Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Masjid Sabilurrohman

Tadabbur Ramadhan (045) Mengapa Kita Mudah Lupa?

Khazanah | 2026-02-28 18:27:51
Di antara sunyi malam dan cahaya yang temaram, seorang hamba bersujud mengingat janji yang pernah diucapkan. Di saat manusia mudah lupa, sujud adalah cara jiwa kembali menemukan arah dan menyalakan kembali cahaya iman.

Mengapa kita masih lalai, padahal kita pernah berjanji?

Mengapa hati masih condong pada dunia, padahal kita pernah bersaksi bahwa Allah adalah Rabb kita?

Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk menyadarkan.

Allah berfirman dalam Qur'an, QS. Al-Hadid ayat 8:

“Mengapa kamu tidak beriman kepada Allah, padahal Rasul menyeru kamu supaya kamu beriman kepada Tuhanmu, dan sungguh Dia telah mengambil perjanjianmu jika kamu adalah orang-orang yang beriman?”

Ayat ini seperti teguran lembut namun tegas. Allah mengingatkan bahwa iman bukan sesuatu yang asing bagi kita. Kita sudah pernah berjanji. Kita sudah pernah bersaksi. Tetapi mengapa masih ragu? Mengapa masih menunda ketaatan?

Jawabannya sederhana, namun berat untuk diakui: manusia mudah lupa.

Lupa pada janji.

Lupa pada tujuan hidup.

Lupa bahwa dunia hanya persinggahan.

Karena itulah Allah mengutus para nabi—untuk mengingatkan, bukan sekadar mengajarkan. Karena itulah Qur'an diturunkan—sebagai dzikr, sebagai pengingat. Dan karena itulah Ramadhan datang setiap tahun—untuk membangunkan hati yang mulai tertidur.

Namun realitasnya, memasuki pekan kedua Ramadhan sering kali menjadi fase futur. Semangat awal mulai menurun. Tilawah yang dulu satu juz terasa ringan, kini terasa berat. Qiyam yang dulu dinanti, kini terasa panjang. Saf yang dulu rapat, kini mulai renggang.

Bisa jadi itu bukan sekadar lelah fisik. Bisa jadi itu tanda bahwa kita mulai lupa lagi.

Lupa bahwa Ramadhan adalah kesempatan emas yang belum tentu terulang.

Lupa bahwa setiap rakaat adalah bukti kesetiaan pada janji iman.

Lupa bahwa waktu berjalan tanpa menunggu kesiapan kita.

Ramadhan bukan tentang awal yang menggebu-gebu. Ia tentang akhir yang istiqamah. Bukan tentang bagaimana kita memulai dengan penuh semangat, tetapi bagaimana kita bertahan saat semangat itu menurun.

Istiqamah adalah cinta yang tidak bergantung pada suasana. Ia tetap hidup meski tidak ada tepuk tangan, tidak ada pujian, tidak ada euforia.

Jika hari ini terasa berat, jangan langsung menyalahkan keadaan. Mungkin yang perlu diperbarui adalah kesadaran. Kesadaran bahwa kita sedang menepati janji lama. Bahwa kita sedang menjaga kesaksian fitrah. Bahwa setiap detik Ramadhan adalah panggilan untuk kembali.

Renungan Penutup

Bayangkan jika Ramadhan ini adalah yang terakhir bagi kita. Apakah kita ingin dikenang sebagai hamba yang kuat di awal namun lemah di tengah? Ataukah sebagai hamba yang pelan, tetapi konsisten hingga akhir?

Jangan biarkan lupa mengalahkan iman.

Jangan biarkan futur memadamkan cahaya yang sudah menyala.

Karena sejatinya, Ramadhan bukan datang untuk menguji seberapa semangat kita memulai tapi seberapa setia kita mengakhiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image