Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nanda Azhari

Go Green Bukan Sekadar Tren: Saatnya Menjadi Strategi untuk Masa Depan

Eduaksi | 2026-09-21 13:58:08

Oleh:Nanda Azhari, Mahasiswi Universitas Pamulang

Membawa tumbler, menggunakan tas belanja sendiri, memilah sampah, atau mengurangi penggunaan plastik sering dianggap sebagai bagian dari gaya hidup go green. Kebiasaan tersebut memang terlihat sederhana. Namun, jika dilakukan secara konsisten dan melibatkan lebih banyak orang, langkah kecil tersebut dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih besar.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah bukanlah masalah kecil. Sampah yang dihasilkan setiap hari membutuhkan sistem pengelolaan yang melibatkan masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan berbagai pihak lainnya.

Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa pada tahun 2025, dari 278 kabupaten/kota yang melakukan penginputan data, timbulan sampah tercatat sekitar 29,2 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 67,1 persen tercatat belum terkelola.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah bukanlah masalah kecil. Sampah yang dihasilkan setiap hari membutuhkan sistem pengelolaan yang melibatkan masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan berbagai pihak lainnya.

Konsep dasar manajemen strategi dapat diterapkan.

Strategi manajemen pada dasarnya tidak hanya digunakan untuk mengelola perusahaan. Prinsipnya juga dapat digunakan dalam menangani permasalahan lingkungan. Ada tujuan yang ingin dicapai, kondisi yang perlu dianalisis, strategi yang harus disusun, kemudian strategi tersebut diterapkan dan dievaluasi.

Dalam konteks go green, langkah pertama adalah memahami masalah yang ada. Misalnya, sebuah lingkungan memiliki masalah utama berupa banyaknya sampah plastik. Daripada hanya mengimbau masyarakat untuk “tidak membuang sampah sembarangan”, diperlukan strategi yang lebih konkret.

Masyarakat dapat memulai dengan pemilahan sampah dari rumah, menyediakan tempat sampah sesuai jenisnya, memperkuat bank sampah, serta membuat sistem pengumpulan dan pencatatan yang jelas. Sampah yang memiliki nilai ekonomi dapat dikumpulkan dan disalurkan untuk didaur ulang, sedangkan sampah organik dapat dimanfaatkan menjadi kompos.

Strategi seperti ini menunjukkan bahwa go green bukan hanya persoalan kepedulian, namun juga bagaimana sumber daya yang ada dikelola secara efektif

Konsep tersebut sejalan dengan arah ekonomi sirkular, yaitu upaya mengurangi penggunaan bahan baku baru, memperpanjang umur pakai produk, meningkatkan penggunaan kembali, dan mendorong daur ulang. Pemerintah melalui Bappenas juga menempatkan sirkuler ekonomi sebagai bagian dari agenda pembangunan 2025–2029.

Dari sudut pandang bisnis, penerapan strategi ramah lingkungan juga dapat membuka peluang. Perusahaan dapat mengurangi penggunaan bahan yang tidak diperlukan, menghemat energi, mengurangi limbah produksi, atau menciptakan produk dan kemasan yang lebih mudah digunakan kembali atau didaur ulang.

Tentu saja, perubahan tersebut tidak selalu mudah. Ada biaya, kebiasaan lama, keterbatasan fasilitas, hingga kurangnya pemahaman masyarakat yang perlu dihadapi. Oleh karena itu, penerapan go green tidak harus dilakukan secara besar-besaran dalam waktu singkat.

Strategi dapat dimulai dari hal sederhana, kemudian dikembangkan secara bertahap. Yang penting adalah adanya tujuan yang jelas dan evaluasi terhadap hasil.

Misalnya, sebuah komunitas menetapkan target mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Setelah program berjalan beberapa bulan, jumlah sampah plastik dapat dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Jika hasilnya belum sesuai target, strategi dapat diperbaiki. Dengan demikian, go green tidak hanya menjadi slogan, namun memiliki ukuran keberhasilan yang dapat dilihat.

Hal ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan gerakan ramah lingkungan tidak hanya bergantung pada satu pihak. Pemerintah dapat menyediakan kebijakan dan fasilitas, masyarakat dapat mengubah kebiasaan, sementara dunia usaha dapat menciptakan produk dan proses bisnis yang lebih berkelanjutan.

Bahkan, perkembangan ekonomi sirkular di Indonesia saat ini mulai diarahkan pada penguatan industri daur ulang dan rantai nilai yang lebih berkelanjutan. Bappenas menyebut Indonesia menghasilkan sekitar 5,5 juta ton sampah plastik per tahun, sementara yang berhasil dikumpulkan untuk didaur ulang baru sekitar 22 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa tantangannya masih besar, tetapi sekaligus menunjukkan adanya ruang untuk inovasi dan strategi pengembangan baru.

Pada akhirnya, go green seharusnya tidak dipandang hanya sebagai tren atau gaya hidup yang populer untuk sementara waktu. Ia perlu menjadi bagian dari cara masyarakat, organisasi, dan dunia usaha dalam mengambil keputusan.

Manajemen strategi mengajarkan bahwa tujuan yang baik memerlukan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Prinsip yang sama dapat digunakan untuk menjaga lingkungan.

Perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Bisa jadi, perubahan tersebut dimulai dari satu rumah yang memilah sampah, satu usaha yang mengurangi plastik, satu komunitas yang mengelola bank sampah, lalu berkembang menjadi gerakan bersama.

Go green bukan sekadar membuat lingkungan terlihat lebih hijau. Lebih dari itu, go green adalah tentang bagaimana kita merancang cara hidup dan cara bekerja yang tetap memberikan ruang bagi generasi berikutnya untuk menikmati lingkungan yang layak.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Terpopuler di

 

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image