Rinjani Bukan Tujuan Terakhir
Agama | 2026-09-08 18:49:11“Indahnya touring, nikmatnya kajian”
Sudah lama saya menyukai slogan ini. Slogan yang menjadi “nafas” aktivitas saudara-saudara kita dari komunitas muslim biker indonesia. Saya pun suka melakukan perjalanan jauh dengan motor atau yg dikenal dengan sebutan touring. Tapi untuk perjalanan kemarin, terus terang saya belum terlalu berani memakainya.
Touring-nya memang dapat. Jalan panjang, menyeberangi laut, mengejar sunrise dan sunset, melewati gunung dan pantai, bahkan sampai sempat bermalam di Sembalun dengan Rinjani berdiri megah di hadapan.
Tapi “nikmatnya kajian”-nya?
Selama perjalanan itu saya belum berkesempatan hadir dan duduk langsung di majelis satu orang ustadz pun. Jadi mungkin sedikit excuse untuk diri sendiri, kali ini, “kajian ayat kauniyyah” mandiri dulu. Tentu ia tidak menggantikan nikmatnya duduk di majelis ilmu. Tetapi perjalanan terkadang memberi ruang bagi hati untuk sedikit diam, melihat, lalu merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah yang terbentang dalam ciptaan-Nya.
Dan salah satu momen itu saya rasakan ketika bermalam di Sembalun.Rinjani yang megah kini di hadapan mata. Di tempat seperti itu, hati rasanya lebih mudah diam.
Saya sempat berpikir, "Kalau Allah memberikan sedikit saja keindahan dan ketenangan seperti ini di dunia, bagaimana indahnya Jannah?'
Namun, ada satu hal yang membuat saya terdiam lebih lama. Untuk sampai ke Jannah, perjalanan manusia tidak berhenti setelah kehidupan dunia ini selesai.
Ada Hari Akhir yang harus kita lalui.
Hari ketika semua yang dahulu terasa penting di dunia menjadi kecil. Hari ketika manusia berdiri di hadapan Allah. Hari ketika tidak ada lagi perjalanan untuk kembali, dan tidak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki apa yang telah berlalu.
Dan ketika memikirkan perjalanan itu, saya teringat rangkaian ayat dalam Surah Az-Zukhruf. Menariknya, Allah tidak langsung berbicara tentang Jannah. Allah membawa kita terlebih dahulu kepada suasana Hari Akhir.
Allah berfirman:
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa' (Az-Zukhruf 43:67)
Ayat ini terasa dekat ketika direnungkan dalam sebuah perjalanan. Di dunia ini, kita mungkin punya teman dalam perjalanan. Kita berkendara bersama, tertawa bersama, berhenti untuk makan bersama, menikmati pemandangan bersama, dan membawa pulang begitu banyak cerita.
Tetapi Allah mengingatkan bahwa ada satu perjalanan terakhir ketika tidak semua kebersamaan itu akan tetap berarti. Pada hari itu, bahkan sahabat dekat pun dapat menjadi musuh satu sama lain. Kecuali orang-orang yang bertakwa.
Lalu tepat setelah gambaran yang begitu berat itu, suasananya berubah. Di tengah ketakutan Hari Akhir, terdengar sebuah panggilan:
يَا عِبَادِ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ
“Wahai hamba-hamba-Ku! Tidak ada ketakutan bagimu pada hari itu, dan tidak pula kamu bersedih hati.” (Az-Zukhruf 43:68)
Bayangkan berada pada hari itu. Ketika manusia diliputi ketakutan tentang apa yang akan terjadi pada dirinya, tiba-tiba Allah memanggil sebagian dari mereka:
Yā ‘ibādi
Wahai hamba-hamba-Ku. Tidak ada ketakutan atas kalian hari ini. Dan kalian tidak akan bersedih.
Dalam sebuah atsar yang disebutkan oleh para mufassir, ketika panggilan ini terdengar, manusia berharap bahwa merekalah yang dimaksud. Saya pun membayangkan, betapa kita semua ingin termasuk dalam panggilan itu. Tetapi kemudian datang ayat berikutnya. Seolah Allah menjelaskan siapa sebenarnya orang-orang yang mendapatkan ketenangan tersebut:
الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka berserah diri.” ( Az-Zukhruf 43:69)
Di sinilah tadabburnya terasa jauh lebih personal. Ketika memandang Rinjani, pertanyaannya bukan lagi sekadar:
“Betapa indah ciptaan Allah.”
Tetapi berubah menjadi:
“Ya Allah apakah aku termasuk mereka?”
Sudahkah hati ini benar-benar beriman kepada ayat-ayat-Mu?
Sudahkah aku belajar tunduk ketika ketetapan-Mu tidak selalu sesuai dengan
keinginanku?
Sudahkah perjalanan hidup ini perlahan menjadi perjalanan untuk semakin
menyerahkan diri kepada-Mu?
Karena ternyata sebelum berbicara tentang keindahan Jannah, Allah terlebih dahulu berbicara tentang siapa yang akan mendapatkan keamanan pada Hari itu. Iman. Takwa. Dan ketundukan kepada Allah.
Barulah setelah itu datang ayat berikutnya. Sebuah kalimat yang mungkin menjadi salah satu kalimat paling indah yang ingin kita dengar setelah seluruh perjalanan panjang kehidupan ini selesai:
ادْخُلُوا الْجَنَّةَ أَنْتُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُونَ
“Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan.” (Az-Zukhruf 43:70)
Subhanallah.
Urutannya begitu indah.
Ayat 67: kita diperlihatkan Hari Akhir dan siapa persahabatan yang akan bertahan.
Ayat 68: di tengah ketakutan itu, Allah memberikan keamanan kepada hamba-hamba-Nya.
Ayat 69: Allah menjelaskan siapa mereka—orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat-Nya dan berserah diri kepada-Nya.
Ayat 70: barulah datang panggilan: “Masuklah kamu ke dalam surga ”
Malam itu, Rinjani terasa mengajarkan sesuatu yang berbeda.
Mungkin selama ini kita melakukan perjalanan jauh untuk mencari tempat-tempat yang indah. Kita mengejar gunung, laut, sunrise, sunset, dan jalan-jalan yang belum pernah kita lewati. Tetapi semua perjalanan itu akan selesai. Semua pemandangan itu akan kita tinggalkan. Dan akan datang satu perjalanan terakhir yang jauh lebih penting daripada semua perjalanan yang pernah kita lakukan: perjalanan pulang kepada Allah.
Rinjani hanyalah salah satu keindahan yang Allah izinkan saya nikmati sebentar di dunia. Tetapi malam itu, saya tidak hanya dibuat merindukan sebuah gunung. Saya dibuat merindukan sebuah panggilan.
يَا عِبَادِ
“Wahai hamba-hamba-Ku ”
Ya Allah, ketika Hari itu tiba, jadikan kami termasuk orang-orang yang Engkau panggil:
لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ
“Tidak ada ketakutan atas kalian pada hari ini, dan kalian tidak akan bersedih.”
Jadikan kami termasuk mereka yang beriman kepada ayat-ayat-Mu, yang belajar tunduk dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Mu. Dan setelah seluruh perjalanan dunia ini selesai, dengan rahmat-Mu, izinkan kami mendengar panggilan berikutnya:
ادْخُلُوا الْجَنَّةَ
“Masuklah kamu ke dalam surga ”
Ya Allah, jadikanlah kami di antara mereka. Bukan karena kami merasa pantas dengan amal-amal kami, tetapi karena kami berharap kepada luasnya rahmat-Mu. Mungkin itu dulu “kajian” saya selama perjalanan kemarin. Membaca sedikit ayat kauniyyah-Nya di Sembalun, lalu dari keindahan ciptaan-Nya, hati dibawa kembali untuk merenungkan ayat-ayat-Nya dalam Al-Qur’an.
Semoga setelah touring selesai, Allah tetap mudahkan kaki ini untuk kembali duduk di majelis ilmu. Indahnya touring, nikmatnya kajian. Semoga penggalan pertama dari slogan ini membuat mata semakin peka melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, dan yang kedua membimbing hati agar memahami petunjuk-Nya.
Dan semoga keduanya membawa kita pada tujuan yang sama yaitu semakin mengenal Allah, semakin tunduk kepada-Nya, dan akhirnya pulang kepada-Nya dalam keadaan berserah diri.
Aamiin, ya Rabbal ‘alamin
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
