Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Griselda Ananda Widagdo

Menanam Waktu: Ketika Pendidikan Kembali ke Rumah

Eduaksi | 2026-01-23 21:32:43

Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, pendidikan sering dipahami sebatas proses formal di ruang kelas. Padahal, persoalan mendasar pendidikan hari ini justru terletak pada krisis nilai dan karakter yang kian terasa dalam kehidupan generasi muda. Di sinilah keluarga kembali dipandang sebagai ruang awal dan paling menentukan dalam proses pendidikan.

Kesadaran tersebut menjadi latar lahirnya buku Menanam Waktu: Ikhtiar Nilai untuk Generasi Penerus Nusantara. Buku ini tidak lahir dari ruang akademik semata, melainkan dari refleksi personal seorang ayah yang melihat pentingnya menanam nilai sejak dini melalui kehidupan keluarga sehari-hari.

Gagasan yang dituangkan dalam buku ini berangkat dari kegelisahan atas realitas pendidikan modern yang kerap menempatkan sekolah sebagai pusat utama pembentukan karakter, sementara peran keluarga perlahan terpinggirkan. Padahal, nilai, keteladanan, dan kebiasaan hidup justru pertama kali tumbuh dari rumah.

Dalam proses menghadirkan gagasan tersebut ke ruang publik, bersama Historie Media, Masduki Asbari menyajikan pemikiran dan refleksinya agar dapat diakses oleh masyarakat yang lebih luas. Historie Media berperan membantu publikasi pemikiran penulis, sehingga gagasan tentang pendidikan keluarga tidak berhenti sebagai catatan personal, tetapi hadir sebagai wacana yang relevan dan dapat didiskusikan bersama.

Melalui peran media tersebut, buku Menanam Waktu menjembatani ilmu dan nilai yang dituangkan penulis agar dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Historie Media turut menjadi penghubung antara pemikiran penulis dengan pembaca, memperluas jangkauan literasi nilai pendidikan keluarga melalui medium buku.

Sejalan dengan itu, Masduki Asbari menegaskan bahwa pendidikan sejatinya bukan proses instan, melainkan perjalanan panjang yang ditanamkan melalui waktu dan keteladanan.

“Pendidikan sesungguhnya bukan dimulai dari ruang kelas, tetapi dari pilihan-pilihan kecil yang ditanamkan dalam keluarga setiap hari,” ungkapnya.

Buku ini tidak menawarkan konsep pendidikan yang teknis dan kaku. Sebaliknya, Menanam Waktu mengajak pembaca melihat kembali makna mendidik sebagai proses menanam perlahan, konsisten, dan penuh kesadaran. Nilai iman, akhlak, dan tanggung jawab sosial dipahami sebagai benih yang tumbuh melalui keterlibatan orang tua dalam kehidupan anak.

“Menanam nilai adalah pekerjaan jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi dampaknya menentukan masa depan,” tambah Masduki.

Melalui refleksi yang sederhana namun mendalam, Menanam Waktu hadir sebagai pengingat bahwa masa depan generasi bangsa dibentuk dari ruang terkecil bernama keluarga. Dengan dukungan peran media sebagai jembatan gagasan, nilai-nilai yang ditawarkan buku ini diharapkan dapat terus menjangkau dan menginspirasi masyarakat luas.

Dr. H. Masduki Asbari menunjukkan bukunya, Menanam Waktu: Ikhtiar Nilai untuk Generasi Penerus Nusantara, yang lahir dari refleksi pendidikan keluarga.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image