Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Sebi Daily

Gen Z dan Parenting: Membangun Pola Asuh Sehat Tanpa Sikap Narsistik

Eduaksi | 2026-03-07 22:25:05
Ilustrasi menarik sebuah keluarga. Foto: Rutkowski/Pexels.

OIeh: Kahla Hanifah Fitriadi_Mahasiswa Institut SEBI.

Keluarga merupakan lingkungan pertama bagi seorang anak untuk belajar tentang kehidupan, emosi, serta cara berinteraksi dengan orang lain. Cara orang tua mendidik dan memperlakukan anak memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan kepribadian, rasa percaya diri, serta kesehatan mental anak. Oleh karena itu, pola asuh yang diterapkan dalam keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam membentuk generasi yang sehat secara emosional maupun sosial.

Di era Generasi Z saat ini, kesadaran mengenai kesehatan mental dan hubungan keluarga yang sehat mulai semakin meningkat. Banyak remaja mulai memahami bahwa tidak semua pola asuh yang alami di masa kecil merupakan pola asuh yang ideal. Salah satu bentuk pola asuh yang kini semakin banyak dibahas adalah pola asuh yang dipengaruhi oleh sikap narsistik pada orang tua.

Orang tua yang memiliki kecenderungan narsistik sering kali menempatkan kebutuhan, ego, serta citra diri mereka di atas kebutuhan anak. Dalam kondisi seperti ini, anak tidak selalu dipandang sebagai individu yang memiliki perasaan dan keinginan sendiri, melainkan sebagai bagian dari pencapaian atau gambaran diri orang tua. Oleh karena itu, penting bagi generasi Z untuk memahami konsep parenting yang sehat sejak dini agar di masa depan mereka dapat membangun keluarga yang lebih sehat dan tidak kembali pola asuh yang merugikan anak.

Mengenal Sikap Narsistik dalam Parenting

Sikap narsistik dalam parenting merujuk pada perilaku orang tua yang terlalu fokus pada diri sendiri, kebutuhan pribadi, serta citra mereka di hadapan orang lain. Dalam pola asuh seperti ini, anak sering kali diperlakukan sebagai alat untuk memenuhi harapan atau kebanggaan orang tua.

Orang tua yang memiliki kecenderungan narsistik biasanya sangat menuntut anak untuk meraih prestasi sesuai dengan standar yang mereka inginkan. Keberhasilan anak sering kali dianggap sebagai bukti keberhasilan mereka sebagai orang tua, sementara kegagalan anak dapat dianggap sebagai sesuatu yang mengancam.

Selain itu, orang tua narsistik sering kali sulit menerima perbedaan pendapat dari anak. Ketika anak mencoba mengungkapkan perasaan atau mengabaikannya, orang tua mungkin meremehkannya atau bahkan menganggap anak tidak menghormatinya. Kondisi ini dapat membuat anak merasa bahwa mereka tidak dihargai.

Dalam jangka panjang, pola asuh seperti ini dapat membuat anak merasa tertekan dan kehilangan kebebasan untuk menjadi diri sendiri.

Kebiasaan Membandingkan Anak sebagai Bentuk Pola Asuh yang Tidak Sehat

Salah satu perilaku yang sering muncul dalam parenting yang kurang sehat adalah kebiasaan anak membandingkan dengan orang lain. Perbandingan ini bisa terjadi dengan saudara kandung, teman sebaya, atau bahkan dengan pengalaman masa kecil orang tua.

Kalimat seperti “teman kamu bisa mendapatkan nilai lebih tinggi,” “kakakmu dulu tidak seperti kamu,” atau “kalau zaman umi dulu tidak berani seperti itu kepada orang tua” sering kali diucapkan tanpa disadari dapat melukai perasaan anak. Meskipun tujuan orang tua mungkin untuk memotivasi, perbandingan seperti ini justru dapat membuat anak merasa tidak cukup baik.

Pada orang tua yang memiliki kecenderungan narsistik, perbandingan sering kali dilakukan untuk menjaga citra diri mereka di hadapan lingkungan sosial. Anak diharapkan mampu menunjukkan prestasi tertentu agar orang tua dapat merasa bangga di depan orang lain.

Padahal, setiap anak memiliki kemampuan, minat, serta proses perkembangan yang berbeda-beda. Pola asuh yang sehat seharusnya membantu anak mengenali potensi dirinya sendiri, bukan memaksanya untuk menjadi seperti orang lain.

Dampak Parenting Narsistik terhadap Anak

Pola asuh yang dipengaruhi oleh sikap narsistik dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap perkembangan anak. Salah satu dampak yang sering muncul adalah rendahnya rasa percaya diri. Anak yang terus-menerus merasa tidak cukup baik akan kesulitan untuk menghargai dirinya sendiri.

Selain itu, anak juga dapat mengalami tekanan emosional karena merasa harus selalu memenuhi harapan orang tua. Mereka mungkin merasa takut melakukan kesalahan karena khawatir mengecewakan orang tua atau mendapatkan kritik yang berlebihan.

Dalam beberapa kasus, anak yang tumbuh dalam lingkungan parenting narsistik juga dapat mengalami kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat dengan orang lain. Hal ini terjadi karena mereka terbiasa hidup dalam hubungan yang penuh tuntutan dan kekurangan empati.

Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk menyadari bahwa pola asuh seperti ini dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap perkembangan emosional anak.

Peran Generasi Z dalam Membangun Parenting yang Lebih Sehat

Generasi Z memiliki kesempatan besar untuk membangun pola pengasuhan yang lebih baik di masa depan. Dengan akses informasi yang luas serta meningkatnya kesadaran tentang kesehatan mental, generasi ini memiliki peluang untuk mempelajari berbagai konsep parenting yang lebih sehat dan penuh empati.

Belajar tentang parenting sejak usia remaja dapat membantu seseorang memahami bahwa anak bukanlah alat untuk memenuhi ambisi orang tua. Anak adalah individu yang memiliki perasaan, potensi, serta jalan hidupnya sendiri.

Orang tua yang baik tidak hanya menuntut anak untuk berprestasi, tetapi juga memberikan dukungan, pengertian, serta ruang bagi anak untuk berkembang sesuai dengan dirinya. Dengan pola asuh yang sehat, anak akan tumbuh dengan rasa percaya diri yang lebih kuat serta kemampuan membangun hubungan yang baik dengan orang lain.

Oleh karena itu, penting bagi generasi Z untuk mulai memahami konsep parenting yang sehat sejak dini. Membangun pola asuh yang sehat berarti memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh menjadi individu yang unik, dihargai, serta didukung dalam setiap proses perkembangannya. Dengan demikian, generasi mendatang dapat tumbuh dalam lingkungan keluarga yang lebih harmonis, penuh empati, dan sehat secara emosional.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image