Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Nurhaliza Vania Akbariani

Manusia Bukan Sekadar Data: Refleksi Budi Luhur di Era Artificial Intelligence

Eduaksi | 2026-09-12 21:58:41

Saya pernah berpikir, apa yang akan tersisa dari diri seseorang ketika suatu hari ia sudah tidak ada?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Namun, di era digital, jawabannya menjadi semakin menarik. Saat ini, seseorang tidak hanya meninggalkan kenangan dalam bentuk foto, surat, atau barang pribadi. Kita juga meninggalkan banyak jejak di dunia digital: unggahan media sosial, percakapan, video, rekaman suara, tulisan, foto, hingga berbagai karya yang tersimpan di internet.

Jejak tersebut bahkan dapat bertahan jauh lebih lama daripada keberadaan kita sendiri.

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) membuat persoalan ini semakin menarik. AI kini mampu mengolah foto, suara, tulisan, dan berbagai data lainnya untuk menghasilkan sesuatu yang menyerupai manusia. Foto dapat dibuat bergerak, suara dapat ditiru, gaya tulisan dapat dipelajari, bahkan pola percakapan seseorang dapat direkonstruksi oleh sistem.

Ilustrasi hubungan manusia, data, dan Artificial Intelligence di era digital. Ilustrasi dibuat dengan bantuan Artificial Intelligence.

Kemampuan tersebut membuka berbagai kemungkinan baru. Salah satunya adalah munculnya griefbot atau deadbot, yaitu teknologi yang menggunakan data seseorang yang telah meninggal untuk membuat representasi digital yang dapat menghasilkan percakapan atau respons yang menyerupai dirinya.

Teknologi seperti ini mungkin dapat membantu seseorang mengenang orang yang disayanginya. Namun, menurut saya, perkembangan tersebut juga menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar:

Ketika teknologi mampu meniru banyak hal tentang diri seseorang, apakah teknologi juga mampu mempertahankan manusia tersebut?

Ketika Manusia Menjadi Jejak Digital

Kita hidup dalam masa ketika hampir setiap aktivitas dapat meninggalkan data.

Kita memotret kehidupan sehari-hari, menulis pendapat di media sosial, menyimpan percakapan, merekam video, membuat karya digital, dan membagikan berbagai informasi tentang diri sendiri. Tanpa disadari, sebagian dari kehidupan kita telah menjadi kumpulan data yang tersebar di berbagai sistem.

Data tersebut dapat disimpan, dipindahkan, dianalisis, bahkan dipelajari oleh mesin.

Tetapi saya merasa ada hal yang perlu dibedakan.

Ketika sebuah foto disimpan, yang tersimpan adalah foto. Ketika suara seseorang direkam, yang tersimpan adalah rekaman suara. Ketika percakapan seseorang dipelajari oleh AI, yang dipelajari adalah pola dari percakapan tersebut.

Semua itu merupakan jejak tentang seseorang, tetapi belum tentu merupakan keseluruhan dirinya.

Foto bukan manusia.

Rekaman suara bukan manusia.

Kumpulan data bukan manusia.

AI mungkin dapat menghasilkan kalimat dengan gaya bicara tertentu. AI mungkin dapat membuat suara yang terdengar sangat mirip dengan seseorang. Namun, meniru pola komunikasi tidak sama dengan mengalami kehidupan orang tersebut.

Menurut saya, perbedaan inilah yang sering terlupakan ketika kita membicarakan kecanggihan teknologi.

Refleksi tentang Sukma dan Hakikat Manusia

Persoalan tersebut kemudian mengingatkan saya pada perkara nomor 6 dalam tugas ini, yaitu “tidak percaya sukma hidup langgeng selamanya.”

Saya tidak memandang perkara tersebut sebagai alasan untuk menilai atau menghakimi pandangan orang lain. Justru bagi saya, perkara tersebut menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi yang lebih luas:

Apakah manusia hanya dapat dipahami dari sesuatu yang bisa dilihat, diukur, dan direkam?

Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika teknologi mampu mengubah berbagai aspek manusia menjadi data digital.

Dalam buku Memahami Hakikat Budi Luhur karya Drs. Djaetun, HS, pembahasan tentang manusia tidak berhenti pada apa yang tampak secara fisik, tetapi juga mengajak pembaca melihat manusia dari dimensi yang lebih dalam mengenai hakikat dirinya.

Bagi saya, perspektif tersebut menarik untuk ditempatkan dalam konteks perkembangan AI.

Teknologi memang semakin mampu merekam dan merepresentasikan manusia. Namun, kemampuan untuk merekam dan meniru tidak berarti teknologi telah memahami manusia secara utuh.

Karena itu, ketika AI mampu menciptakan representasi digital seseorang yang telah tiada, kita tetap perlu membedakan antara representasi manusia dan manusia itu sendiri.

Teknologi dapat membantu kita menyimpan kenangan. Teknologi dapat mengarsipkan karya. Teknologi dapat membuat kembali bentuk tertentu dari jejak seseorang.

Namun, apakah itu berarti manusia telah benar-benar kembali?

Menurut saya, pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab hanya dengan semakin canggihnya komputer.

Ketika Teknologi Semakin Pintar, Manusia Harus Semakin Bijaksana

Sebagai mahasiswa Magister Ilmu Komputer, saya merasa persoalan ini penting karena dunia teknologi sering kali berangkat dari pertanyaan:

“Apakah hal ini bisa dibuat?”

Pertanyaan tersebut memang penting bagi seorang pengembang teknologi. Tetapi menurut saya, pertanyaan itu tidak cukup.

Kita juga perlu bertanya:

“Apakah hal ini baik?”

“Apakah hal ini layak digunakan?”

“Apa dampaknya terhadap manusia?”

Misalnya, secara teknis mungkin memungkinkan untuk membuat avatar AI yang menggunakan suara dan wajah seseorang yang telah meninggal. Namun, sebelum teknologi tersebut digunakan, terdapat berbagai persoalan yang perlu diperhatikan.

Apakah orang tersebut pernah memberikan persetujuan? Siapa yang berhak menggunakan datanya? Apakah keluarga memahami bahwa mereka sedang berinteraksi dengan AI? Apakah teknologi tersebut membantu seseorang mengenang, atau justru membuat proses menerima kehilangan menjadi lebih sulit?

Bagi saya, pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan teknis harus berjalan bersama tanggung jawab moral.

Di sinilah nilai kebudiluhuran menjadi penting.

Kecerdasan memberi manusia kemampuan untuk menciptakan sesuatu. Namun, kebudiluhuran membantu manusia mempertimbangkan bagaimana kemampuan tersebut seharusnya digunakan.

Semakin canggih teknologi, semakin penting pula kerendahan hati untuk mengakui bahwa tidak semua hal tentang manusia dapat direduksi menjadi data.

Apa yang Sebenarnya Ingin Kita Tinggalkan?

Pada akhirnya, perkembangan AI membuat saya memikirkan kembali arti sebuah warisan.

Kita mungkin akan meninggalkan foto. Kita mungkin meninggalkan tulisan, video, rekaman suara, karya ilmiah, aplikasi, ataupun berbagai data yang tersimpan di internet.

Tetapi apakah warisan kita hanya sebatas data?

Menurut saya, tidak.

Seseorang dapat dikenang karena ilmu yang pernah dibagikannya. Karena pertolongan yang pernah diberikan. Karena karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Karena nilai baik yang diteruskan kepada orang lain.

Karena itu, saya melihat teknologi seharusnya tidak hanya digunakan untuk membuat manusia tetap terlihat, tetapi juga untuk memastikan bahwa pengetahuan, karya, dan kebaikan yang ditinggalkan manusia tetap dapat memberikan manfaat.

AI mungkin suatu hari mampu membuat representasi digital seseorang menjadi semakin realistis. Wajahnya dapat terlihat nyata. Suaranya dapat terdengar familiar. Responsnya dapat terasa sangat meyakinkan.

Namun, kemampuan meniru tidak sama dengan kemampuan memahami.

Manusia bukan sekadar data.

Data dapat disimpan.

Data dapat disalin.

Data dapat diproses.

Tetapi hakikat manusia tidak seharusnya diukur hanya berdasarkan apa yang mampu dilakukan oleh sebuah algoritma.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, mungkin yang paling dibutuhkan bukan hanya manusia yang semakin pintar menciptakan AI, tetapi juga manusia yang semakin bijaksana dalam menentukan untuk apa AI digunakan.

Sebab teknologi yang hebat bukan hanya teknologi yang mampu melakukan banyak hal, tetapi teknologi yang digunakan dengan tanggung jawab, menghormati manusia, dan memberikan manfaat bagi kehidupan.

Dan mungkin, pada akhirnya, warisan terbaik yang dapat kita tinggalkan bukanlah seberapa lama nama kita bertahan di internet, melainkan seberapa lama kebaikan yang pernah kita lakukan terus hidup melalui orang lain.

Referensi

Djaetun, HS. (2017). Memahami Hakikat Budi Luhur. Jakarta: Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti. ISBN 9786027060203.

Hollanek, T., & Nowaczyk-Basińska, K. (2024). “Griefbots, Deadbots, Postmortem Avatars: On Responsible Applications of Generative AI in the Digital Afterlife Industry.” Philosophy & Technology, 37, 63. https://doi.org/10.1007/s13347-024-00744-w

UNESCO. (2021). Recommendation on the Ethics of Artificial Intelligence.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image