Dialektika Pertemuan
Ekspresi | 2026-02-18 00:09:36Berbeda dengan makhluk hidup lainnya yang bergerak berdasarkan insting dominan, manusia diciptakan dengan kompleksitas perasaan yang mendalam. Perasaan bukan sekadar respons biologis terhadap stimulus lingkungan, melainkan sebuah distingsi atau garis pembeda yang memberikan nilai "istimewa" pada eksistensi manusia. Namun, keistimewaan ini sering kali menjadi beban ketika individu tidak mampu mengelola dan memaknai kehadirannya secara bijak. Memiliki perasaan berarti memiliki tanggung jawab untuk menggunakannya sebagai instrumen pertumbuhan, bukan sebagai alasan untuk terpuruk.
Struktur perasaan seseorang tidak tumbuh dalam ruang hampa ia terbentuk dari akumulasi pertemuan, pengamatan, dan interaksi sosial. Dalam dinamika kehidupan, sering kali muncul paradoks yang sulit diterima: mengapa pribadi berhati lembut sering kali dipertemukan dengan situasi atau individu yang kurang baik?
Secara analitis, fenomena ini bukanlah bentuk ketidakadilan semesta, melainkan sebuah mekanisme untuk membuka cakrawala perspektif. Pertemuan dengan aspek-aspek "ketidakbaikan" berfungsi sebagai katalis untuk menguji ketajaman respon dan kedalaman batin. Melalui gesekan emosional inilah, manusia belajar untuk tidak hanya memandang dunia secara hitam-putih, tetapi mampu merespons setiap tindakan luar dengan kebijaksanaan yang lebih matang. Di sinilah letak syukur yang paling tinggi ketika kita mampu memaknai setiap pertemuan sebagai kurikulum untuk memperkaya jiwa.
Seseorang sering kali terjebak dalam rasa bersalah atau keinginan untuk meminta maaf atas perasaan yang muncul saat merespons kejadian masa lalu. Padahal, perasaan tersebut adalah bukti empiris bahwa sebuah kenangan memang memiliki harga. Selama perasaan itu tetap ada, kenangan tersebut tetap hidup sebagai bagian dari sejarah diri yang tidak perlu dihapuskan.
Perasaan berfungsi sebagai saksi hidup bahwa individu telah berhasil melintasi berbagai masa sulit. Struktur kepribadian, sifat, dan keteguhan seseorang saat ini adalah hasil kristalisasi dari berbagai perasaan yang diizinkan untuk masuk dan diproses di dalam batin. Tanpa adanya proses emosional tersebut, manusia hanyalah entitas kosong tanpa karakter.
Hak penuh atas diri sendiri dimulai dengan memberikan validasi terhadap perasaan yang muncul. Mencintai diri sendiri berarti memberikan ruang bagi kebahagiaan untuk dinikmati dan memberikan waktu bagi kesedihan untuk dirasakan hingga tuntas. Perasaan tidak untuk dihindari, direpresi, apalagi dikerdilkan.
Kumpulan perasaan yang pernah dialami akan membentuk filter dalam diri terhadap orang-orang baru yang masuk ke dalam kehidupan. Pada akhirnya, manusia memiliki kedaulatan untuk memilih: apakah akan meneruskan pola luka yang pernah ia terima dari orang lain, atau bertransformasi menjadi pribadi yang mampu memutus rantai rasa sakit tersebut. Menjadi pribadi yang tetap memilih untuk baik meskipun pernah disakiti adalah puncak tertinggi dari kedaulatan perasaan. Perasaan adalah kunci utama kehidupan sosial; ia adalah sirkulasi cinta yang harus terus didistribusikan agar kemanusiaan tetap memiliki maknanya.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
