Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Fahhala

Menjaga Arah Nilai dari Kirab Budaya

Kultura | 2026-05-20 14:10:10
Ilustrasi

Kirab budaya Milangkala Tatar Sunda kembali hadir sebagai peristiwa yang menyedot perhatian publik. Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengemasnya sebagai perayaan budaya sekaligus penguat daya tarik pariwisata. Namun, sejumlah kalangan mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyajikan narasi sejarah. Kirab ini seharusnya didukung kajian sejarah yang kuat, terbuka, dan kritis agar tidak menimbulkan tafsir yang keliru (Jabar.tribunnews.com, 16/05/2026).

Kirab ini bukan sekadar tontonan. Ia adalah teks sosial yang hidup. Ia menyampaikan pesan, membentuk kesan, dan perlahan memengaruhi cara pandang masyarakat. Karena itu, kita tidak cukup hanya menyaksikan, tetapi perlu membaca dan memahami pesan yang tersirat di balik simbol dan prosesi.

Para ahli sejarah budaya kerap menegaskan bahwa setiap perayaan publik membawa muatan makna. Sejarawan dan budayawan sering mengingatkan bahwa narasi sejarah yang tidak utuh dapat membentuk kesadaran yang timpang. Dalam berbagai kajian antropologi, budaya tidak pernah netral. Ia selalu terhubung dengan nilai, kepentingan, dan arah tertentu. Dari sini, kita bisa menarik garis besar, bahwa kirab budaya dapat menjadi sarana edukasi, tetapi juga berpotensi menjadi ruang pembentukan persepsi yang tidak disadari.

Kirab budaya menampilkan keindahan yang memikat. Busana adat, iringan musik tradisional, dan simbol-simbol lokal menghadirkan rasa bangga. Namun, keindahan itu perlu ditempatkan dalam konteks yang jernih. Kita perlu bertanya: nilai apa yang sedang diangkat? Narasi apa yang sedang dikuatkan?

Kemudian, ketika simbol budaya ditampilkan tanpa penjelasan nilai yang menyertainya, muncul ruang kosong dalam pemaknaan. Masyarakat melihat bentuk, tetapi tidak selalu memahami ruhnya. Di titik ini, simbol berpotensi berdiri sendiri tanpa arah yang jelas. Ia memikat, tetapi tidak membimbing.

Lebih jauh, pengalaman sosial menunjukkan bahwa sesuatu yang terus diulang akan membentuk kebiasaan berpikir. Ketika masyarakat terus disuguhi simbol tanpa kedalaman makna, maka cara pandang pun ikut berubah. Perubahan ini tidak terasa. Ia berjalan perlahan. Namun, dampaknya bisa sangat dalam.

Identitas masyarakat tidak lahir dalam ruang hampa. Ia terbentuk melalui proses panjang yang melibatkan sejarah, nilai, dan keyakinan. Dalam konteks Tatar Sunda, identitas itu sejak lama bersanding dengan nilai-nilai keislaman yang kuat. Nilai tersebut tidak hanya hadir dalam ibadah, tetapi juga dalam adat, etika, dan cara hidup.

Namun, jika narasi budaya dipisahkan dari nilai yang selama ini menghidupkannya, maka identitas akan mengalami pergeseran. Ia tetap tampak sama di permukaan, tetapi berubah di dalam. Masyarakat mungkin tetap merasa dekat dengan budayanya, tetapi kehilangan keterhubungan dengan nilai yang lebih dalam.

Sebaliknya, ketika nilai tidak mendapat ruang dalam ruang publik, ia akan perlahan tersisih. Ia tidak hilang, tetapi menjadi samar. Di sinilah pentingnya kehati-hatian dalam merancang narasi budaya. Ia harus menjaga keseimbangan antara bentuk dan makna.

*Pandangan Islam*

Islam memandang budaya sebagai bagian dari kehidupan manusia. Islam tidak menolak keberagaman. Namun, Islam memberikan arah agar keberagaman itu tetap berada dalam koridor nilai yang benar.

Allah Swt. berfirman, "Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan adalah sarana, bukan tujuan. Ia harus mengarah pada ketakwaan. Oleh karena itu, budaya tidak boleh dilepaskan dari nilai yang membimbing manusia menuju kebaikan.

Rasulullah saw. memberikan contoh yang sangat jelas. Beliau tidak menghapus seluruh tradisi masyarakat Arab. Beliau memilah. Beliau mempertahankan yang baik dan meluruskan yang menyimpang.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad). Hadis ini menunjukkan bahwa inti dari perubahan adalah perbaikan nilai. Maka, budaya seharusnya menjadi sarana untuk menguatkan akhlak, bukan sekadar mempertahankan simbol.

Sejarah Islam memberikan banyak teladan tentang bagaimana nilai dijaga dalam kehidupan publik. Para Khulafaur Rasyidin memimpin dengan menjadikan nilai sebagai fondasi kebijakan. Umar bin Khattab, misalnya, dikenal tidak hanya sebagai pemimpin yang tegas, tetapi juga sebagai penjaga moral masyarakat. Ia memastikan bahwa setiap kebijakan membawa maslahat dan tidak menjauhkan umat dari nilai yang benar.

Dari sini, kita dapat mengambil pelajaran penting. Ruang publik, termasuk perayaan budaya, perlu diisi dengan nilai yang hidup. Nilai itu tidak harus ditampilkan secara kaku. Ia bisa hadir dengan cara yang halus, tetapi tetap jelas arah dan tujuannya.

Dengan demikian, kirab budaya seperti Milangkala Tatar Sunda dapat menjadi ruang yang lebih bermakna. Ia tidak hanya menghadirkan kebanggaan masa lalu, tetapi juga menuntun kesadaran masa kini. Ia tidak hanya merayakan identitas, tetapi juga menjaga arah.

Pada akhirnya, refleksi ini bukan bentuk penolakan. Ia adalah bentuk kepedulian. Kita ingin budaya tetap hidup. Namun, kita juga ingin ia tetap berpijak. Sebab, budaya tanpa arah akan mudah goyah. Sebaliknya, budaya yang berpadu dengan nilai akan melahirkan masyarakat yang kuat, tenang, dan tidak mudah terombang-ambing oleh arus zaman.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image