Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Riswan Hidayat

Tubuh yang Tak Patuh: Siapa yang Berhak Menulis Tubuh?

Culture | 2026-10-05 12:44:50

Tubuh manusia tidak pernah benar-benar bebas. Sejak lahir, tubuh telah berada di bawah berbagai perintah: bagaimana ia harus berpakaian, bergerak, makan, bekerja, beribadah, mencintai, bahkan bagaimana ia seharusnya menua. Tubuh diberi nama sebelum ia mampu memilih namanya sendiri dan diberi berbagai aturan sebelum ia mampu memahami mengapa aturan itu harus dipatuhi.

Karena itu, sejarah kebudayaan dapat dibaca sebagai sejarah panjang tentang kepatuhan tubuh.

Dahulu, tubuh yang dianggap tidak patuh dapat dipasung. Tubuh dihentikan secara fisik karena dianggap bergerak ke arah yang tidak dikehendaki masyarakat. Pasung adalah bentuk kekuasaan yang paling kasatmata: tubuh tidak boleh bergerak karena tubuh dianggap tidak mampu mengatur dirinya sendiri.

Modernitas tampaknya telah meninggalkan cara seperti itu. Tetapi sesungguhnya pasung tidak hilang. Ia berubah bentuk.

Tubuh modern mungkin tidak lagi diikat dengan rantai, tetapi ia dipasung oleh moral, etika, agama, norma sosial, standar kecantikan, produktivitas, dan tatapan publik. Tubuh belajar mengawasi dirinya sendiri. Ia tahu kapan harus kurus, kapan harus tampak muda, kapan harus menutup tubuh, kapan harus tersenyum, kapan harus bekerja, dan kapan harus menyembunyikan rasa lelah.

Pasungan berpindah dari kaki ke kepala.

Yang lebih rumit, pasungan modern sering kali tidak terasa sebagai kekerasan. Ia datang sebagai keinginan. Kita ingin kurus karena tubuh gemuk dianggap tidak ideal. Kita ingin muda karena tubuh tua dianggap kehilangan daya tarik. Kita ingin produktif karena berhenti dianggap sebagai kegagalan.

Tubuh akhirnya tidak perlu dipaksa dari luar. Ia telah belajar memaksa dirinya sendiri.

Di sinilah rasa sakit memasuki sejarah kepatuhan tubuh.

Rasa sakit dapat menjadi hukuman agar tubuh kembali kepada batas. Tetapi rasa sakit juga dapat memiliki arti yang sama sekali berbeda. Dalam sejumlah tradisi tato masyarakat Iban di Borneo, misalnya, tato dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju kedewasaan. Tanda pada tubuh bukan sekadar hiasan, tetapi dapat menandai perubahan status, pengalaman, dan perjalanan hidup.

Tubuh menerima rasa sakit bukan karena seseorang ingin menghukumnya, melainkan karena rasa sakit itu menjadi bagian dari perjalanan menjadi seseorang yang baru.

Ini memperlihatkan bahwa rasa sakit tidak memiliki satu makna.

Tubuh dapat dibuat sakit agar patuh, tetapi tubuh juga dapat memilih rasa sakit agar berubah.

Di sinilah tato menjadi menarik. Tato adalah tulisan di atas tubuh, tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: siapa yang menulisnya?

Jika seseorang memilih menato tubuhnya sebagai bagian dari ritual, identitas, kenangan, atau ekspresi diri, tubuh sedang menulis dirinya sendiri. Kulit menjadi halaman tempat seseorang meninggalkan sejarahnya.

Tetapi makna itu berubah ketika tanda pada tubuh dibuat oleh kekuasaan.

Pada binatang, tanda atau tato dapat digunakan untuk identifikasi: menunjukkan kepemilikan, asal, kelompok, atau inventaris. Tubuh binatang diberi tanda agar mudah dikenali dan diklasifikasikan.

Logika tersebut menjadi mengerikan ketika dibayangkan diterapkan kepada manusia.

Berbagai film distopia pernah membayangkan manusia yang diberi nomor, barcode, tanda, atau kode tertentu. Tubuh tidak lagi menjadi tempat seseorang menyatakan siapa dirinya, tetapi menjadi tempat sistem menentukan siapa dirinya.

Perbedaannya tampak kecil, tetapi secara politik dan filosofis sangat besar.

Tato yang dipilih mengatakan: “Ini tubuhku dan aku menentukan tandanya.”

Tato yang dipaksakan mengatakan: “Ini tubuhmu menurut sistem.”

Di titik itu, tubuh telah berubah dari subjek menjadi inventaris.

Karena itu, pengalaman tato tidak dapat dibaca hanya dari gambarnya. Gambar yang sama dapat memiliki makna yang sangat berbeda tergantung siapa yang memberi tanda dan siapa yang memiliki hak untuk menafsirkannya.

Dalam tradisi tertentu di Borneo, tato dapat menjadi penanda kedewasaan. Dalam kehidupan personal, tato dapat menjadi kenangan. Dalam konteks lain, tato dapat menjadi simbol kelompok. Tetapi dalam situasi ketika tubuh dibaca sebagai tanda kriminalitas atau ancaman, tato dapat berubah menjadi alasan untuk mencurigai tubuh.

Sejarah Indonesia pernah mengalami masa ketika tanda pada tubuh dapat menjadi persoalan yang sangat serius. Dalam sejumlah kesaksian mengenai Petrus pada awal 1980-an, orang bertato muncul dalam narasi tentang tubuh yang dicurigai dan menjadi sasaran kekerasan. Ada pula kesaksian mengenai upaya menghapus tanda pada tubuh dengan cara-cara yang menyakitkan.

Di sini kita melihat sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar penghapusan tato.

Tubuh yang sebelumnya menulis dirinya sendiri dipaksa menghapus tulisannya.

Rasa sakit kembali hadir, tetapi dengan arah yang berlawanan. Pada tato ritual, seseorang menanggung sakit untuk memperoleh tanda dan memasuki identitas baru. Dalam penghapusan paksa, tubuh menanggung sakit karena kekuasaan ingin menghilangkan tanda itu.

Sakit untuk memiliki identitas berhadapan dengan sakit untuk kehilangan identitas.

Dan yang paling mengerikan, tubuh yang hendak dibuat bersih justru dapat menyimpan bekas dari proses penghapusan tersebut.

Tubuh ternyata adalah arsip yang tidak mudah dihapus.

Bekas luka dapat menjadi ingatan.

Ingatan dapat menjadi sejarah.

Dan sejarah dapat menjadi bukti bahwa tubuh pernah mengalami sesuatu yang ingin dilupakan oleh kekuasaan.

Karena itu, tubuh bukan sekadar organisme biologis. Ia adalah medan perebutan makna.

Hal yang sama dapat kita lihat pada tubuh yang sengaja diubah menjadi sesuatu yang lain. Manusia menato tubuhnya menyerupai binatang, mengenakan prostesis estetis, mengubah bentuk telinga atau kulit, atau melatih tubuh untuk meniru gerakan kuda, macan, kadal, dan makhluk lainnya.

Sekilas, semua itu tampak sebagai permainan estetika.

Tetapi secara filosofis, ia membawa pertanyaan yang lebih jauh: mengapa tubuh manusia harus menerima bentuknya sebagai sesuatu yang final?

Ketika manusia meniru kuda, ia sedang meminjam kemungkinan tubuh yang lain. Ketika ia meniru macan, ia menguji kembali batas antara manusia dan binatang. Tubuh tidak lagi diperlakukan sebagai nasib biologis, melainkan sebagai kemungkinan.

Tubuh seakan berkata:

Aku manusia, tetapi aku tidak harus selalu tampil sebagai tubuh manusia yang telah ditentukan oleh kebudayaan.

Di sinilah tubuh yang tak patuh mulai menemukan bentuk kebebasannya.

Ketidakpatuhan tidak selalu berarti melawan dengan kekerasan. Kadang ia berarti mengubah tubuh. Kadang menambahkan sesuatu. Kadang menghapus sesuatu. Kadang meniru sesuatu yang bukan manusia.

Dan kadang, ketidakpatuhan paling sederhana adalah berhenti.

Kita hidup dalam kebudayaan yang meminta tubuh terus bergerak. Bekerja, berolahraga, memperbaiki diri, mempercantik diri, bepergian, memproduksi, mengunggah, dan menunjukkan bahwa hidup sedang berlangsung.

Bahkan istirahat pun harus memiliki fungsi: agar besok dapat bekerja lebih baik.

Karena itu, sebuah pelukan menjadi peristiwa yang menarik.

Dalam lagu “Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan” dari Payung Teduh, kita menemukan gambaran yang sangat sederhana tentang dua tubuh yang tidak sedang melakukan sesuatu yang produktif. Mereka hanya berada dalam kedekatan.

Pelukan tidak menghasilkan barang.

Tidak menghasilkan uang.

Tidak menghasilkan prestasi.

Tidak memperbaiki tubuh.

Tidak membuat seseorang lebih cantik.

Ia hanya menghasilkan kehadiran.

Dan mungkin di tengah kebudayaan yang menjadikan tubuh sebagai mesin produksi, pelukan adalah bentuk ketidakpatuhan yang paling lembut.

Tubuh berkata: aku tidak harus pergi ke mana-mana.

Kalimat itu tampak sederhana, tetapi mungkin sangat radikal.

Sebab kebebasan sering kita bayangkan sebagai kemampuan untuk bergerak semakin jauh. Padahal tubuh mungkin juga membutuhkan kebebasan untuk berhenti. Kebebasan untuk tidur. Kebebasan untuk menua. Kebebasan untuk tidak selalu tampak sempurna. Kebebasan untuk tidak selalu produktif.

Kebebasan untuk sekadar berada.

Dengan demikian, tubuh yang tak patuh tidak selalu menghancurkan pasung. Ia kadang menemukan jalan lain.

Pasung membatasi gerak, tetapi tubuh menemukan bahasa.

Norma membatasi penampilan, tetapi tubuh menemukan estetika.

Rasa sakit membatasi kemampuan, tetapi tubuh menemukan cara baru untuk hidup.

Tato menandai tubuh, tetapi tubuh dapat mengambil alih makna tanda itu.

Kekuasaan mencoba menghapus tulisan dari kulit, tetapi luka meninggalkan arsip.

Tubuh bahkan dapat menolak definisi manusia dengan bergerak seperti kuda, macan, atau kadal.

Dan ketika semua tuntutan menjadi terlalu berat, tubuh mungkin hanya ingin berhenti dalam sebuah pelukan.

Barangkali inilah paradoks tubuh manusia: semakin keras ia dipaksa menjadi sesuatu, semakin kuat keinginannya untuk menemukan kemungkinan lain tentang dirinya.

Tubuh yang patuh menerima bentuknya sebagai takdir.

Tubuh yang tak patuh melihat bentuk itu sebagai kemungkinan.

Karena itu, persoalan paling penting bukan hanya apakah tubuh bebas dari pasungan. Persoalannya adalah siapa yang berhak menentukan arti tubuh.

Siapa yang berhak menentukan apakah tato berarti kedewasaan atau kriminalitas?

Siapa yang berhak menentukan apakah tubuh gemuk adalah kesalahan?

Siapa yang berhak menentukan bahwa tubuh tua harus disembunyikan?

Siapa yang berhak menentukan bahwa tubuh harus selalu produktif?

Siapa yang berhak menentukan bahwa manusia harus tetap bergerak seperti manusia?

Dan akhirnya, siapa yang berhak menulis tubuh?

Mungkin tubuh yang paling bebas bukanlah tubuh yang tidak memiliki tanda, tidak mengalami rasa sakit, dan tidak mengenal batas.

Mungkin tubuh yang bebas adalah tubuh yang memiliki hak untuk mengatakan: tanda ini kupilih, rasa sakit ini kutanggung, perubahan ini kuinginkan, dan tubuh ini tetap milikku.

Sebab pasung tidak selalu menjadi jalan buntu.

Kadang pasung justru memaksa tubuh menemukan jalan yang sebelumnya tidak terlihat.

Dan di sanalah tubuh yang tak patuh menemukan kebebasannya: bukan dengan menjadi tubuh tanpa batas, melainkan dengan merebut kembali hak untuk menentukan batas bagi dirinya sendiri.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image