Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Yuangga Kurnia yahya

Krisis Laut, Krisis Cara Pandang

Gaya Hidup | 2026-10-05 11:05:19

Laut merupakan salah satu sistem penopang kehidupan terbesar di bumi. Laut menyediakan berbagai jasa ekosistem, mulai dari penghasil oksigen, penyerap karbon, penyedia sumber pangan, hingga penopang keanekaragaman hayati dunia. Diperkirakan lebih dari 70% permukaan bumi tertutup oleh lautan, sementara sekitar separuh oksigen yang dihirup manusia berasal dari organisme laut. Selain memiliki fungsi ekologis, laut juga berperan penting dalam aspek ekonomi, sosial, dan budaya bagi miliaran penduduk dunia. Namun demikian, keberlanjutan ekosistem laut saat ini menghadapi ancaman serius akibat perubahan iklim, pencemaran, eksploitasi sumber daya yang berlebihan, serta degradasi habitat pesisir yang semakin meningkat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa krisis kelautan telah berkembang menjadi salah satu tantangan lingkungan global abad ke-21.

Berbagai kebijakan konservasi laut telah diterapkan melalui pendekatan ilmiah, teknologi, maupun regulasi lingkungan. Namun demikian, laporan lembaga internasional seperti Global Coral Reef Monitoring Network (GCRMN) dan International Coral Reef Initiative (ICRI) menunjukkan bahwa upaya tersebut belum sepenuhnya mampu menghentikan laju kerusakan ekosistem laut. Hal ini menunjukkan bahwa akar persoalan lingkungan tidak hanya terletak pada aspek teknis, tetapi juga berkaitan dengan cara pandang manusia terhadap alam. Paradigma pembangunan modern yang bersifat antroposentris cenderung menempatkan alam sebagai objek eksploitasi ekonomi sehingga mengabaikan dimensi etis dan spiritual yang melekat pada lingkungan hidup. Oleh karena itu, penyelesaian krisis ekologis memerlukan perubahan paradigma yang lebih mendasar mengenai hubungan manusia dengan alam.

Pada titik inilah krisis terumbu karang dapat dibaca tidak hanya sebagai krisis ekologis, tetapi juga sebagai krisis paradigma. Berbagai bentuk kerusakan lingkungan pada dasarnya berhubungan dengan cara manusia mendefinisikan kedudukannya terhadap alam. Ketika laut dipandang terutama sebagai ruang produksi, sumber komoditas, dan objek eksploitasi ekonomi, nilai ekosistem cenderung diukur berdasarkan manfaat langsung yang dapat diberikan kepada manusia. Konsekuensinya, keberadaan terumbu karang sering kali dinilai terutama dari manfaat ekonomi seperti perikanan, pariwisata, dan perlindungan pesisir, sementara nilai intrinsik dan dimensi moral keberadaannya kurang mendapat perhatian. Perspektif semacam ini berpotensi mempertahankan hubungan instrumental antara manusia dan alam, terutama ketika kepentingan ekonomi jangka pendek ditempatkan di atas keberlanjutan ekologis jangka panjang.

sumber: https://gcrmn.net/2025-report/

Kesadaran akan pentingnya aspek spiritual dalam pelestarian lingkungan kemudian mendorong munculnya studi tentang teo-ekologi, yaitu pendekatan yang menggabungkan ajaran agama dengan kewajiban manusia terhadap lingkungan. Dalam pandangan ini, agama tidak hanya dianggap sebagai sistem keyakinan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga berperan sebagai sumber nilai moral yang memandu hubungan manusia dengan alam. Berbagai Penelitian telah menunjukkan bahwa nilai-nilai agama dapat membentuk etika dalam menjaga lingkungan, memperkuat rasa tanggung jawab terhadap alam, serta mendorong tindakan yang baik untuk menjaga kelestarian bumi. Karena itu, pendekatan teo-ekologi semakin banyak diperhatikan dalam penelitian lingkungan saat ini.

Dalam pandangan teo-ekologi, agama tidak lagi dipahami sebatas sistem keyakinan dogmatis yang mengatur hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Namun, agama bertindak sebagai sumber nilai moral transformatif yang memandu hubungan horizontal manusia dengan lingkungan sekitarnya. Landasan spiritual ini mengubah cara pandang manusia dari yang semula menganggap alam sebagai objek eksploitasi, menjadi subjek yang harus dihormati dan dijaga keberadaannya. Berbagai penelitian modern menunjukkan bahwa menerima nilai-nilai agama secara dalam dapat membentuk etika terhadap lingkungan yang kuat serta meningkatkan rasa tanggung jawab masyarakat terhadap alam. Dorongan batin ini dapat mendorong tindakan nyata dalam menjaga kebersihan dan kelestarian bumi. Oleh karena itu, pendekatan teo-ekologi kini semakin banyak diperhatikan dan menjadi salah satu topik utama yang dipelajari dalam penelitian lingkungan di tingkat global saat ini.

sumber: https://www.religionworld.in/sustainability-and-religion-how-faith-supports-the-environment/

Dalam sudut pandang penelitian ini, perubahan paradigma tersebut menjadi penting karena persoalan ekologis pada akhirnya juga merupakan persoalan nilai. Teknologi dapat membantu memulihkan karang, regulasi dapat membatasi eksploitasi, dan kawasan konservasi dapat memberikan perlindungan terhadap habitat; tetapi keberlanjutan seluruh upaya tersebut tetap bergantung pada cara manusia memahami nilai alam dan posisinya di dalam tatanan ekologis. Dengan demikian, krisis terumbu karang dapat dibaca sebagai gejala dari hubungan manusia-alam yang mengalami ketidakseimbangan. Pembacaan semacam ini membuka ruang bagi pendekatan teo-ekologi, yang tidak hanya bertanya bagaimana terumbu karang dapat diselamatkan secara teknis, tetapi juga bagaimana agama dan filsafat dapat membentuk kembali kesadaran manusia mengenai nilai, kedudukan, dan tanggung jawabnya terhadap alam.

Penulis: Muhammad Zaki Al-Fahmi, Mahasiswa Prodi Studi Agama-Agama UNIDA Gontor

Editor: Yuangga Kurnia Yahya

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image