Pemimpin Menjaga Keutuhan Tim
Agama | 2026-09-18 19:00:56
Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(Founder Insani Leadership)
Dalam perjalanan pulang sebakda perang Bani Mushthaliq, Rasulullah menghentikan pasukan Muslimin dan berkemah di al-Muraisi untuk beristirahat. Di tempat itu terdapat sumur untuk melepaskan dahaga. Para sahabat beramai-ramai mengambil air untuk minum.
Ketika itu, Jahjah al-Ghifari dari sahabat Muhajirin berdesak-desakan dengan Sinan bin Wabr al-Juhani dari sahabat Anshar ketika mengambil air. Sebuah pemandangan manusiawi sebetulnya. Anda bisa bayangkan, dalam situasi lelah dan haus menempuh perjalanan panjang usai berperang, apa yang paling berharga? Ya, menemukan air. Maka itu, wajar jika terjadi desak-desakan berebut mengambil air untuk memenuhi dahaga.
Hanya, orang munafik yang bermuka dua memang selalu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Mereka ahlinya memancing di air keruh. Menggunting dalam lipatan. Abdullah bin Ubay, tokoh munafik Madinah, memanfaatkan momen itu untuk mengadu domba Muhajirin dan Anshar.
Ia menghasut orang-orang Anshar dengan fitnah kejinya, “Gemukan anjingmu, pastilah dia akan menggigit dirimu sendiri Inilah perbuatan kalian. Kalian telah memperbolehkan mereka tinggal di negeri kalian. Kalian juga membagi-bagi harta kalian kepada mereka. Demi Allah, jika kalian tidak membagi-bagi harta kalian, pastilah mereka sudah pergi ke negeri lain.”
Zaid bin Arqam, yang ketika itu masih belia, mendengar dan menyaksikan langsung provokasi Abdullah bin Ubay. Ia segera menemui pamannya dan menceritakannya. Kemudian, pamannya menyampaikan berita itu kepada Rasulullah, yang ketika itu sedang bersama Umar bin Khatthab.
Mendengar berita itu, Rasulullah segera memerintahkan pasukan Muslimin untuk segera melanjutkan perjalanan dan kembali ke Madinah. Itu terjadi pada waktu yang tidak biasanya Rasulullah berangkat. Demikian Usaid bin Hudhair menanyakan perihal perintah melanjutkan perjalanan yang dirasakan mendadak dan tidak biasanya.
Mengapa Rasulullah menginstruksikan agar pasukan Muslimin segera pulang ke Madinah? Madinah menyimpan memori mendalam bagi Muhajirin dan Anshar. Di sanalah mereka dipersaudarakan oleh Rasulullah. Mereka mengikat persaudaraan atas dasar iman dan ukhuwah Islamiyah. Ikatan emosional inilah yang ingin dibangkitkan kembali oleh Rasulullah di antara Jahjah dan Sinan.
Apa yang terjadi kemudian? Jahjah al-Ghifari dan Sinan al-Juhani segera tersadarkan. Keduanya berdamai dan bermaafan tanpa perlu Rasulullah menasihati panjang lebar. Demikian pula sebagian sahabat Muhajirin dan Anshar yang sempat diprovokasi Abdullah bin Ubay. Mereka mengokohkan kembali persaudaraan di antara mereka.
Kesalahan seorang pemimpin dalam menghadapi konflik tim adalah memihak salah satu. Padahal, dia belum memahami duduk persoalan sebenarnya. Jika pun sudah memahaminya, keberpihakan pemimpin pada salah satu pihak merupakan barrier (penghalang) untuk bisa mendamaikan tim. Pemimpin haruslah netral dalam memediasi timnya. Ingat, salah satu tugas penting pemimpin adalah menjaga keutuhan tim.
Anda tahu jamu Nyonya Meneer? Perusahaan jamu yang telah berdiri sejak 1919 ini akhirnya harus menghadapi kenyataan pahit. PT Nyonya Meneer, perusahaan yang hampir berusia satu abad itu, dinyatakan pailit pada 2017 oleh Pengadilan Negeri Semarang.
Anda tahu apa penyebabnya? Konflik berkepanjangan dalam perusahaan yang tidak kunjung terselesaikan. Parahnya konflik itu melibatkan generasi kedua dan ketiga sebagai pewaris perusahaan. Terjadi perebutan posisi dan kekuasaan dalam struktur kepemimpinan yang melibatkan generasi kedua dan generasi ketiga. Konflik serius tetap berlanjut setelah kepemimpinan perusahaan beralih ke Charles Saerang, cucu pendiri Nyonya Meneer.
Konflik dalam perusahaan suka tidak suka merembes keluar. Hal ini membingungkan investor dan pelanggan. Perlahan investor dan pelanggan meninggalkan Nyonya Meneer. Sudah pasti berdampak pada pendapatan perusahaan yang turun signifikan. Konsekuensi lanjutannya pembayaran utang bisnis mulai macet karena cashflow tidak sehat. Puncaknya Pengadilan Negeri Semarang memvonis status pailit PT Nyonya Meneer pada Agustus 2017.
Maka itu, salah satu kompetensi penting seorang pemimpin adalah kemampuannya mengelola dan menyelesaikan konflik tim dalam organisasi. Seorang pemimpin harus cermat dalam memilih dan menggunakan pendekatan yang tepat untuk menyelesaikan konflik dan menjaga keutuhan tim.
Rasulullah paham sekali bahwa sejatinya antara Muhajirin dan Anshar memiliki ikatan emosional persaudaraan yang sangat kuat. Karena itu, cara paling efektif menyelesaikan konflik antara Muhajirin dan Anshar adalah dengan membangun memori-memori kebersamaan dan persaudaraan di antara mereka.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
