desa Besakih. (2025, 14 Juli). Resources Asia. https://resourcesasia.id
16. Energi Terbarukan untuk Kemandirian Desa. (2025, 13 Juli). Aceh IDXCarbon. https://aceh.idxcarbon.com
17. District Rendang. (2018). Tourism Karangasem. https://tourism.karangasemkab.go.id
18. Data Umum – Pure Besakih. Architecture UNILA. https://architectureunila.blogspot.com
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
