Pemimpin Membuka Ruang Dialog
Agama | 2026-09-12 22:23:27
Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(Founder Insani Leadership)
Pada perang Hunain yang akhirnya dimenangkan kaum muslimin dengan pertolongan Allah, kaum muslimin memperoleh ghanimah melimpah. Semisal, 25.000 ekor unta, 40.000 ekor kambing, dan 40.000 uqiyah uang perak (dirham). Lalu, ghanimah tersebut dikumpulkan dan diserahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibagikan kepada kaum muslimin.
Ketika ghanimah telah terkumpul, Rasulullah membagikan ghanimah kepada pasukan Hawazin dan Tsaqif yang tertawan dan mau masuk Islam dalam jumlah besar. Bahkan, Malik bin Auf, pemimpin pasukan Hawazin dan Tsaqif, diberikan 100 ekor unta sebagai hadiah keislamannya. Jika harga unta perang senilai Rp 100 juta per ekor, silakan hitung sendiri berapa hadiah yang diberikan Rasulullah kepada Malik bin Auf.
Kemudian, kaum muslimin yang baru masuk Islam pada Fathul Mekah sekira dua ribu orang mendapat bagian yang besar setelah para muallaf Hawazin dan Tsaqif. Sementara, sahabat-sahabat Muhajirin dan Anshar tidak mendapatkan bagian apa-apa. Di sinilah perasaan manusiawi muncul, terutama di kalangan sahabat Anshar.
Mulailah satu, dua, tiga orang sahabat membicarakan mekanisme pembagian ghanimah yang dilakukan Rasulullah. Kian hari kian bertambah sahabat Anshar yang mempertanyakan kebijakan Rasulullah dalam pembagian ghanimah Hunain.
Akhirnya, pembicaraan itu pun sampai ke telinga Rasulullah. Kemudian, beliau mengumpulkan kaum Anshar dan mengajak dialog. Dialog yang sangat menyentuh hati dan membuat kaum Anshar menangis sejadi-jadinya. Hal ini karena kaum Anshar sejatinya orang-orang beriman. Sehingga, mudah sekali diingatkan dengan panggilan iman.
“Aku sudah mendengar keluh kesah kalian tentang ghanimah Hunain,” ujar Rasulullah memulai dialog.
“Wahai kaum Anshar sahabat-sahabatku, bukankah dulu aku mendapati kalian dalam keadaan tersesat, kemudian Allah memberikan petunjuk-Nya kepada kalian
Bukankah dulu kalian kekurangan, lalu Allah mencukupi kalian
Bukankah dulu kalian berpecah-belah, kemudian Allah menyatukan hati-hati kalian?”
Semua sahabat Anshar terdiam, terbisu. Tiada yang menjawab apalagi menyanggah perkataan Rasulullah.
“Mengapa tidak ada di antara kalian yang menjawab atau menyanggah perkataanku?” ujar Rasulullah.
“Dengan apa kami menjawabnya, ya Rasulullah. Semua kemuliaan milik Allah dan Rasul-Nya,” jawab sahabat Anshar serempak.
“Demi Allah, sekiranya kalian menjawab apa adanya, maka apa yang kalian katakan itu benar. Kalian bisa menjawab begini,
‘Ya Rasulullah, bukankah dulu kau didustakan, kami yang membenarkanmu
Bukankah dulu kau dihina, kami yang menolongmu ’
Sahabat-sahabat Anshar mulai menangis. Mereka berseru, “Cukup ya Rasulullah, demi Allah, perkataanmu (yang pertama) itulah yang benar.”
Namun, Rasulullah tetap melanjutkan
‘Bukankah dulu kau, ya Rasulullah, diusir, kami yang memberikan tempat tinggal kepadamu
Bukankah dulu kau kekurangan, kami yang memberikan kecukupan kepadamu ’
“Tidak seperti itu, ya Rasulullah,” ujar sahabat Anshar dengan tangis yang makin deras.
Rasulullah pun mulai menangis.
“Apakah kalian marah kepadaku hanya gara-gara urusan dunia yang sepele itu? Aku memberikan ghanimah kepada mereka agar kuat keislamannya. Sedangkan, kalian adalah sahabat-sahabatku. Keislaman kalian telah teguh dan iman kalian telah kokoh.
“Apakah kalian tidak ridha mereka pulang membawa unta, kambing, dan dirham, sedangkan kalian pulang membawa keridhaan dari Rasulullah?”
Para sahabat Anshar tersentak hatinya dengan kalimat Rasulullah ini. Dalam gumam berbalut tangis mereka berujar, “Kami ridha ya Rasulullah, kami ridha ya Rasulullah. Cukup bagi kami keridhaan darimu ya Rasulullah.”
“Demi Allah yang jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya, andai bukan karena hijrah, maka aku pasti termasuk kaum Anshar. Jika Anshar menempuh satu jalan dan oranglain menempuh jalan yang berbeda, maka aku pasti mengikuti jalan yang ditempuh Anshar. Ya Allah, rahmati kaum Anshar, rahmati anak-anak kaum Anshar, rahmati anak cucu keturunan kaum Anshar,” Rasulullah menutup sabdanya.
Sahabat-sahabat Anshar yang sedari tadi tak kuasa membendung tangisannya, semakin menjadi-jadi tangisnya. Dada mereka sesak dan bergemuruh. Mereka menyesali diri sendiri, mengapa sampai hati menyusahkan hati Rasulullah. Satu persatu sahabat Anshar meminta maaf kepada Rasulullah. Dan, sudah pasti Rasulullah, yang memang tak pernah merasa tersakiti, memaafkan sahabat-sahabatnya. Ini jelas tercermin pada sabdanya yang ditutup dengan doa untuk kaum Anshar dan anak keturunannya.
Sebuah pemandangan yang bening dan jelita. Demonstrasi keimanan dan ukhuwah islamiyah. Pemandangan yang barangkali hanya ditemukan dalam khazanah Sejarah Peradaban Islam. Namun demikian, pada tulisan ini saya ingin fokus mengulasnya dari perspektif kepemimpinan.
Seorang pemimpin yang arif dan bijaksana sedia hati untuk membuka ruang dialog bagi timnya yang mempertanyakan sebuah keputusan. Ia membuka hatinya untuk mendengarkan aspirasi timnya. Tidak ada rasa tersinggung, apatah lagi emosi dan marah ketika tim mempertanyakan keputusannya. Ia berdialog dengan timnya dengan pikiran jernih dan hati lapang.
Ruang dialog justru menjadi sarana bagi seorang pemimpin untuk menjelaskan pemikiran dan pertimbangannya dalam mengambil keputusan. Bisa jadi ada variabel-variabel esensi yang belum terpikirkan atau terpahami oleh tim. Ketika sudah dijelaskan dengan lugas dan bernas, akhirnya tim bisa memahami dan menerima keputusan itu.
Kini, kita simak cerita dalam dunia bisnis. Bob Chapman melihat ada pemandangan aneh ketika hari pertama masuk kantor di perusahaan manufaktur yang baru saja diakuisisinya, HayssenSandiacre. Ia mendapati para karyawan yang ceria saat minum kopi dan mengobrol santai sebelum masuk kantor. Namun, ketika jam masuk kantor tiba, pemandangan ceria itu menghilang berganti dengan raut muka tidak bersemangat.
Pemandangan itu mengusik Chapman. Apa yang dilakukannya? Ia membuka ruang dialog untuk mendengarkan langsung apa yang sebenarnya terjadi? Ia memanggil Ron Campbell, seorang karyawan senior, yang sudah bekerja selama dua puluh tujuh tahun.
“Jika saya mengatakan hal yang sebenarnya, apakah besok saya masih bekerja di sini?” tanya Campbell ragu.
“Jika Anda memperoleh masalah setelah mengatakan informasi hari ini kepada saya, hubungi saya,” jawab Chapman meyakinkan.
Dari pertemuan itu, Chapman menemukan masalah utamanya. Pada intinya manajemen perusahaan sebelumnya memposisikan karyawan sebagai alat produksi. Manajemen membuat aturan-aturan yang ketat dan kaku seolah karyawan adalah orang-orang yang tidak bisa dipercaya.
Chapman mengubah itu semua. Ia memposisikan karyawan sebagai aset perusahaan. Ia mengubah kebijakan lama dan membuat kebijakan-kebijakan baru dalam pengembangan human capital. Sejak saat itu, lingkungan kerja perusahaan berubah signifikan. Hasilnya? HayssenSandiacre mengalami pertumbuhan pendapatan signifikan dari 55 juta dolar menjadi 95 juta dolar. Menariknya, HayssenSandiacre tumbuh secara organik tanpa utang dan bantuan konsultan manajemen.
“Saya tidak pernah menyangka kini bisa menikmati pekerjaan,” kata Campbell.
Kesediaan membuka ruang dialog mencerminkan kearifan seorang pemimpin. Tim merasa dihargai serta didengarkan aspirasi dan pendapatnya. Sikap seperti ini akan menguatkan wibawa seorang pemimpin. Tim akan menyaksikan kecerdasan dan kebijaksanaan pemimpinnya ketika menjelaskan dasar dan landasan pemikiran dibalik keputusannya. Ketika dasar dan landasan pengambilan keputusan itu kuat, maka tim akan menerimanya dengan lapang hati, seperti para sahabat dalam keputusan ghanimah Hunain.
Sementara, ketika aspirasi dan pendapat tim secara objektif untuk kebaikan dan kelangsungan perusahaan dibanding kondisi eksisting, maka itu menjadi masukan penting untuk pengambilan keputusan strategis seperti yang dilakukan Chapman. Inilah manfaat membuka ruang dialog dalam kepemimpinan.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
