Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Abdul hadi tamba

Kalimah La Ilaha Illallah

Agama | 2026-05-20 05:07:52

Abdul Hadi tamba.

Kalimah La ilaha Illallah.

Dalam pandangan kami kalimat La ilaha illallah bukan sekedar ucapan lisan atau pengakuan tauhid dasar, melainkan tangga spiritual tertinggi menuju ma'rifatullah (mengenal Allah).

Kalimat ini menjadi sarana fana' (meleburkan ego/diri) untuk mencapai baqa' (kekal bersama Allah), memusatkan cinta hanya kepada-Nya.

Berikut adalah ulasan kami mengenai kedudukan kalimat agung ini dari sudut pandang kami dan dalil-dalilnya, serta fatwa para ulama muktabar nya :

Hakikat La ilaha illallah dalam pandangan kami

Dalam khazanah sufisme, kalimat tauhid ini dipahami melalui beberapa tingkatan penghayatan:

Tahap Syariat (La ilaha illallah):

Memahami bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.

Menolak segala bentuk penyembahan kepada materi dan makhluk.

Tahap Hakikat (La ilaha illa Huwa):

Kesadaran bahwa tidak ada yang "benar-benar wujud/ada" secara mutlak melainkan Allah.

Segala sesuatu selain-Nya hanyalah bayangan wujud dari Sang Pencipta.

Tahap Makrifat / Ma'rifah (La ilaha illa Ana):

Puncak kesadaran spiritual di mana seorang melihat kehadiran dan kebesaran Allah di setiap pandangan, menafikan selain-Nya dari lubuk hati terdalam.

Sumber Dalil Al-Qur'an.

Di dalam Al-Qur'an, kalimat ini menjadi inti ajaran tauhid yang diserukan oleh seluruh nabi.

Ayat-ayat yang menjadi landasan utama pandangan kami antara lain:

Surah Muhammad Ayat 19:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَآ إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ

Artinya: "Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah."

Sisi tasawuf:

Ayat ini diawali dengan perintah fa'lam (ketahuilah/ilmuilah), yang menunjukkan bahwa tauhid harus dicapai melalui keyakinan batin yang mendalam, bukan sekedar ikut-ikutan.

Surah Al-Qashash Ayat 88:

لَآ إِلٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ

Artinya: "...Tidak ada Tuhan selain Dia.

Segala sesuatu pasti binasa, kecuali wajah-Nya."

Sisi pandangan kami Menjadi dalil utama konsep fana'.

Segala ciptaan akan musnah, yang tersisa dan abadi hanyalah Allah.

Hadis Pendukung

Rasulullah bersabda mengenai keutamaan dan hakikat kalimat ini yang sering dijadikan dasar oleh para ahli sufi:

Tentang Zikir Terbaik (HR. At-Tirmidzi):

"Sebaik-baik zikir adalah La ilaha illallah, dan sebaik-baik doa adalah istighfar."

Tentang Kunci Surga dan Husnul Khatimah (HR. Abu Dawud):

"Barang siapa yang akhir ucapannya La ilaha illallah, niscaya ia masuk surga."

Tentang Pembaharuan Iman (HR. Ahmad):

"Perbaruilah iman kalian." Sahabat bertanya, "Bagaimana kami memperbarui iman kami, ya Rasulullah ?

Beliau bersabda, "Perbanyaklah mengucapkan La ilaha illallah."

Fatwa dan Pandangan Ulama Muktabar

Ulama-ulama (ahli hakikat) memberikan pandangan mendalam mengenai amalan dan makna kalimat ini:

Imam Al-Ghazali (dalam kitab Ihya' 'Ulumuddin):

Beliau membagi tauhid menjadi empat tingkatan.

Tingkatan tertinggi adalah tauhidnya orang-orang khawwash (pilihan), yakni memandang bahwa tidak ada wujud di alam semesta ini selain Allah (tauhid wujudiyah).

Bagi mereka, La ilaha illallah bermakna tiada yang maujud (ada) secara hakiki kecuali Allah.

Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani (Sultan Auliya):

Dalam ajarannya, zikir La ilaha illallah adalah obat bagi hati yang sakit.

Beliau menekankan bahwa zikir ini harus dilakukan dengan lisan, kemudian diteruskan ke dalam hati hingga qalbu bergetar dan senantiasa mengingat Allah (dzikrullah), mematikan hawa nafsu dan kecintaan pada dunia (hubbud dunya).

Ibnu Arabi (Bapak Tasawuf Falsafi):

Menafsirkan bahwa kalimat tauhid adalah penegasan atas Keesaan Mutlak.

Tiada Tuhan, tiada wujud, dan tiada kebenaran selain Dia.

Alam semesta ini laksana bayang-bayang dari Zat Yang Maha Tunggal (Wahdatul Wujud).

Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani (Ulama Nusantara/Syafi'iyyah):

Dalam kitab Kasyifatus Saja, beliau menegaskan bahwa kalimat La ilaha illallah adalah kalimat yang paling dicintai Allah, yang menghapuskan dosa dan membersihkan kotoran hati (penyakit rohani) apabila diucapkan dengan penghayatan dan pemaknaan yang benar.

Dengan demikian, dalam perspektif kami, La ilaha illallah adalah kunci pembuka hijab antara hamba dan Tuhannya.

Kalimat ini membersihkan hati dari segala bentuk kesyirikan terselubung (seperti cinta dunia, takut selain Allah, dan bergantung pada makhluk) hingga tercapai kesucian jiwa.

Kalimah La ilaha Illallah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image