Sebelum Kita Benar-Benar Pulang
Khazanah | 2026-08-22 21:46:07
Matahari perlahan condong menuju ufuk.
Hari terbaik dalam sepekan sedang menuju penghujungnya.
Suara kehidupan masih terdengar di sekitar kita, tetapi entah mengapa, pada sore seperti ini hati terasa lebih mudah diajak pulang.
Pulang kepada diri sendiri.
Pulang kepada kesadaran tentang umur.
Dan, terutama, pulang kepada Allah.
Hari Jumat datang setiap pekan, tetapi tidak ada seorang pun di antara kita yang mendapat jaminan bahwa ia masih akan bertemu dengan Jumat berikutnya.
Mungkin karena itulah, sore Jumat adalah waktu yang indah untuk sejenak berhenti menghitung apa yang telah kita miliki, lalu mulai bertanya:
Apa yang sebenarnya telah kita siapkan untuk bertemu dengan Allah?
Pertanyaan itu membawa kita kepada sebuah kisah yang dinisbatkan kepada Imam Ibn al-Jauzi, seorang ulama besar yang hidupnya dipenuhi ilmu, dakwah, pendidikan, dan penulisan.
Melalui majelis-majelisnya, ribuan manusia memperoleh hidayah. Banyak orang bertobat setelah mendengar nasihatnya. Ratusan karya lahir dari tangannya dan menjadi warisan ilmu bagi generasi sesudahnya.
Namun yang paling menyentuh bukanlah angka-angka itu.
Bukan jumlah muridnya.
Bukan banyaknya kitabnya.
Bukan luasnya ketenarannya.
Yang membuat hati bergetar justru sebuah kalimat yang dinisbatkan kepadanya ketika berbicara kepada murid-muridnya:
“Apabila kalian telah masuk surga, lalu kalian tidak mendapatiku berada bersama kalian, maka tanyakanlah tentang diriku. Katakanlah: ‘Wahai Tuhan kami, dahulu hamba-Mu si Fulan pernah mengingatkan kami kepada-Mu.’”
Lalu beliau menangis.
Seorang Ibn al-Jauzi menangis.
Seorang alim yang umurnya dihabiskan untuk ilmu menangis.
Seorang dai yang melalui lisannya banyak manusia kembali kepada Allah menangis.
Seorang penulis yang meninggalkan ratusan karya masih takut tentang bagaimana akhir perjalanan dirinya di hadapan Allah.
Lalu...
bagaimana dengan kita?
Jika seorang alim mengatakan demikian tentang dirinya, lalu apa yang dapat kita katakan tentang diri kita, orang-orang yang penuh dosa dan kelalaian?
Jika demikian keadaan Ibn al-Jauzi, lalu dengan apakah kita merasa aman?
Kita yang salatnya masih sering kehilangan kekhusyukan.
Kita yang membaca al-Qur’an, tetapi hati kadang tidak ikut membacanya.
Kita yang mengucapkan istighfar, sementara dosa-dosa lama masih kita pelihara.
Kita yang begitu mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi begitu sulit menangisi kesalahan diri sendiri.
Kita yang merasa sedih ketika manusia tidak menghargai kita, tetapi jarang bersedih ketika hati kita semakin jauh dari Allah.
Kita yang ingin dikenal sebagai orang baik, padahal di tempat yang tidak diketahui manusia, hanya Allah yang mengetahui siapa diri kita sebenarnya.
Kita yang mungkin telah begitu banyak berbicara tentang agama, tetapi belum tentu sebanyak itu berbicara kepada Allah dalam kesunyian.
Kita yang menyampaikan nasihat kepada orang lain, tetapi terkadang nasihat itu belum sepenuhnya menembus hati kita sendiri.
Jika seorang Ibn al-Jauzi masih menangis, dari manakah datangnya keberanian kita untuk merasa telah cukup beramal?
Sungguh, semakin seseorang mengenal Allah, semestinya semakin ia tidak merasa besar karena amalnya.
Sebab ia mengetahui:
berapa banyak ibadah yang tercampur riya,
berapa banyak kebaikan yang diam-diam menginginkan pujian,
berapa banyak ilmu yang tidak diamalkan,
berapa banyak kata indah tentang Allah yang keluar dari lisan sementara hati sedang jauh dari-Nya.
Mungkin manusia mengenal kita sebagai orang baik.
Mungkin mereka memanggil kita dengan gelar yang mulia.
Mungkin nama kita disebut dengan penuh penghormatan.
Mungkin orang memuji ilmu, karya, dakwah, jabatan, dan pengabdian kita.
Tetapi ketika malam datang dan semua manusia telah pergi...
kita tahu ada satu kenyataan yang tidak dapat kita sembunyikan:
Allah mengetahui diri kita lebih dalam daripada siapa pun.
Allah mengetahui air mata yang tulus dan air mata yang dibuat-buat.
Allah mengetahui amal yang benar-benar untuk-Nya dan amal yang diam-diam mengharap pandangan manusia.
Allah mengetahui luka yang kita sembunyikan.
Allah juga mengetahui dosa yang tidak seorang pun mengetahuinya.
Maka bagaimana mungkin hati masih merasa layak membanggakan diri?
Karena itulah para salihin begitu takut terhadap pujian.
Ketika manusia memuji apa yang tampak dari diri mereka, hati mereka justru berkata:
“Ya Allah, janganlah Engkau menghukum kami karena apa yang mereka katakan tentang kami. Ampunilah apa yang tidak mereka ketahui dari diri kami, dan jadikanlah kami lebih baik daripada apa yang mereka sangkakan.”
Ya Allah... Betapa berat doa ini bila benar-benar kita hayati.
“Ampunilah apa yang tidak mereka ketahui tentang kami.”
Sebab memang ada banyak hal tentang diri kita yang tidak diketahui manusia.
Ada maksiat yang hanya Allah mengetahuinya.
Ada kelalaian yang ditutupi-Nya.
Ada cacat hati yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Ada doa yang tidak khusyuk.
Ada salat yang tergesa-gesa.
Ada pandangan yang tidak terjaga.
Ada ucapan yang pernah melukai.
Ada hak orang lain yang mungkin belum tertunaikan.
Ada dosa yang bahkan telah kita lupakan.
Tetapi Allah tidak pernah lupa.
Kalau Allah membuka seluruh aib kita kepada manusia, masihkah mereka akan memuji kita sebagaimana hari ini?
Kalau Allah menyingkap seluruh isi hati kita, masihkah kita berani mengangkat wajah dengan penuh kebanggaan?
Maka sesungguhnya kemuliaan kita bukan karena kita tanpa dosa.
Kemuliaan kita hanyalah karena Allah masih menutupi dosa-dosa kita.
Sore Jumat ini...
mungkin kita tidak perlu terlalu banyak meminta dunia kepada Allah.
Mungkin untuk sesaat, kita cukup berkata:
“Ya Allah, aku lelah membawa diriku sendiri.”
Aku datang dengan salat yang belum sempurna.
Aku datang dengan hati yang masih berpenyakit.
Aku datang membawa dosa yang bahkan aku malu menyebutkannya.
Aku datang dengan umur yang terus berkurang, sementara bekalku belum seberapa.
Aku datang bukan karena merasa pantas menerima surga-Mu.
Aku datang karena aku tidak memiliki pintu lain selain pintu-Mu.
Jika Engkau menolakku, kepada siapa lagi aku harus pergi?
Ya Rabb
Kami tidak datang kepada-Mu dengan amal yang dapat kami banggakan.
Kami datang membawa kekurangan.
Kami datang membawa penyesalan.
Kami datang dengan hati yang terkadang pecah oleh dosa-dosanya sendiri.
Tetapi kami datang membawa satu hal yang tidak ingin kami lepaskan:
harapan kepada rahmat-Mu.
Bukankah Engkau sendiri berfirman:
Lā taqnaṭū min raḥmatillāh — “Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.”
Maka sekalipun dosa kami memenuhi lembaran umur, kami masih mengetuk pintu-Mu.
Sekalipun langkah kami berulang kali menjauh, kami masih ingin pulang.
Sekalipun kami pernah berjanji lalu kembali terjatuh, kami masih ingin berkata:
Yā Rabb, lā taruddanā ‘an bābik — “Ya Rabb, jangan Engkau usir kami dari pintu-Mu.”
Pada akhirnya, barangkali bukan banyaknya amal yang membuat seseorang selamat.
Sebab siapa di antara kita yang mampu membayar surga dengan amalnya?
Kita beribadah dengan tubuh yang Allah berikan.
Kita bersujud dengan kekuatan yang Allah anugerahkan.
Kita berdzikir menggunakan lisan yang Allah ciptakan.
Bahkan kemampuan untuk mengucapkan “Astaghfirullah” adalah nikmat dari-Nya.
Maka dengan apakah kita dapat berbangga?
Tidak ada.
Kita miskin di hadapan Allah.
Dan barangkali saat seseorang benar-benar menyadari kemiskinannya kepada Allah, di situlah pintu penghambaan mulai terbuka.
Ada satu hal lagi yang membuat kisah Ibn al-Jauzi begitu menyentuh.
Beliau tidak meminta murid-muridnya kelak berkata:
“Ya Allah, ia seorang penulis besar.”
Bukan.
Ia tidak meminta mereka berkata:
“Ya Allah, ia seorang ulama terkenal.”
Bukan.
Ia juga tidak meminta disebutkan berapa banyak kitab yang telah ditulisnya.
Yang ingin dikenang hanyalah:
“Ya Allah, dahulu ia pernah mengingatkan kami kepada-Mu.”
Subhanallah...
Betapa sederhana.
Namun betapa agung.
Mungkin inilah ukuran keberhasilan hidup yang sesungguhnya:
bukan berapa banyak manusia yang mengenal nama kita,
tetapi...
berapa banyak manusia yang mengenal Allah karena pernah bertemu dengan kita.
Bukan berapa banyak orang yang memuji kita,
tetapi...
berapa banyak orang yang diam-diam mendoakan kita setelah kita tiada.
Bukan seberapa tinggi jabatan yang kita capai,
tetapi...
adakah satu hati yang menjadi lebih dekat kepada Allah karena kehadiran kita?
Bayangkan...
Suatu hari tubuh kita telah berada di bawah tanah.
Telepon kita tidak lagi aktif.
Kursi yang biasa kita duduki telah ditempati orang lain.
Nama kita perlahan tidak lagi disebut.
Foto-foto kita tinggal menjadi kenangan.
Anak-anak dan keluarga melanjutkan hidup.
Teman-teman satu demi satu semakin jarang mengingat kita.
Lalu pada suatu malam...
di tempat yang jauh...
ada seorang manusia mengangkat tangan dan berkata:
“Ya Allah, ampunilah dia. Dahulu melalui nasihatnya aku mengenal-Mu.”
Betapa kita membutuhkan doa seperti itu.
Ketika tangan kita sendiri tidak lagi mampu bersedekah.
Ketika lisan kita tidak lagi mampu berdzikir.
Ketika kaki kita tidak lagi mampu melangkah menuju masjid.
Ketika seluruh hubungan kita dengan dunia telah terputus—
ternyata masih ada seseorang yang menghadiahkan doa kepada kita.
Mungkin karena satu ilmu yang pernah kita ajarkan.
Satu anak yatim yang pernah kita bahagiakan.
Satu murid yang pernah kita bimbing.
Satu orang berdosa yang tidak kita hina, tetapi kita tuntun perlahan kembali kepada Allah.
Satu hati yang hampir putus asa, lalu kita katakan kepadanya:
“Jangan menyerah. Rahmat Allah masih luas.”
Dan kalimat kecil itu ternyata menjadi sebab ia kembali kepada Tuhannya.
Maka, di sore Jumat ini...
jangan hanya bertanya:
“Apa yang telah aku capai dalam hidup?”
Tanyakanlah sesuatu yang lebih dalam:
“Siapa yang telah menjadi lebih dekat kepada Allah karena keberadaanku?”
Jika belum ada...
maka selama napas masih ada, belum terlambat.
Kita masih dapat memulai.
Dengan satu nasihat.
Dengan satu maaf.
Dengan satu sedekah.
Dengan satu ilmu.
Dengan satu pelukan kepada anak.
Dengan satu doa kepada orang tua.
Dengan satu pesan kepada seseorang:
“Aku mencintaimu karena Allah. Jangan jauh-jauh dari-Nya.”
Siapa tahu, amal yang kita anggap kecil itulah yang kelak Allah jadikan sebab keselamatan kita.
Dan apabila sore Jumat ini mata mulai basah...
jangan buru-buru mengusap semuanya.
Biarkan beberapa tetes air mata itu jatuh.
Barangkali sudah terlalu lama mata ini menangis karena dunia.
Menangis karena kehilangan.
Menangis karena manusia.
Menangis karena kecewa.
Menangis karena tidak mendapatkan apa yang kita inginkan.
Maka betapa indah bila kali ini kita menangis karena satu pertanyaan:
“Ya Allah, bagaimana kelak akhir hidupku di hadapan-Mu?”
Air mata tidak selalu berarti kesedihan.
Terkadang ia adalah cara hati membersihkan jalan pulangnya menuju Allah.
Ya Allah, selimutilah kami dengan rahmat-Mu dan anugerahkanlah kepada kami ḥusnul khātimah (akhir kehidupan yang baik).
Ya Allah...
Jika selama hidup ini kami lebih banyak dikenal manusia daripada dikenal oleh amal saleh kami di langit, maka ampunilah kami.
Jika kami pernah merasa besar karena ilmu, kecilkanlah ego kami di hadapan kebesaran-Mu.
Jika pujian manusia telah membuat kami lupa siapa diri kami sebenarnya, kembalikanlah kami kepada ketulusan seorang hamba.
Jika dosa-dosa kami telah menghitamkan hati, basuhlah ia dengan air mata tobat sebelum mata ini tertutup untuk selama-lamanya.
Ya Allah...
Jangan hukum kami karena pujian manusia kepada kami.
Ampunilah apa yang mereka tidak ketahui tentang kami.
Dan jadikanlah kami benar-benar lebih baik daripada apa yang mereka sangkakan.
Ya Allah, tutupilah aib kami.
Ampunilah dosa kami.
Perbaikilah hati kami.
Dan ketika saat pulang itu akhirnya tiba...
jangan ambil nyawa kami kecuali dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.
Jika Jumat ini ternyata adalah salah satu Jumat terakhir dalam umur kami, maka jadikan sore ini sebagai saat ketika hati kami sungguh-sungguh kembali kepada-Mu.
Dan jika Engkau masih memberi kami kesempatan bertemu dengan Jumat berikutnya, maka jangan biarkan kami kembali sebagai manusia yang sama.
Jadikan kami sedikit lebih lembut.
Sedikit lebih ikhlas.
Sedikit lebih banyak menangis karena-Mu.
Sedikit lebih sedikit mencintai pujian manusia.
Dan jauh lebih rindu untuk bertemu dengan-Mu.
Sebab pada akhirnya, kita semua sedang berjalan pulang.
Ada yang pulang dengan membawa nama besar.
Ada yang pulang dengan membawa harta.
Ada yang pulang dengan membawa gelar dan kedudukan.
Namun di depan pintu keabadian, semuanya akan tertinggal.
Yang kita harapkan hanyalah satu:
ketika kita datang dengan tangan kosong, dosa yang banyak, dan amal yang tidak seberapa—
semoga Allah menyambut kita bukan karena kita pantas,
tetapi karena Dia Maha Pengasih.
Ya Allah, kami tidak menggantungkan keselamatan kepada amal-amal kami. Kami menggantungkannya kepada rahmat-Mu.
Maka jangan palingkan kami dari pintu-Mu.
Jangan biarkan hati kami mati sebelum tubuh kami mati.
Dan jangan biarkan dunia menjadi cinta terakhir yang memenuhi dada kami.
Biarkan cinta kepada-Mu menjadi sesuatu yang tersisa ketika segala sesuatu telah pergi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
