Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Muhammad Furqon Ardhie

Menemukan Tuhan Melalui Kesadaran: Memaknai Perintah Pertama dalam Al-Qur'an

Agama | 2026-05-07 15:58:23

PEKALONGAN – Sering kali kita terjebak dalam rutinitas harian yang padat hingga lupa bertanya: dari mana kita berasal, untuk apa kita ada dan apa tujuan akhir kita? Di tengah kemudahan fasilitas duniawi yang kita nikmati, Masjid Al-Muqorrobin Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sijambe, Wonokerto kembali mengajak jamaah untuk merenungkan esensi keberadaan manusia melalui pengajian rutin Selasa malam Rabu tanggal 28 April 2026 bertepatan 12 Dzulqa’dah 1447 H. Dengan membahas Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 21-22, Ustadz Choirudin mengungkap sebuah fakta menarik bahwa perintah pertama yang muncul secara urutan di dalam Al-Qur'an bukanlah tentang ritual yang spesifik, melainkan perintah untuk menyembah Sang Pencipta.

Seruan Universal bagi Seluruh Manusia

Ustadz Choirudin menjelaskan bahwa setelah Al-Qur'an membagi golongan manusia menjadi bertaqwa, kafir, dan munafik (Al Baqarah ayat 1 – 20), Allah langsung memberikan seruan umum kepada seluruh umat manusia. Hal ini tertuang dalam Al Baqarah ayat 21: "Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa."

Beliau menyoroti penggunaan diksi "Rabb" atau Tuhan yang Menciptakan, bukan langsung menyebut nama "Allah".

"Ini adalah seruan penggugah kesadaran bagi seluruh manusia, apa pun latar belakangnya. Pada seruan pertama dalam Al Qur'an ini, kita diajak melihat kembali asal-usul kita yang diciptakan Sang Pencipta dari tidak ada menjadi ada. Menyembah yang berarti menghambakan diri dengan kerelaan hati kepada Dia yang telah menciptakan kita dan generasi sebelum kita, dengan satu tujuan akhir: menjadi pribadi yang bertaqwa," papar Ustadz Choirudin.

Jama'ah khidmat menyimak kajian.

Fasilitas Langit dan Bumi: Bukti Kasih Sayang Sang Pencipta

Melanjutkan pada Ayat 22, pemateri memaparkan bagaimana Tuhan memberikan "fasilitas mewah" tanpa biaya bagi kelangsungan hidup manusia. Tuhan Sang Pencipta menjadikan bumi sebagai hamparan tempat berpijak yang nyaman, langit sebagai naungan atap pelindung, serta menurunkan hujan sebagai sumber rezeki.

“(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (QS. Al Baqarah : 22)

"Bumi ini dimudahkan untuk kita lewati, langit melindungi kita dari bahaya benda-benda angkasa, dan air hujan menumbuhkan buah-buahan untuk makan kita. Semua fasilitas ini disediakan oleh Tuhan yang menciptakan kita," tambahnya di hadapan para jamaah bakda Maghrib tersebut.

Mengenal Rububiyah dan Uluhiyah: Larangan Menduakan Tuhan

Ustadz Choirudin menutup kajian dengan penjelasan mendalam mengenai dua sifat ketuhanan. Pada ayat 21 dan awal ayat 22, manusia diperkenalkan dengan sifat Rububiyah, yaitu peran Allah SWT sebagai pencipta, pengatur, dan pemberi rezeki bagi alam semesta.

Namun, pengenalan itu harus berujung pada sifat Uluhiyah, sebagaimana penutup ayat 22 bahwa penyembahan kepada Sang Pencipta haruslah dengan memurnikan penghambaan hanya kepada-Nya semata tanpa mengadakan tandingan bagi-Nya, Tuhan Sang Pencipta: Allah SWT.

"Setelah kita sadar bahwa kita berasal dari Tuhan Sang Pencipta, semua fasilitas ini dari Tuhan Sang Pencipta, maka hendaknya kita menyembah-Nya dan janganlah kita menyekutukan-Nya. Secara fitrah dan kesadaran paling dalam, manusia sebenarnya mengetahui bahwa hanya ada satu kekuatan yang layak disembah tanpa tandingan," tegas beliau.

Jama'ah perempuan menyimak kajian di teras masjid.

Menanamkan Tauhid dalam Keseharian

Kajian malam ini memberikan kesimpulan bahwa ibadah kita seharusnya lahir dari rasa syukur atas penciptaan dan fasilitas hidup yang luar biasa. Ketakwaan bukan sekadar label, melainkan hasil dari penghambaan yang tulus kepada Sang Pemilik Langit dan Bumi.

Mari kita periksa kembali hari-hari kita: Sudahkah setiap nikmat yang kita injak di hamparan bumi, atap langit dan setiap tetes air yang kita nikmati membawa kita lebih mendekat kepada Sang Pencipta? Mari kita teguhkan niat untuk hanya menyembah-Nya dan menjauhkan diri dari segala bentuk penyekutuan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi di dalam hati.

Kajian diakhiri dengan do'a bersama dilanjutkan sholat Isya' berjama'ah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image