Hanya Amal Saleh yang tak Terpisahkan oleh Kematian
Agama | 2026-05-30 17:33:49Hanya Amal Saleh yang Tak Terpisahkan oleh Kematian
M. Saifudin
Tidak ada seorang pun yang ingin berpisah dengan keluarga yang dicintainya, rumah yang dibangunnya, atau harta yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun. Namun suatu hari, suka atau tidak suka, semua itu pasti ditinggalkan. Kita akan dibaringkan di liang kubur, lalu satu per satu orang yang mengantar akan pulang. Tangisan perlahan reda, pelayat berkurang, dan dunia kembali berjalan seperti biasa.
Saat itulah manusia menyadari bahwa tidak semua yang dicintainya dapat dibawa mati. Yang tetap tinggal bersamanya bukan keluarga, bukan pula harta, melainkan amal yang pernah dilakukannya selama hidup. Karena itu, pertanyaan terpenting dalam hidup bukanlah berapa banyak yang berhasil kita miliki, melainkan berapa banyak bekal yang telah kita siapkan untuk kehidupan setelah mati.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ﴾
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati." (QS. Ali Imran: 185)
Kematian adalah kepastian yang tidak pernah gagal menjemput manusia. Yang membedakan seseorang bukanlah kapan dan dimana ia meninggal, tetapi dalam keadaan apa ia menghadap Allah dan apa yang dibawanya sebagai bekal.
Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan:
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ
"Mayit diikuti oleh tiga perkara: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Maka keluarganya dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap bersamanya." (HR. Muttafaq ’alaih)
Hadis ini menggambarkan kenyataan yang sangat jelas. Keluarga hanya mengantar sampai pemakaman. Harta hanya menemani sampai pembagian warisan. Jabatan, gelar, penghormatan, dan popularitas berhenti di batas dunia. Setelah itu manusia memasuki alam baru seorang diri. Yang menemaninya hanyalah amal yang pernah ia kerjakan.
Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata, "Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari-hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka sebagian dirimu telah pergi." Hidup sesungguhnya adalah perjalanan menuju akhirat. Karena itu orang yang cerdas bukan hanya memikirkan masa depan dunia saja, tetapi yang menyiapkan untuk hidup setelah kematian juga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak hanya menjelaskan bahwa amal akan menemani manusia, tetapi juga menggambarkan bagaimana amal itu hadir di alam kubur. Dalam hadis riwayat dari Al-Bara' bin 'Azib r.a. disebutkan bahwa seorang mukmin akan didatangi sosok yang wajahnya sangat tampan dan menenangkan,
فَيَقُولُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ، فَيَقُولُ: أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ
"Ia bertanya, 'Siapakah engkau? Sungguh wajahmu adalah wajah yang datang membawa kebaikan.' Ia menjawab, 'Aku adalah amal salehmu.'" (Musnad Imam Ahmad)
Betapa indah yang digambarkan itu. Shalat yang dijaga, sedekah yang rutin diberikan, Al-Qur'an yang selalu dibaca, ilmu yang diajarkan, bakti kepada orang tua, silaturahmi yang dirawat, dan berbagai kebaikan sekecil apapun yang mungkin telah dilupakan manusia ternyata tidak hilang di sisi Allah Ta’ala dan semua akan kembali menemui pelakunya.
Allah Ta’ala berfirman,
﴿ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ﴾
"Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya." (QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak meremehkan amal saleh. Tidak ada kebaikan yang kecil di sisi Allah Ta’ala. Senyum yang tulus, membantu tetangga, mengajarkan satu ayat Al-Qur'an, menyisihkan sebagian rezeki, atau menyingkirkan gangguan dari jalan dapat menjadi sebab keselamatan di akhirat.
Bahkan ada amal yang terus mengalir pahalanya setelah seseorang meninggal dunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
"Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim)
Akan tetapi hanya mengumpulkan amal saleh saja tidaklah cukup. Amal itu harus dijaga agar tidak rusak oleh dosa, riya dan kemaksiatan. Ghibah, fitnah, dusta, kezaliman, harta yang haram, serta berbagai macam pelanggaran syariat dapat mengurangi bahkan menghanguskan pahala yang telah dikumpulkan.
Ironisnya, banyak orang sangat takut kehilangan uang, tetapi kurang takut kehilangan pahala. Mereka gelisah ketika hartanya berkurang, namun tenang ketika waktunya habis untuk maksiat. Padahal kerugian dunia masih dapat dicari gantinya, sedangkan kerugian di akhirat jauh lebih berat.
Karena itulah Allah memerintahkan kita,
﴿ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ ﴾
"Bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung." (QS. An-Nur: 31)
Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang apa yang kita tinggalkan, tetapi tentang apa yang kita bawa. Rumah, sawah, ladang, kendaraan, ternak, rekening, dan seluruh kenikmatan dunia akan tetap ditinggalkan. Yang setia ikut serta masuk ke alam kubur hanyalah amal kita.
Maka mari, jangan menunda kebaikan. Jangan menunggu tua untuk bertaubat, jangan menunggu kaya untuk bersedekah, jangan menunggu lapang untuk beribadah. Sebab tidak ada seorang pun yang tahu kapan giliran namanya dipanggil pulang.
Dan ketika hari panggilan itu datang, siapakah yang akan menyambut kita di alam kubur, amal saleh yang membawa kabar gembira, ataukah dosa yang menghadirkan penyesalan yang tak berkesudahan?
اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ
"Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik amal kami adalah penutupnya, dan sebaik-baik hari kami adalah hari ketika kami bertemu dengan-Mu." Aamiin.
Nashrumminallahi wa fathun qarib wa basysyiril mukminin
*) Disampaikan pada Pengajian Ahad Pon Pagi di Pendopo Balai Desa Jangglengan Nguter, Sukoharjo, Jateng
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
