Menatap Hari Tanpa Penolong: Membedah Akhir Perjalanan Manusia dalam Tafsir Abasa
Agama | 2026-05-23 20:10:13PEKALONGAN – Di dunia, saat kita menghadapi masalah berat, keluarga dan orang-orang terdekat biasanya menjadi tempat pertama untuk bersandar. Namun, pernahkah kita membayangkan sebuah hari di mana rasa takut begitu hebatnya, hingga seorang ibu tak lagi memedulikan anaknya, seorang suami berlari menjauh dari istrinya, dan seorang anak tidak menolong orang tuanya yang penuh ketakutan? Suasana penuh perenungan inilah yang menyelimuti Masjid Al-Muqorrobin, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sijambe, dalam pengajian rutin malam Rabu pada Selasa, 19 Mei 2026 bertepatan dengan 3 Zulhijah 1447 H.
Melanjutkan rangkaian kajian sebelumnya, Ustadz Tohidin membedah pamungkas Surat ‘Abasa ayat 33-42. Beliau mengajak jama’ah menyadari bahwa pada akhir perjalanannya, setiap manusia hanya akan berdiri sendiri mempertanggungjawabkan setiap detak amalnya.
Melanjutkan Estafet Kajian: Mengingat Asal dan Rezeki
Sebelum memasuki pembahasan inti yang baru, Ustadz Tohidin mengajak jamaah yang hadir bakda Maghrib tersebut untuk menyegarkan ingatan sejenak guna menjaga ketersambungan bahasan dengan pertemuan sebelumnya yang membahas tafsir Surat ‘Abasa ayat 18-32.
"Pada pembahasan sebelumnya, Allah SWT telah mengingatkan kita untuk tidak berlaku kufur kepada hidayah yang diberikan-Nya dengan mengingatkan bahwa kita diciptakan-Nya berasal dari air yang hina, sehingga kita tidak pantas berlaku sombong terhadap seruan-Nya. Kita juga diingatkan agar tidak lalai dengan perintah-Nya melalui perenungan tentang makanan kita dari mana berasal, yakni dari rezeki yang Allah SWT berikan. Semua ini semestinya membuat kita sadar dan bersyukur atas semua yang dikaruniakan kepada kita," ujar Ustadz Tohidin mereview materi lalu.
Menepis Sombong Sebelum Datangnya Sangkakala
Dari fondasi kesadaran asal-usul dan rasa syukur tersebut, kajian melompat pada peringatan masa depan yang menegangkan melalui Ayat 33: "Maka, apabila datang suara yang memekakkan (dari tiupan sangkakala)."
"Dalam Tafsir Jalalain, ini merujuk pada tiupan sangkakala yang kedua. Sementara Ibnu Katsir mengartikan kata ṣākhkhah sebagai suara yang sangat dahsyat hingga memekakkan telinga. Suara inilah yang menjadi batas akhir dari seluruh kisah peradaban manusia, suara tiupan sangkakala yang ditiup malaikat Israfil sebagai penanda tibanya hari Kiamat," jelas Ustadz Tohidin.
Ketika Orang Terkasih Menjadi Asing
Dahsyat dan ngerinya hari kiamat dan mencekamnya Padang Mahsyar digambarkan dengan gamblang melalui Ayat 34-37: "Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, (dari) ibu dan bapaknya, serta (dari) istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya."
Ustadz Tohidin menjelaskan bahwa kengerian hari itu meruntuhkan semua ikatan cinta di dunia. Rasa takut membuat manusia mengalami disorientasi sosial total; tidak ada lagi ego kelompok atau pembelaan dari keluarga.
"Di dunia kita bisa saling mengandalkan, tetapi di hadapan Allah SWT nanti, kita memikul rapor kita sendiri-sendiri. Kesibukan memikirkan nasib pribadi pada saat itu membuat kita tidak peduli lagi pada orang lain, bahkan kepada orang tua yang melahirkan kita atau anak-anak yang kita cintai," papar beliau dengan nada edukatif.
Dua Wajah di Hari Perhitungan
Kajian malam itu ditutup dengan pemaparan takdir akhir manusia yang terbelah menjadi dua golongan besar pada Ayat 38-42.
Golongan pertama digambarkan dalam ayat 38-39: "Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa lagi gembira ria." Mereka adalah orang-orang yang semasa hidupnya konsisten beriman dan beramal sholeh.
Sebaliknya, golongan kedua digambarkan pada ayat 40-42: "Pada hari itu ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram), dan tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan). Mereka itulah orang-orang kafir lagi para pendurhaka."
Itulah wajah orang-orang yang kufur terhadap hidayah yang Allah SWT tunjukkan kepada mereka dan beramal buruk selama mereka hidup di dunia.
"Seperti apa rupa wajah kita di hari akhir nanti, semuanya ditentukan oleh cermin sikap kita hari ini untuk patuh atau ingkar terhadap perintah-perintah Allah SWT, untuk beriman kepada-Nya dan beramal sholeh," tegas Ustadz Tohidin memungkasi ceramahnya.
Kesimpulan: Menentukan Rupa Wajah Masa Depan
Kajian berharga dari Surat ‘Abasa ini memberikan kesimpulan bahwa keselamatan di hari akhir adalah proyek personal yang harus dipersiapkan sejak sekarang. Kedahsyatan hari kiamat akan menghapus segala bentuk pertolongan manusiawi, meninggalkan kita sendirian dengan tumpukan amal yang telah kita perbuat: kufur atau syukur, beramal sholeh atau beramal buruk.
Mari kita manfaatkan sisa usia ini dengan melipatgandakan iman dan amal sholeh, agar kelak saat sangkakala memekakkan jagat raya, wajah kitalah yang termasuk dalam golongan yang berseri-seri dan tertawa penuh kebahagiaan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
