Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image NURYAH AFRINA

Hari Ini Belajarnya Beda, Ya Bu?

Eduaksi | 2026-05-20 18:52:27

Dulu saya sering merasa bingung.

Kenapa setiap kali pelajaran dimulai, tidak semua anak benar-benar terlihat siap untuk belajar. Baru beberapa menit saya menjelaskan, sudah ada yang melamun sambil menopang dagu. Ada yang sibuk memainkan pensil. Ada yang lebih sering melihat keluar jendela daripada melihat buku pelajaran. Bahkan ada yang berkali-kali menoleh ke jam dinding, seolah berharap waktu istirahat datang lebih cepat.

Awalnya saya berpikir mungkin mereka memang sulit fokus.

Namun semakin lama mengajar, saya mulai sadar mungkin masalahnya bukan karena anak-anak tidak suka belajar.

Mungkin mereka hanya lelah dengan cara belajar yang terasa sama setiap hari.

Duduk terlalu lama.

Mendengar terlalu lama.

Mencatat terlalu banyak.

Padahal dunia anak-anak sebenarnya penuh rasa ingin tahu. Mereka suka bergerak, mencoba, bertanya, bermain, dan melihat sesuatu secara langsung.

Dan tanpa sadar, mungkin selama ini saya terlalu sering meminta mereka belajar dengan cara yang jauh dari dunia mereka sendiri.

Sampai akhirnya saya mulai mencoba mengubah sedikit demi sedikit suasana belajar di kelas.

Bukan sesuatu yang langsung besar atau sempurna.

Saya hanya mencoba membuat anak-anak merasa lebih terlibat saat belajar.

Salah satu pengalaman yang paling saya ingat adalah ketika kami belajar langsung ke Pasar Kayu Besi.

Hari itu suasana mereka benar-benar berbeda.

Sebelum berangkat, saya membagi mereka menjadi beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok yang bertugas mengamati proses jual beli, ada yang mewawancarai penjual dan pembeli, dan ada juga yang bertugas berbelanja sesuai daftar kebutuhan kelompoknya.

Awalnya saya sempat khawatir mereka akan malu bertanya kepada orang lain.

Namun sesampainya di pasar, rasa penasaran mereka ternyata jauh lebih besar daripada rasa malu itu.

“Bu, kami boleh wawancara sekarang ya?”

“Bu, ternyata harga cabai beda-beda.”

“Bu, kelompok kami mau belanja sesuai kesepakatan dulu ya.”

Anak-anak yang biasanya sulit fokus di kelas justru berjalan penuh semangat. Mereka sibuk mencatat hasil pengamatan, memperhatikan cara pedagang menawarkan barang, bahkan ada yang serius menghitung pengeluaran kelompok agar uang belanjanya cukup.

Saya masih ingat ada seorang siswa yang awalnya pendiam, tetapi hari itu memberanikan diri bertanya kepada seorang penjual sayur.

“Pak, kalau jualan dari pagi capek nggak?”

Pertanyaan sederhana itu membuat penjual tersebut tersenyum sambil menjawab panjang lebar. Dan anak-anak mendengarkannya dengan serius.

Saat itu saya sadar, kadang anak-anak bukan tidak mau belajar.

Mereka hanya ingin belajar sesuatu yang terasa nyata bagi mereka.

Saya juga pernah mencoba menggabungkan pelajaran Bahasa Indonesia tentang sebab dan akibat dengan kegiatan “berbelanja cerdas”.

Hari itu saya mengubah sudut kelas menjadi warung kecil sederhana. Saya berpura-pura menjadi penjual makanan, sementara anak-anak dibagi menjadi beberapa kelompok pembeli.

Di setiap makanan yang mereka beli, ternyata terdapat soal dan tantangan yang harus mereka selesaikan bersama.

Jujur, awalnya saya cukup khawatir.

Saya membayangkan kelas akan terlalu ramai dan sulit dikendalikan.

Namun ternyata yang terjadi justru sebaliknya.

Anak-anak yang biasanya diam mulai aktif berdiskusi.

Mereka sibuk menghitung uang belanja, membaca soal bersama, saling membantu menjawab pertanyaan, bahkan tertawa ketika ada kelompok yang salah menghitung.

Kelas yang biasanya terasa sunyi mendadak penuh cerita.

Di akhir pelajaran, ada seorang siswa berkata sambil tersenyum,

“Bu, ternyata belajar bisa kayak main ya.”

Kalimat sederhana itu membuat saya terdiam beberapa saat.

Karena sebenarnya itulah yang ingin saya hadirkan di kelas.

Saya ingin anak-anak merasa bahwa belajar bukan sesuatu yang menegangkan.

Bahwa belajar bisa terasa dekat, menyenangkan, dan membuat mereka penasaran.

Tidak hanya itu, saya juga pernah mengajak mereka membuat miniatur kenampakan alam menggunakan bahan-bahan sederhana yang ada di sekitar.

Meja kelas penuh kardus bekas, lem, cat warna, dan potongan-potongan kecil hasil kreativitas mereka.

Memang kelas menjadi lebih ramai dari biasanya.

Kadang ada lem yang tumpah.

Ada kelompok yang sibuk berdebat menentukan bentuk gunung.

Ada juga miniatur yang hampir rusak sebelum selesai dibuat.

Namun di balik keramaian itu, saya melihat sesuatu yang jarang muncul ketika pembelajaran hanya berlangsung satu arah.

Anak-anak mulai benar-benar terlibat.

Mereka belajar bekerja sama.

Belajar menyampaikan pendapat.

Belajar memecahkan masalah.

Dan tanpa sadar, mereka juga sedang memahami materi pelajaran dengan lebih mendalam.

Saya juga merasakan bagaimana lingkungan belajar yang nyaman ternyata sangat memengaruhi semangat anak-anak.

Pada tahun 2025, sekolah kami mendapatkan bantuan revitalisasi sekolah. Ruang kelas menjadi lebih nyaman, lebih rapi, dan lebih mendukung kegiatan belajar anak-anak.

Sekolah kami juga mendapatkan bantuan papan interaktif digital yang membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan interaktif.

Perubahan itu mungkin terlihat sederhana bagi orang lain.

Namun bagi anak-anak, ruang belajar yang nyaman membuat mereka lebih betah berada di kelas.

Bagi guru, fasilitas itu membantu pembelajaran menjadi lebih hidup.

Dan dari situ saya mulai memahami bahwa pendidikan yang bermutu memang tidak bisa berjalan sendiri.

Guru memiliki peran penting.

Namun lingkungan belajar yang nyaman, fasilitas yang mendukung, teknologi, dan perhatian dari banyak pihak juga ikut membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih baik bagi anak-anak.

Karena sebenarnya, pembelajaran yang adaptif dan mendalam bukan tentang membuat kelas terlihat hebat.

Tetapi tentang bagaimana anak-anak merasa benar-benar terlibat di dalam proses belajar itu sendiri.

Sebagai guru, saya juga masih terus belajar.

Tidak semua kegiatan berjalan sempurna.

Ada aktivitas yang terlalu ramai.

Ada media yang kurang berhasil.

Ada hari-hari ketika saya merasa lelah menyiapkan semuanya.

Namun rasa lelah itu sering kali hilang ketika melihat anak-anak pulang sambil berkata,

“Besok belajar seperti tadi lagi ya, Bu.”

Saat itu saya sadar, mungkin yang paling diingat anak-anak dari sekolah bukan hanya isi buku pelajaran.

Tetapi perasaan bahwa mereka pernah menikmati proses belajar itu sendiri.

Dan mungkin, pendidikan terbaik memang dimulai ketika anak-anak merasa bahwa belajar bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari kehidupan yang dekat dengan dunia mereka.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image