Telkomsel 'Terpujilah Guru': Dorong Transformasi Pendidik MAN 3 Bantul Menjadi Fasilitas Digital
Pendidikan dan Literasi | 2026-05-20 17:44:44
BANTUL (MAN 3 Bantul) – Di tengah derasnya arus transformasi teknologi yang merambah hampir seluruh aspek kehidupan, dunia pendidikan dituntut untuk terus beradaptasi. Yani Tri Harsiwi, S.Pd., pengajar mata pelajaran Geografi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Bantul, turut ambil bagian dalam gelaran Roadshow Telkomsel Terpujilah Guru. Kegiatan strategis ini digelar di The Ratan, Jalan Ringroad Selatan Nomor 93, Glugo, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Selasa (20/5/2026), berlangsung pukul 08.30 hingga 11.10 WIB.
Acara ini mempertemukan ratusan pendidik yang mewakili berbagai jenjang satuan pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA), hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang tersebar di seluruh wilayah DIY. Bagi Yani dan rekan-rekan pendidik lainnya, kehadiran dalam kegiatan ini bukan sekadar partisipasi biasa, melainkan bentuk apresiasi sekaligus langkah strategis memperkuat kompetensi diri dalam menjawab tantangan kemajuan teknologi pendidikan yang berkembang sangat pesat.
Kegiatan yang sarat nilai strategis ini dibuka secara resmi oleh Kepala Bidang Pendidikan dan Olahraga Provinsi DIY, Tukimin, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kemampuan pendidik dalam beradaptasi dengan kemajuan zaman menjadi kunci utama peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Menurutnya, pendidikan yang tidak bergerak seiring perkembangan zaman akan tertinggal, dan guru adalah ujung tombak perubahan tersebut.
Kekuatan utama kegiatan ini juga terletak pada kehadiran para narasumber ahli dan pemangku kepentingan teknologi pendidikan. Di antaranya adalah Nusa Prasetya selaku Manager Mobile Consumer Branch Yogyakarta, Winta Satwikasanti selaku Ketua Program Studi Desain Produk Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Danang Juffry selaku Community Manager Indonesia dan Brunei Google, serta Harry Mawardi selaku Master Trainer IIRC. Keberagaman latar belakang pembicara ini menghadirkan wawasan yang komprehensif, mencakup pengembangan infrastruktur digital, penerapan prinsip desain dalam pembelajaran, hingga pemanfaatan teknologi canggih berbasis kecerdasan buatan.
Akselerator Literasi Kecerdasan Buatan
Sebagai akselerator literasi kecerdasan buatan (AI), program ini dirancang khusus untuk mendorong para pendidik memanfaatkan teknologi secara bijak, bertanggung jawab, dan terintegrasi di lingkungan sekolah masing-masing. Melalui inisiatif ini, Telkomsel menegaskan komitmennya mendukung para guru agar mampu menyelaraskan pengetahuan dan keterampilan digital ke dalam proses pembelajaran. Hal ini sejalan dengan tuntutan zaman yang menempatkan teknologi modern sebagai kebutuhan pokok di setiap tingkatan jenjang pendidikan.
Nusa Prasetya dalam pemaparannya menyampaikan, bahwa Telkomsel senantiasa berupaya menghadirkan ekosistem layanan yang lengkap. Mulai dari jaringan konektivitas yang luas dan andal, berbagai alat bantu berbasis kecerdasan buatan, hingga beragam platform pembelajaran digital. "Kami ingin memastikan pendidik dan peserta didik terhubung dengan akses informasi tanpa batas, namun tetap dalam koridor yang aman, positif, dan terarah," ujarnya.
Sementara itu, Winta Satwikasanti mengajak para guru untuk mengubah cara pandang dalam mengajar. Baginya, pembelajaran harus dilihat sebagai sebuah karya desain yang terus dikembangkan, disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan peserta didik masa kini yang lahir dan tumbuh di era digital.
Perspektif berbeda disampaikan oleh Danang Juffry. Ia memaparkan ragam alat dan layanan teknologi yang dikembangkan oleh Google untuk mendukung kreativitas serta produktivitas di ruang kelas. Ia menekankan satu hal penting: teknologi hanyalah alat bantu, bukan pengganti peran guru. "Teknologi mempermudah akses dan penyajian materi, namun sentuhan manusia, nilai, dan karakter tetaplah tugas utama pendidik," jelasnya.
Materi kemudian dilengkapi dengan sesi praktik langsung yang dipandu oleh Harry Mawardi selaku Master Trainer IIRC. Ia membimbing para peserta langkah demi langkah dalam mengakses, menyaring, hingga mengembangkan materi ajar berbasis digital agar lebih interaktif, menarik, dan bermakna bagi siswa.
Transformasi Peran Guru: Dari Pengajar Menjadi Fasilitator
Dalam pelaksanaannya, seluruh peserta dibekali dengan sarana pendukung pengembangan kompetensi yang berkelanjutan. Mulai dari modul pembelajaran siap pakai, ruang belajar kolaboratif, hingga wadah komunitas yang memungkinkan berbagi praktik baik antar pendidik lintas jenjang. Hal ini membuka akses yang lebih luas bagi tenaga pendidik di Indonesia, khususnya di DIY, untuk mendapatkan materi dan metode pembelajaran yang relevan.
Lebih dari sekadar pelatihan keterampilan teknis, program ini mengajak para pendidik untuk melakukan transformasi peran secara mendasar. Guru tidak lagi sekadar berposisi sebagai pengajar yang mentransfer ilmu, namun dituntut dan didukung untuk berkembang menjadi pendidik yang berwawasan luas, pencipta materi ajar yang inovatif, serta penemu metode pembelajaran baru yang efektif.
Menutup rangkaian kegiatan, Tukimin, S.Pd., M.Pd. berharap semangat yang dibangun dalam acara ini dapat melahirkan generasi pendidik yang mampu memimpin proses pembelajaran di era kecerdasan buatan. Langkah ini, katanya, sangat penting agar kualitas pendidikan di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Bantul dan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta secara keseluruhan senantiasa berkembang, berdaya saing tinggi, dan mampu mencetak generasi unggul di masa depan. (Ris)
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
