Kenapa Bank Syariah Kalah Menarik dari Bank Konvensional?
Ekonomi Syariah | 2026-04-03 22:43:02
Masalahnya Bukan Sistem, Tapi Cara Bank Syariah “Menjual Diri”
Di era sekarang, memilih bank bukan lagi sekadar soal menyimpan uang. Ia sudah berubah menjadi bagian dari gaya hidup. Kita memilih bank yang aplikasinya cepat, tampilannya menarik, banyak promo, dan yang paling penting tidak ribet.
Coba lihat bagaimana bank digital berkembang. Mereka hadir dengan warna cerah, fitur yang simpel, dan pengalaman yang terasa “ringan”. Bahkan membuka rekening saja bisa dilakukan dalam hitungan menit, tanpa perlu datang ke kantor cabang. Semua serba praktis, serba cepat.
Di tengah situasi itu, bank syariah sebenarnya punya sesuatu yang tidak dimiliki bank lain: nilai. Sistemnya bebas riba, berbasis keadilan, dan membawa prinsip etika dalam pengelolaan keuangan.
Namun pertanyaannya, kalau nilainya sekuat itu, kenapa bank syariah belum menjadi pilihan utama?
Banyak yang Tahu, Tapi Tidak Banyak yang Memilih
Jawaban awal bisa kita lihat dari data. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan bahwa literasi keuangan syariah di Indonesia sudah mencapai sekitar 43%, tetapi tingkat inklusinya masih di kisaran 13%. Artinya, banyak orang sudah tahu tentang bank syariah, tetapi belum tentu menggunakannya.
Ini menarik. Karena berarti masalahnya bukan lagi soal pengetahuan.
Orang sudah tahu. Sudah pernah dengar. Bahkan mungkin sudah paham konsepnya. Tapi tetap tidak memilih.
Di titik ini, kita perlu jujur: masalahnya bukan lagi “tidak dikenal”, tapi “tidak cukup menarik”.
Dan ketika berbicara soal ketertarikan, kita tidak bisa hanya bicara sistem. Kita harus bicara soal pengalaman, komunikasi, dan cara sebuah brand hadir di kehidupan sehari-hari.
Nilai yang Kuat, Tapi Kurang Dibungkus dengan Baik
Bank syariah sering kali menempatkan nilai sebagai kekuatan utama. Dan itu memang benar. Prinsip bebas riba, sistem bagi hasil, hingga orientasi pada keadilan adalah hal yang sangat penting.
Namun dalam praktiknya, nilai-nilai ini sering disampaikan dengan cara yang terlalu formal. Bahasa yang digunakan cenderung berat, istilahnya tidak familiar, dan pendekatannya terasa “serius”.
Akibatnya, banyak orang merasa bahwa bank syariah itu “baik”, tetapi tidak merasa bahwa bank syariah itu “dekat”.
Padahal, di dunia sekarang, kedekatan jauh lebih menentukan daripada sekadar kebenaran.
Bank digital memahami ini. Mereka tidak hanya menjelaskan fitur, tetapi membangun pengalaman. Mereka tidak hanya memberi layanan, tetapi menciptakan rasa nyaman. Bahkan komunikasi mereka di media sosial terasa lebih santai, lebih hidup, dan lebih mudah diterima.
Di sisi lain, bank syariah sering kali masih terjebak dalam cara komunikasi yang terlalu normatif. Seolah-olah yang dijual hanyalah kepatuhan, bukan kenyamanan.
Gen Z Memilih Berdasarkan Pengalaman
Kalau kita melihat lebih dalam ke generasi muda, terutama Gen Z, perbedaan ini semakin terlihat jelas.
Gen Z adalah generasi yang tumbuh dengan teknologi. Mereka terbiasa dengan aplikasi yang cepat, desain yang intuitif, dan layanan yang responsif. Mereka tidak sabar dengan proses yang berbelit, dan sangat sensitif terhadap pengalaman pengguna.
Penelitian menunjukkan bahwa keputusan Gen Z dalam memilih bank tidak hanya dipengaruhi oleh prinsip, tetapi juga oleh faktor seperti kualitas layanan, inovasi produk, kemudahan akses, hingga strategi promosi.
Dengan kata lain, label “syariah” saja tidak cukup.
Di sisi lain, bank digital berhasil membaca kebutuhan ini. Mereka menawarkan pengalaman yang seamless; dari registrasi, transaksi, hingga fitur tambahan seperti budgeting dan notifikasi real-time.
Faktor seperti kenyamanan penggunaan, keamanan, dan inovasi bahkan terbukti memiliki pengaruh besar terhadap minat Gen Z dalam menggunakan layanan perbankan digital.
Di sinilah perbedaan mulai terasa nyata. Bukan pada apa yang ditawarkan, tetapi pada bagaimana hal itu dirasakan oleh pengguna.
Ketika Branding Jadi Penentu
Sering kali, branding dianggap sebagai hal yang tidak terlalu penting dibandingkan sistem atau produk. Padahal dalam dunia yang penuh pilihan seperti sekarang, branding justru menjadi penentu utama.
Bank konvensional dan digital tidak hanya menjual layanan. Mereka menjual rasa nyaman, kemudahan, bahkan identitas. Menggunakan bank tertentu bisa terasa seperti bagian dari gaya hidup.
Sementara itu, bank syariah masih sering tampil sebagai institusi yang serius, formal, dan sangat identik dengan aspek religius. Bagi sebagian orang, ini mungkin menarik. Tapi bagi banyak anak muda, ini terasa kurang relatable.
Padahal, jika dikemas dengan tepat, konsep keuangan syariah sebenarnya sangat relevan dengan tren global seperti ethical finance dan sustainability.
Masalahnya bukan pada nilai yang dibawa, tetapi pada cara nilai itu disampaikan.
Masalah Ini Sebenarnya Sudah Disadari
Menariknya, berbagai pihak sebenarnya sudah mulai menyadari tantangan ini. Upaya untuk meningkatkan literasi dan daya tarik keuangan syariah kini mulai dilakukan melalui pendekatan yang lebih modern.
Kampanye di media sosial, kolaborasi dengan influencer, hingga penggunaan konten interaktif mulai digencarkan untuk menjangkau generasi muda.
Bahkan ada dorongan untuk menyederhanakan konsep ekonomi syariah agar lebih mudah dipahami dan tidak terasa asing.
Namun, pertanyaannya adalah: apakah ini sudah cukup?
Karena pada akhirnya, yang menentukan bukan hanya program, tetapi bagaimana pengalaman itu dirasakan langsung oleh pengguna.
Saatnya Bank Syariah Berubah Cara Bercerita
Jika bank syariah ingin benar-benar bersaing, maka perubahan tidak harus selalu pada sistem. Sistem mereka sudah kuat.
Yang perlu berubah adalah cara bercerita.
Bank syariah perlu mulai berbicara dengan bahasa yang lebih sederhana, lebih ringan, dan lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka perlu menunjukkan bahwa syariah bukan hanya soal aturan, tetapi juga tentang kenyamanan, keamanan, dan relevansi.
Selain itu, pengalaman digital juga harus menjadi perhatian utama. Di era sekarang, aplikasi bukan sekadar alat, tetapi wajah dari sebuah bank.
Jika pengalaman menggunakan aplikasi terasa lambat atau rumit, maka sekuat apa pun nilai yang ditawarkan, orang akan tetap berpaling.
Penutup:
Pada akhirnya, kita perlu melihat masalah ini dengan jujur.
Bank syariah tidak kalah karena sistemnya buruk. Mereka kalah karena belum cukup menarik.
Di dunia yang penuh pilihan, menjadi benar saja tidak cukup. Orang tidak hanya mencari yang sesuai prinsip, tetapi juga yang nyaman, cepat, dan terasa dekat dengan kehidupan mereka.
Dan mungkin, di situlah tantangan terbesar bank syariah hari ini.
Bukan memperbaiki apa yang sudah benar, tetapi memastikan bahwa kebenaran itu juga bisa dirasakan dan dipilih.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
