Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Ronal

Ketika Dirimu Kehilangan Arah

Nasihat | 2026-09-03 13:13:28
Foto : Sunset di tepi sungai jembatan lamyong, Banda Aceh

Hidup adalah proses memilih dan kita terus berusaha semaksimal mungkin atas pilihan yang telah kita ambil kemudian membiarkan takdir yang menentukannya. Sebagian orang ada yang memilih untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang perguruan tinggi, ada yang ingin mengabdikan dirinya menjadi Aparatur sipil negara, kemudian ada yang memilih untuk terjun ke dunia kerja dengan berwirausaha, dan pekerjaan wiraswasta lainya.

Meskipun demikin perjalanan dan cara orang menjalani hidup akan berbeda sesuai pilihan yang akan diambilnya, dan pilhan-pilihan tersebut memiliki tantangan, masalah dan perjuangannya masing-masing. Setiap yang memilihnya akan menemukan proses yang mudah danpun akan menemukan proses yang sulit, namun kesulitan itu akan menjadi pembelajaran yang menuntutnya menjadi dewasa dalam menjalani hidup.

Saat ini, untuk kita yang usianya 18-30 tahunan adalah masa yang tidak lagi menjadi anak-anak, waktu telah menuntun kita beranjak dewasa. Pada fase ini masalah yang akan menimpa diantaranya perasaan cemas, bingung soal hubungan, kehilangan arah soal karir, finansial, serta pencarian jati diri.

Quarter life krisis merupakan istilah yang populer untuk menggambarkan keadaan emosional seseorang yang memasuki usia tersebut. Ini muncul akibat tekanan ekspetasi Keadaan yang berlebihan, kemunculannya bisa dari diri sendiri maupun lingkungan, perbandian sosial dengan teman-teman sebaya yang memantik munculnya keadaan ini.

Fase ini juga dinilai sebagai masa emas dalam menentukan arah dan tujuan hidup, namun saat menjalaninya tidaklah seperti yang dibayangkan. Dibalik semua itu ada air mata yang perlahan menetes, semangat yang naik turun dalam meraih mimpi, ada yang diam-diam berjuang menghadapi tekanan mental, meskipun tampaknya baik-baik saja dari luar. Overthinking ini adalah bagian masalah mental yang sering dirasakan.

Saya teringat salah satu pesan dari karya seorang tokoh yakni Buya Hamka dalam bukunya Tasawuf modern dan falsafah hidup, beliau mengatakan bahwa krisis emosional seperti rasa takut gagal, cemas dan merasa tertinggal atau hilang arah hidup bukanlah akhir dari segalanya, ia adalah fase yang menuntut transisi spiritual dalam pengunduhan jiwa.

Pesan tersebut memiliki makna yang sangat mendalam untuk direnungi, bahwabagaimana kerumitan hidup yang sedang kita jalani saat ini ia mengingatkan kita akan ada kemudahan-kemudahan yang datang menghampiri, seperi pesan dari pemilik langit dan bumi "Sesunguhnya bersama kesulitan akan ada kemudahan" pesan ini dua kali diulang bahwa kita harus bisa bersabar dan berdamai dengan kesulitan tersebut.

Pesan ini juga mengajarkan bahwa krisis adalah tantangan yang harus kita hadapi apapun dan bagaimana risikonya. Merantau adalah salah satu yang membentuk mental tersebut, ada yang merantau untuk melanjutkan pendidikan, ada yang merantau untuk melanjutkan pekerjaan dan lain sebagainya.

Melalui karya buya hamka dalam tenggelamnya kapal van derwick, beliau juga berpesan "Anak laki-laki tak boleh dihiraukan panjang, hidupnya adalah buat berjuang, biarkan kemudi patah, biarkan layar robek, itu lebih mulia, daripada mengutarakan haluan pulang"

Ungkapan tersebut juga menyinggung bahwa sebagai laki-laki kita haruslah mempunyai semangat dan daya juang untuk menjalani kehidupan ini, apapun yang masalah yang saat ini kita rasakan, namun rumitnya menghadapi selayaknya seorang anak muda yang memiliki semangat, tekad dan tujuan untuk meraih impian-impian tersebut.

Selanjutnya untuk perempuan yang saat ini sedang berjuang fokuslah membangun kualitas diri, bukan meratakan pengakuan yang belum datang. Seperti pesan Buya Hamka "Bahwasanya perempuan itu adalah tiang negara. Jika perempuan itu baik, baiklah negara, dan jika mereka bobrok, bobrok pulalah negara. Mereka adalah tiang dan biasanya tiang rumah tidak begitu terlihat. Namun, jika rumah sudah condong, periksalah tiangnya."

Hamka berpesan bahwa perempuan bukan sekedar pelengkap, ia adalah sosok yang menentukan masa depan bangsa. Dalam cirisis quarter life masa depan, tidak jarang perempuan juga merasa cemas dengan bingung dengan pertanyaan apakah mengejar pendidikan tinggi atau ambisi tersebut adalah hal yang sia-sia saja karena harapan nanti harus mengurus rumah tangga jua. Beliau menekankan bahwa tuntutan ilmu adalah kewajiban mutlak bagi seorang laki-laki dan perempuan. Karna perempuan yang terdidik akan melahirkan generasi yang kuat dan cerdas dalam menjalani hidup.

Sebagai penutup, semua kita sedang berjuang dengan cara dan jalanya masing-masing. Apapun masalah yang kita hadapi saat ini, itu adalah bagian dari proses. Maka dengan itu nikmatilah setiap proses yang sedang kita jalani saat ini, berusahalah dengan optimal, berjuanglah dengan sungguh-sungguh, dan bersemangatlah dalam hidup ini, karena kita tidak akan pernah tahu langkah kecil mana yang akan mengantarkan kita pada mimpi-impian tersebut.

#BNA, 3 September 2026

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image