Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Sigid Mulyadi

Ramadhan dan Psikopat Kecil di Dalam Diri

Agama | 2026-03-04 14:02:38

Menghadapi hasad, merawat empati, dan memperbaiki hati

Ada sebuah bagian dari diri kita yang jarang sekali kita bahas terang-terangan—bagian gelap yang tidak terasa menyakitkan secara fisik, tetapi dapat melukai secara batin. Bagian itu muncul dalam bentuk rasa lega ketika mendengar orang lain gagal. Rasa ringan saat mengetahui seseorang tersandung. Atau semacam kepuasan tipis saat mendapati bahwa orang lain mengalami kesialan yang, entah bagaimana, membuat kita merasa “lebih baik” tentang hidup kita sendiri.

Perasaan itu kadang datang tanpa diundang. Kita tidak merencanakannya, apalagi mengakuinya. Di permukaan, kita tampak berempati. Tetapi jauh di dalam dada, ada bisikan kecil: “Syukurlah bukan aku bahkan lebih syukur lagi kalau orang itu tidak lebih baik dari aku.” Inilah yang saya sebut sebagai “psikopat kecil” di dalam diri—bukan psikopat dalam makna klinis, tetapi metafora untuk sisi gelap yang diam-diam menikmati keterpurukan orang lain.

Inilah hasad, penyakit hati yang membuat seseorang tidak nyaman melihat orang lain mendapat nikmat, bahkan berharap nikmat itu lenyap. Al-Qur’an mengingatkan secara tegas agar kita berlindung dari “kejahatan pendengki ketika ia dengki” (QS Al-Falaq:5). Ayat yang singkat namun tajam ini menunjukkan bahwa kedengkian bukan hanya salah secara moral, tetapi berbahaya secara spiritual.

Hasad: Penyakit Lama yang Terus Bertahan

Hasad adalah penyakit tua. Ia tidak mengenal kelas, jabatan, tingkat pendidikan, atau posisi sosial. Ia bisa tumbuh dalam hati siapa saja: pegawai, pejabat, pedagang, orang berpendidikan tinggi, maupun mereka yang sederhana pendidikannya.

Mengapa manusia mudah terserang hasad? Karena manusia memiliki kecenderungan membandingkan diri. Ketika orang lain melesat, kita merasa tertinggal. Ketika orang lain jatuh, kita merasa ditemani. Hasad tumbuh dari rasa tak aman dan dorongan untuk mempertahankan posisi—bahkan bila itu berarti menginginkan kemalangan orang lain.

Gambar ilustrasi dibuat dengan AI

Al-Qur’an mengingatkan: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang Allah karuniakan kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian yang lain mintalah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.” (QS An-Nisa’:32).

Ayat ini mengajarkan dua hal:

 

  1. Melarang membandingkan diri secara merusak.
  2. Mengalihkan energi negatif menjadi doa dan permohonan kepada Allah, bukan kecemburuan kepada manusia.

Hasad bukan sekadar rasa tidak suka yang sekejap. Jika dibiarkan, ia berubah menjadi cara pandang yang berbahaya: kita menganggap hidup sebagai kompetisi zero-sum—kalau orang lain naik, kita turun. Ini melahirkan kecenderungan untuk mengecilkan prestasi orang lain dan membesarkan kegagalannya.

Ghibtah: Cemburu yang Justru Bernilai Ibadah

Islam tidak menuntut kita membunuh keinginan untuk berkembang. Islam hanya mengarahkan agar keinginan itu tidak muncul dari tempat yang keliru. Karena itu Nabi bersabda:

“Tidak boleh iri kecuali pada dua hal: (1) seseorang yang Allah beri harta lalu ia habiskan di jalan yang benar, (2) seseorang yang Allah beri hikmah lalu ia memutuskan dan mengajarkannya.” (HR Bukhari).

Inilah yang disebut ghibtah—cemburu yang sehat. Cemburu yang tidak ingin orang lain kehilangan nikmatnya, tetapi ingin ikut merasakan kebaikan yang serupa. Ghibtah melahirkan semangat untuk memperbaiki diri, bukan menjatuhkan sesama.

Ghibtah adalah penawar hasad. Ia mengubah energi batin yang gelap menjadi motivasi yang terang.

Dampak Sosial yang Tak Terlihat

Hasad tidak hanya merusak individu; ia merusak jaringan sosial. Hati yang sulit bersyukur atas keberhasilan orang lain akan sulit pula untuk bersolidaritas. Padahal Islam meletakkan asas persaudaraan dalam posisi sangat tinggi.

Al-Qur’an berpesan: “Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Maka damaikanlah antara saudaramu ” (QS Al-Hujurat:10).

Ayat ini bukan sekadar ajakan spiritual, tetapi fondasi sosial. Masyarakat yang dipenuhi individu-individu hasad akan mudah retak. Kebencian kecil akan tumbuh menjadi konflik nyata. Keberhasilan orang dipersepsikan sebagai ancaman, bukan inspirasi.

Nabi pun menguatkan prinsip ini: “Tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR Bukhari-Muslim).

Ini standar yang tinggi. Tetapi justru karena tinggi, kita diajak untuk terus menggapainya.

Ramadhan: Musim Penyucian Jiwa

Ramadhan datang bukan hanya membawa kewajiban berpuasa, tetapi juga kesempatan memperbaiki kualitas batin. Nabi mengingatkan:

“Puasa adalah perisai. Maka orang yang berpuasa jangan berkata keji dan jangan berbuat bodoh.” (HR Bukhari).

Pesan ini menunjukkan bahwa puasa sejatinya melatih kita menahan diri, bukan hanya menahan lapar. Bahkan beliau menegaskan lagi dalam hadis lain:

“Barang siapa tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan keji, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR Bukhari).

Artinya, jika hati masih penuh hasad dan lisan masih mudah melukai, puasa kita kehilangan makna terdalamnya.

Al-Qur’an memberi prinsip sederhana namun kuat: “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS Asy-Syams:9).

Tazkiyatun nufus—penyucian jiwa—adalah inti Ramadhan. Kita diajak bukan sekadar menahan diri dari makan, tetapi menahan diri dari dorongan paling halus: rasa senang melihat orang lain menderita.

Bagaimana Mengatasi Hasad dalam Kehidupan Sehari-hari?

1. Sadari dan akui

Setiap kali muncul bayangan lega saat orang lain gagal, naming the feeling adalah langkah awal. Akui: “Ini hasad.” Mengakui tidak membuat kita buruk; itu justru langkah pertama menuju perbaikan.

2. Ubah arah perasaan menjadi doa

Ketika hasad muncul, ubah ia menjadi doa: “Ya Allah, berkahilah nikmatnya, dan mudahkan aku meraih kebaikan yang serupa.” Doa ini selaras dengan perintah Qur’an untuk meminta karunia Allah (QS 4:32).

3. Rayakan keberhasilan orang lain

Ucapkan selamat. Posting dukungan. Mendoakan diam-diam. Terkadang kita perlu memaksa diri melakukan kebaikan sebelum hati mampu mengikutinya.

4. Jaga lisan dan jempol

Di era media sosial, banyak hasad yang menyamar dalam bentuk komentar sinis dan candaan menyakitkan. Padahal Nabi sudah mengingatkan agar lisan tidak dipakai untuk ucapan keji, khususnya saat berpuasa.

5. Arahkan kompetisi ke medan yang benar

Jika ingin bersaing, bersainglah dalam kebaikan. Itulah semangat hadis tentang dua jenis iri yang dibolehkan—iri kepada orang yang dermawan dan orang yang berilmu.

6. Perbanyak amal yang melembutkan hati

Sedekah meredakan ego, doa melapangkan jiwa, dan membantu orang lain mematikan bara hasad. Orang yang kita bantu, sulit bagi kita untuk iri.

Menutup Tirai, Menatap Cermin

Jika isi hati kita diproyeksikan di layar besar, mungkin kita akan malu. Tetapi agama tidak menuntut kesempurnaan seketika; ia menuntut usaha yang jujur. Ramadhan memberi kita ruang untuk menundukkan “psikopat kecil” dalam diri—bagian yang senang melihat orang lain susah.

Kita belajar kembali menjadi saudara (QS 49:10), berhenti membandingkan (QS 4:32), berlindung dari kedengkian (QS Al-Falaq:5), dan membersihkan jiwa (QS 91:9).

Pada akhirnya, musuh terbesar kita bukan orang lain, melainkan penyakit hati yang tidak terlihat. Ramadhan adalah momen terbaik untuk menaklukkannya—agar kita bukan hanya lebih kuat menahan lapar, tetapi juga lebih lapang dalam mencintai sesama.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image