Ketika Perempuan Dijadikan Dagangan
Agama | 2026-05-20 08:04:19Coba bayangkan seorang ibu muda. Ia bangun subuh, menyiapkan sarapan anak-anaknya, lalu bergegas ke kantor agar tidak kena potong gaji karena terlambat. Pulang sore, ia masih harus memasak, membereskan rumah, menemani anak belajar. Malamnya, ia rebahan kelelahan — tapi di media sosial, ada iklan skin care yang berkata, "Kamu harus tetap cantik dan produktif!"
Itulah wajah nyata perempuan di bawah sistem kapitalisme hari ini. Ia dipaksa untuk menjadi segalanya — ibu, karyawan, konsumen — tanpa pernah benar-benar dilindungi oleh sistem yang mengklaimnya "sudah setara."
"Perempuan tidak butuh dibebaskan ala kapitalisme, yang justru mengeksploitasi. Perempuan butuh sistem yang memuliakan."
— Perspektif Islam Kaffah
Kapitalisme dan Ilusi Kebebasan Perempuan
Kapitalisme datang dengan narasi yang tampak mulia: kesetaraan gender, emansipasi perempuan, hak untuk bekerja dan mandiri. Tapi kalau kita perhatikan lebih dalam, ada yang janggal.
Di balik slogan "perempuan berdaya," sistem ini justru membutuhkan perempuan untuk bekerja — bukan demi martabatnya, tapi demi roda produksi yang harus terus berputar. Pabrik butuh buruh murah. Industri fashion butuh konsumen yang tidak pernah puas. Iklan butuh tubuh perempuan untuk menjual produk.
Kebebasan yang ditawarkan kapitalisme ternyata bukan kebebasan sejati. Itu hanya perpindahan dari satu penjara ke penjara lain — dari tekanan patriarki feodal, ke tekanan pasar yang tak pernah kenyang.
Fakta yang sering diabaikan
Di negara-negara kapitalis maju sekalipun, perempuan rata-rata masih mendapat upah lebih rendah dari laki-laki untuk pekerjaan yang sama. Beban kerja domestik pun masih dominan ditanggung perempuan — meski ia sudah bekerja penuh delapan jam di luar rumah.
Tiga Wajah Nestapa yang Tersembunyi
Ada tiga bentuk penderitaan perempuan dalam kapitalisme yang sering kita anggap "biasa" padahal sebetulnya tidak normal sama sekali:
Pertama, beban ganda (double burden). Perempuan dituntut produktif secara ekonomi di luar rumah, sekaligus tetap bertanggung jawab penuh atas urusan domestik. Tidak ada sistem yang meringankan. Tidak ada nafkah yang dijamin negara. Kalau lelah, salahnya sendiri karena tidak bisa "manage waktu."
Kedua, komodifikasi tubuh. Industri kecantikan, hiburan, dan periklanan mengubah tubuh perempuan menjadi alat jualan. Standar kecantikan yang mustahil diciptakan bukan untuk memuliakan, tapi untuk memastikan perempuan terus membeli produk demi mengejar standar itu.
Ketiga, kekerasan yang diprivatisasi. Kasus kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan di tempat kerja, dan eksploitasi seksual sering dianggap "urusan pribadi" — bukan kegagalan sistem. Padahal akar masalahnya justru ada di cara sistem ini memandang perempuan: sebagai objek, bukan manusia bermartabat.
Apa Kata Islam Kaffah?
Islam kaffah — artinya Islam yang diterapkan secara menyeluruh, bukan setengah-setengah — tidak hanya bicara soal akhlak perempuan. Islam bicara soal sistem yang melindungi perempuan dari level paling bawah hingga paling atas.
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ
"Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam..." — QS. Al-Isra: 70
Pemuliaan ini bukan sekadar kalimat indah. Ia tercermin dalam aturan-aturan konkret yang dirancang untuk menjaga martabat perempuan dalam setiap dimensi kehidupan.
Dalam Islam, laki-laki diwajibkan menanggung nafkah — ini bukan "kebaikan hati," ini kewajiban syar'i yang bisa diminta pertanggungjawabannya. Perempuan boleh bekerja, tapi tidak diwajibkan menafkahi siapa pun. Artinya, ia punya pilihan yang sesungguhnya — bukan pilihan semu yang ujungnya memaksa ia menanggung segalanya sendiri.
Satu hal yang sering disalahpahami: Islam kaffah tidak hanya meminta setiap individu "jadi baik." Islam menuntut negara hadir sebagai pelindung nyata.
Dalam konsep Islam, negara — yang menerapkan syariah secara menyeluruh — wajib memastikan bahwa setiap perempuan yang tidak memiliki wali yang mampu, kebutuhannya ditanggung oleh kas negara (Baitul Mal). Hukum yang melindungi kehormatan perempuan bukan sekadar imbauan, tapi ditegakkan secara struktural.
Ini berbeda jauh dengan solusi kapitalisme yang mengandalkan regulasi yang mudah dilobi, dilanggar, dan diubah sesuai kepentingan modal.
"Masalahnya sistemik. Maka solusinya pun harus sistemik — bukan sekadar kampanye kesadaran atau undang-undang yang setengah hati."
Feminisme Liberal: Kawan atau Perangkap?
Perlu diakui, banyak pejuang hak perempuan yang tulus ingin mengakhiri penindasan. Tapi ketika solusi yang ditawarkan tetap berada dalam kerangka kapitalisme-liberal, hasilnya sering hanya memindahkan beban, bukan menghapusnya.
Perempuan boleh menjadi CEO — tapi jutaan perempuan lain masih jadi buruh pabrik dengan upah minimum. Perempuan boleh tampil di majalah bisnis — tapi tubuh perempuan masih dipakai menjual bir di papan reklame. "Kemenangan" yang dirayakan sering hanya menyentuh segelintir orang, sementara akar eksploitasi tetap utuh.
Islam kaffah menawarkan sesuatu yang berbeda: bukan sekadar memberikan perempuan kursi di meja kekuasaan kapitalisme, tapi mengganti mejanya sama sekali.
Nestapa perempuan bukan takdir yang harus diterima. Ia adalah buah dari sistem yang salah. Dan seperti pohon yang berbuah pahit — solusinya bukan memoles buahnya, tapi mencabut pohonnya, lalu menanam yang baru. Islam kaffah menawarkan benih itu: sebuah sistem yang lahir dari wahyu, bukan dari kepentingan modal.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
