Di Antara Lembutnya Didikan dan Arah Zaman
Parenting | 2026-05-20 13:41:54
Seorang ibu menatap anaknya yang belum mau merapikan mainan. Ia tidak membentak. Ia memilih duduk sejajar. Ia berbicara pelan. Ia menjelaskan alasan sebuah aturan. Pemandangan seperti ini kini semakin sering dibicarakan. Kesadaran tentang pentingnya pengasuhan yang hangat terus tumbuh.
Kesadaran itu terlihat dalam kelas parenting pada program Belajar Bersama BBPMP (B3) Jabar yang berlangsung pada 7 Mei 2026. Para orang tua berdiskusi. Mereka saling berbagi cara menanamkan disiplin. Mereka menjaga komunikasi tetap hangat. Mereka menempatkan pendekatan pengasuhan positif sebagai fondasi utama. (Bbpmpjabar.id, 08/05/2026)
Langkah ini memberi harapan. Orang tua tidak lagi mengandalkan cara lama yang keras. Mereka mulai membangun kedekatan emosional. Mereka ingin anak memahami aturan, bukan sekadar mematuhinya. Perkembangan ini sebagai kemajuan penting. Namun, ada satu pertanyaan besar. Apakah upaya di rumah berjalan seiring dengan arah lingkungan di luar?
Interaksi sosial membentuk cara berpikir anak. Anak belajar dari lingkungan, bukan hanya dari orang tua. Pandangan ini banyak dikutip dalam kajian pendidikan modern hingga kini. Dari sini, terlihat bahwa keluarga tidak bekerja sendiri. Anak menyerap nilai dari banyak arah. Ia belajar dari teman. Ia meniru dari media. Ia mengamati dari kehidupan sosial. Maka, keberhasilan pengasuhan tidak hanya ditentukan oleh metode. Keberhasilan juga ditentukan oleh keselarasan lingkungan.
Perubahan zaman menghadirkan tantangan baru. Anak kini tumbuh bersama teknologi. Layar menjadi teman sehari-hari. Konten hadir tanpa batas. Informasi mengalir tanpa jeda. Kemudian, lembaga pendidikan ikut menyesuaikan diri. PAUD mulai mengenalkan media digital. Pembelajaran menjadi lebih interaktif. Anak tampak lebih cepat memahami banyak hal. Namun, ada sisi lain yang perlu dicermati.
Nilai dalam konten digital tidak selalu jelas. Banyak pesan terselip tanpa penyaringan. Anak menyerap semuanya dengan cepat. Ia belum mampu memilah. Ia belum mampu menilai. Di sinilah peran orang tua diuji. Mereka harus menjelaskan kembali apa yang anak lihat. Mereka harus mengarahkan ulang makna yang anak tangkap. Situasi ini menambah beban pengasuhan. Orang tua tidak hanya mendidik. Mereka juga harus menjadi penyaring yang terus aktif.
Berbagai program terus berjalan. Kelas parenting digelar. Kurikulum diperbaiki. Teknologi diintegrasikan. Semua tampak bergerak maju. Namun, arah besar pendidikan sering terasa belum sepenuhnya menyatu. Lingkungan sosial sering menampilkan ukuran keberhasilan yang sempit. Banyak orang menilai keberhasilan dari pencapaian luar. Nilai ini hadir dalam percakapan sehari-hari. Anak menangkapnya sejak dini.
Akibatnya, muncul ketidaksinkronan. Orang tua mengajarkan kesederhanaan. Lingkungan menonjolkan kemewahan. Orang tua menanamkan kesabaran. Dunia luar mempromosikan kecepatan. Perbedaan ini membuat anak menghadapi dua pesan sekaligus. Dalam kondisi seperti ini, pola pengasuhan yang baik sering tidak mendapat dukungan penuh. Upaya orang tua tetap penting. Namun, hasilnya tidak selalu maksimal. Generasi unggul membutuhkan arah yang lebih luas dan konsisten.
*Panduan Islam*
Islam memberikan panduan yang menyeluruh dalam pendidikan anak. Al-Qur’an menegaskan tanggung jawab orang tua dalam menjaga keluarga. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini menempatkan pendidikan sebagai kewajiban utama.
Rasulullah saw. memberikan teladan yang nyata. Beliau membangun kedekatan dengan anak. Beliau juga menetapkan aturan dengan bijak. Dalam hadis riwayat Abu Dawud, Rasulullah saw. bersabda, “Perintahkan anak-anakmu untuk salat ketika mereka berusia tujuh tahun.” Hadis ini menunjukkan pentingnya pembiasaan sejak dini dengan pendekatan yang bertahap.
Kemudian, para sahabat melanjutkan pola ini. Umar bin Khattab dikenal tegas dalam mendidik generasi. Ia menanamkan keberanian, tanggung jawab, dan keteguhan. Ia tidak hanya mengandalkan keluarga. Ia memastikan lingkungan mendukung nilai yang sama. Nilai tidak berhenti di rumah. Nilai hidup dalam masyarakat. Nilai menjadi bagian dari kebiasaan bersama.
Pengasuhan yang kuat memerlukan dukungan dari berbagai sisi. Keluarga menjadi pusat utama. Namun, masyarakat dan kebijakan perlu berjalan dalam arah yang sama. Dalam pandangan Islam, pendidikan tidak berdiri sendiri. Pendidikan menjadi bagian dari bangunan kehidupan yang utuh. Kebijakan publik mendukung pembentukan karakter. Media menjaga nilai yang baik. Lingkungan sosial memperkuat kebiasaan positif.
Sejarah menunjukkan hasil dari keselarasan ini. Peradaban Islam melahirkan generasi yang unggul dalam ilmu dan akhlak. Mereka tumbuh dalam sistem yang menjaga arah hidup mereka sejak dini.
*Penutup*
Refleksi ini tidak bermaksud menyalahkan. Refleksi ini lahir dari kepedulian. Kita ingin melihat upaya baik ini mencapai hasil terbaik. Kelas parenting sudah menjadi langkah penting. Namun, langkah ini akan lebih kuat jika berjalan bersama arah yang jelas.
Pada akhirnya, anak tidak hanya tumbuh dari apa yang diajarkan. Anak tumbuh dari apa yang ia lihat dan rasakan setiap hari. Jika rumah dan dunia berbicara dengan pesan yang sama, maka generasi yang kokoh bukan sekadar harapan. Generasi itu akan menjadi kenyataan yang dapat kita saksikan bersama.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
