Ketika Algoritma Ikut Membentuk Opini Politik Kita
Politik | 2026-09-21 14:19:14
Pernahkah kita menyadari bahwa setelah menonton satu video politik di media sosial, video dengan tema yang hampir sama terus muncul di beranda? Bagi saya, hal ini bukan sekadar kebetulan. Algoritma media sosial mempelajari kebiasaan pengguna melalui apa yang ditonton, disukai, dibagikan, dan dicari. Akibatnya, informasi yang kita terima semakin dipersonalisasi. Fenomena ini menjadi semakin relevan pada 2026 ketika pemerintah juga menyoroti perubahan pola distribusi informasi dari media konvensional menuju platform digital. Ketika informasi yang kita lihat semakin ditentukan oleh aktivitas kita sendiri, muncul pertanyaan penting: apakah kita masih memilih informasi, atau justru informasi yang dipilihkan untuk kita?
Menurut saya, algoritma tidak hanya menentukan apa yang muncul di layar, tetapi secara tidak langsung dapat memengaruhi isu apa yang kita anggap penting. Ketika sebuah topik terus muncul, kita bisa merasa bahwa topik tersebut sedang menjadi perhatian semua orang, padahal belum tentu demikian. Kondisi ini dapat dikaitkan dengan konsep agenda-setting dalam komunikasi politik. Sementara itu, cara sebuah isu disajikan melalui judul, video, gambar, atau narasi berkaitan dengan framing. Artinya, bukan hanya isi informasi yang penting, tetapi juga bagaimana informasi tersebut ditampilkan. Penelitian terbaru mengenai TikTok dalam komunikasi politik Indonesia juga menunjukkan bahwa rekomendasi algoritmik ikut berperan dalam memperluas penyebaran pesan politik melalui akun kreator dan agregator.
Persoalannya menjadi lebih serius ketika algoritma bertemu dengan hoaks, disinformasi, dan kebiasaan kita untuk hanya menerima informasi yang sesuai dengan pandangan sendiri. Jika seseorang terus melihat konten dengan sudut pandang yang sama, ia bisa semakin yakin bahwa pandangannya adalah gambaran yang paling benar. Menurut saya, inilah salah satu persoalan terbesar dalam komunikasi politik digital. Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk bertukar gagasan, bukan sekadar tempat mencari pembenaran. Pemerintah sendiri pada 2026 mengingatkan bahwa algoritma tidak melakukan pemeriksaan fakta, sehingga ruang digital tetap rentan terhadap hoaks, misinformasi, dan pembentukan persepsi yang tidak selalu sesuai dengan kenyataan.
Karena itu, saya tidak berpikir bahwa kita harus menyalahkan algoritma sepenuhnya. Pengguna juga memiliki tanggung jawab terhadap informasi yang mereka konsumsi dan sebarkan. Bagi saya, langkah paling sederhana adalah berhenti sejenak sebelum mempercayai sebuah informasi, memeriksa sumbernya, membandingkannya dengan pemberitaan lain, serta berani melihat sudut pandang yang berbeda. Algoritma mungkin dapat menentukan apa yang muncul di layar kita, tetapi kita tetap memiliki pilihan untuk menentukan apa yang akan kita percaya.Di tengah derasnya informasi politik, kemampuan berpikir kritis bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bagian penting dari tanggung jawab kita sebagai pengguna media sosial dan warga negara.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
