Kontribusi Terhadap Peradaban
Edukasi | 2026-04-09 14:56:28Orang Tua, Guru, Pendidikan, dan Peradaban
Pendidikan merupakan salah satu pilar peradaban sebuah bangsa. Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk besar pada tahun 2050 diprediksi akan menempati peringkat ke-5 dunia, yakni setelah India, Tiongkok, Amerika Serikat, dan Pakistan, yang kelima negara ini merupakan The Top 5 Large Population Countries (Irawan, 2020).
Sumber daya manusia unggul dihasilkan dari sistem pendidikan yang baik. Pada tahun 2018, hasil Program for International Students Assessment (PISA) menunjukkan bahwa pada bidang membaca, sains, dan matematika, Indonesia berada pada peringkat 73 dari 79 negara peserta. Pada tahun 2022, hasil PISA Indonesia menunjukkan kenaikan 5 sampai 6 peringkat dibandingkan tahun 2018. Namun yang menjadi catatan, Indonesia mengalami penurunan skor pada kemampuan membaca, matematika, dan sains sebanyak 12-13 poin (Susanto, 2024.) Fakta tersebut menjadi ujian keluaran pendidikan di Indonesia yang setidaknya dalam kurun waktu tersebut hingga kini telah menggunakan tiga kurikulum nasional yang berbeda yaitu Kurikulum 2013, Kurikulum Merdeka, dan Deep Learning.
Kurikulum bisa saja terus berganti, begitupun guru. Namun jika ditanya, mana yang lebih penting, maka tentu jawabnya adalah guru. Kurikulum, sebaik apapun, tidak pernah bekerja sendiri. Kurikulum baru hidup ketika sang guru berhasil menerjemahkannya di dalam kelas. Lebih jauh lagi, sang guru hebat adalah ia yang mampu membuat kurikulum terejawantahkan dalam semua aspek kehidupan anak selepas ia keluar kelas.
Kini, makna guru menyempit. Dahulu, guru adalah orang yang hampir menguasai segala ilmu pengetahuan. Sebab guru yang semakin spesifik keilmuannya, anak menjadi terpengaruh dalam kotak-kotak pengetahuan. Memang ada baiknya menjadi semakin spesifik, meski tentu tidak selalu demikian karena dalam sekolah kehidupan yang berlangsung sepanjang hayat, diri kita selalu diuji yang menuntut berbagai kombinasi level pengetahuan dan pengalaman yang bahkan tidak pernah kita pelajari di sekolah.
Untuk siap menerima asupan pengalaman belajar di sekolah yang jauh lebih kompleks, seyogyanya seorang anak telah mendapatkan pendidikan awal yang baik di rumah. Sejatinya, orang tualah yang menjadi sekolah pertama (madrasatul ‘ula) sekaligus sekolah terbesar (madrasatul kubra) bagi anak. Sebab, teringat sebuah kalimat dari William Wordsworth (1802), the child is the father of the man; apa yang didapat anak saat kecil, itulah cerminan yang akan terjadi saat ia dewasa. Jika semua anak mendapatkan pendidikan awal yang baik di rumah lalu dilanjutkan dengan menaikkan levelnya dengan pengalaman belajar langsung di sekolah, maka secara tidak langsung kita telah berhasil menciptakan bibit unggul bagi peradaban bangsa ini. Cita-cita besar Indonesia Emas 2045 bukanlah utopia. Inilah mengapa, orang tua, guru dan pendidikan memegang peranan yang teramat penting bagi peradaban.
Memahami Anak Seutuhnya: Pendidikan Agama, Entropi, dan Regulasi Diri
Agama tanpa ilmu adalah buta, ilmu tanpa agama adalah lumpuh. Moralitas linear yang kita pahami selama ini, contohnya seperti jika kita berbuat baik dalam hidup maka tentunya hal baik akan datang sebagai imbalan, seringkali diuji oleh kenyataan moralitas kontekstual/reflektif yang dipengaruhi berbagai variabel lain seperti adanya pertimbangan niat, dampak, dan situasi sehingga hasilnya terkadang dirasa tidak adil.
Dalam kehidupan, anak harus paham bahwa apa yang dipelajari di rumah maupun di sekolah tidak selamanya memberikan hasil yang sama persis dengan harapan. Anak harus tahu adanya entitas bernama entropi, yaitu ketidakaturan, ketidakpastian, atau keacakan dalam suatu sistem. Moralitas linear dalam hitam putih jika terbumbui entropi bisa berwarna abu-abu jika dilihat dari teropong moralitas kontekstual/reflektif. Begitulah realitas hidup.
Pada titik inilah pendidikan agama berperan. Agama menjelma sebagai sistem makna, nilai, dan regulasi diri yang membantu anak mengurangi entropi psikologis melalui pemberian rasa kepastian, tujuan hidup, serta mekanisme coping with spiritual sehingga mendukung stabilitas emosional, kesejahteraan psikologis, efektivitas fungsi belajar, dan stimulus untuk menjalani kehidupan dengan tangguh.
Untuk mencapai derajat kemampuan di atas, anak harus dipahami secara utuh dan menyeluruh. Anak harus disiapkan untuk mampu menghadapi masa depan mereka sendiri. Pemahaman dan persiapan terhadap mereka harus menyentuh berbagai aspek, yaitu bagaimana agar mereka terlatih dalam olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga. Pemahaman yang tidak utuh terhadap mereka berdampak pada hasil yang juga tidak utuh. Dampaknya, tentu kita tidak mau menambah panjang deretan fakta-fakta di masyarakat kita saat ini terkait pertarungan antara masyarakat madani (civil society) sebagai hasil pendidikan yang holistik dengan masyarakat yang sakit sebagai hasil pendidikan yang gagal yang jumlahnya terus mengikuti pola pertumbuhan eksponensial.
Lantas, Mau Dididik Seperti Apa Anak Kita?
Jawaban idealnya, anak perlu dididik sesuai zamannya. Keseimbangan itulah kuncinya. Keseimbangan untuk terus membangun kompetensi (build competencies) dan tanpa lelah beradaptasi sesuai tuntutan zaman (stay relevant). Lebih jauh lagi, untuk mengasah mental siap bersaing, soft-skills yang dibutuhkan anak tertuang dalam 21st Century Skills yang terdiri atas kemampuan: 1. Critical Thinking; 2. Collaboration; 3. Communication; 4. Creativity; 5. Competence; 6. Confidence. Bahkan saat ini, semua kemampuan tersebut perlu dipadukan dengan kemampuan teknologi, terlebih dengan kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang tidak bisa terelakkan. Stay relevant and build competencies. Bekali anak dengan memperdalam berbagai ilmu pengetahuan dan keahlian, hiasi dengan soft-skills mumpuni, lalu seimbangkan dengan kecerdasan spiritual sehingga potensi mereka menjadi aktual di mana pun mereka berada.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
