Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image ayu puspita sari

Ketika Homecare Menggantikan Pelukan, Paradoks Pengasuhan di Era Digital

Parenting | 2026-05-20 14:26:52

Ketika Homecare Menggantikan Pelukan, Paradoks Pengasuhan di Era Digital

Opini · Parenting & Masyarakat

Sebuah pemandangan baru kini lazim dijumpai di kota-kota besar Indonesia: seorang bayi dalam gendongan pengasuh homecare, sementara kedua orang tuanya tengah menghadiri rapat daring dari ruangan sebelah. Ini bukan kelalaian. Ini adalah dilema.

Disrupsi digital telah mengubah secara fundamental cara kita bekerja, berbisnis, dan secara tidak langsung cara kita mengasuh anak. Munculnya platform layanan homecare profesional adalah respons logis terhadap kebutuhan nyata: pasangan muda yang bekerja penuh waktu, sering kali keduanya, dengan tekanan ekonomi yang tidak memberi banyak pilihan. Layanan ini hadir dengan pelatihan, sertifikasi, dan monitoring digital seolah mengisi celah yang ditinggalkan absennya orang tua.

Apa yang tidak bisa dibeli per jam

Psikologi perkembangan anak telah lama menegaskan pentingnya periode 1.000 hari pertama kehidupan. John Bowlby dalam teori keterikatan (attachment theory) menunjukkan bahwa bayi membangun rasa aman emosionalnya melalui interaksi konsisten dengan figur pengasuh utama idealnya, orang tua kandung. Pada rentang usia 0–3 tahun, otak anak tumbuh dengan kecepatan luar biasa; dan stimulasi emosional dari orang-orang yang paling dikenalnya menjadi fondasi kesehatan mental jangka panjang.

Pengasuh homecare yang terlatih pun, sebagus apa pun kompetensinya, menghadapi satu keterbatasan mendasar: ia bisa hadir secara fisik, tetapi tidak bisa menggantikan ikatan batin yang terbentuk antara anak dan orang tuanya. Kualitas kehadiran berbeda dari kuantitas waktu dan pada usia setahun dua tahun, anak belum mampu memilah-milah perbedaan itu secara kognitif. Yang ia rasakan hanya satu: siapa yang selalu ada.

Jebakan struktural, bukan kegagalan moral

Akan tetapi, menyalahkan orang tua adalah kesimpulan yang terlalu mudah dan tidak adil. Pasangan muda hari ini menghadapi tekanan struktural yang belum pernah ada sebelumnya: harga properti yang melambung, biaya pendidikan anak yang terus naik, pasar kerja yang tidak toleran terhadap absensi, dan tidak adanya sistem perlindungan sosial yang memadai untuk pengasuhan anak. Cuti melahirkan yang terbatas, minimnya fasilitas penitipan anak bersubsidi, serta budaya kerja yang mengukur dedikasi dengan jam kehadiran semuanya berkonspirasi memaksa orang tua untuk memilih.

Di sinilah letak persoalan sesungguhnya, disaat kita sedang memperdebatkan pilihan individu, padahal yang bermasalah adalah sistem. Bisnis homecare berkembang bukan karena orang tua tidak mau mengasuh anaknya melainkan karena negara dan korporasi belum menyediakan infrastruktur yang memungkinkan keduanya berjalan beriringan.

Jalan tengah yang harus diupayakan

Bukan berarti layanan homecare harus dihentikan justru sebaliknya. Yang perlu dibenahi adalah ekosistemnya. Pertama, orang tua tetap harus menjadi "pemeran utama" pengasuhan, bukan sekadar pemberi instruksi kepada pengasuh. Waktu berkualitas bersama anak meski singkat harus diprioritaskan secara sadar, bukan tersisa setelah semua pekerjaan selesai.

Kedua, dunia usaha perlu mengadopsi kebijakan yang lebih ramah keluarga: fleksibilitas jam kerja, opsi bekerja dari rumah yang lebih luas, dan perpanjangan cuti pengasuhan bagi kedua orang tua bukan hanya ibu. Ketiga, pemerintah perlu memperluas akses terhadap fasilitas daycare bersubsidi yang berkualitas, agar pengasuhan profesional tidak hanya menjadi privilese keluarga mampu.

Layanan homecare, pada dasarnya, adalah gejala bukan penyebab. Ia muncul karena ada ruang yang kosong ditinggalkan oleh kebijakan publik dan budaya kerja yang belum berpihak pada keluarga. Selama ruang itu dibiarkan terbuka, bisnis apapun yang masuk ke sana akan tumbuh subur.

Anak-anak usia satu dan dua tahun tidak butuh pengasuh yang sempurna. Mereka butuh orang tua yang hadir secara fisik, emosional, dan konsisten. Tugas kita bersama, sebagai masyarakat, adalah memastikan bahwa "hadir" bukan lagi kemewahan yang harus dipilih di antara kebutuhan bertahan hidup.

Ayu Puspita Sari, MH

Tenaga Pengajar IAI Darussalam Martapura Kalimantan Selatan

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image