Istiqamah Kunci Sukses
Agama | 2026-04-10 09:40:45Istiqamah Kunci Sukses
M. Saifudin, Lc
Tidak sedikit orang memulai usaha dan ikhtiyarnya dengan semangat, tetapi berhenti sebelum sampai tujuan. Niatnya sudah baik, jalannya pun sudah tepat dan usahanya juga sudah berjalan, hanya saja langkahnya tidak mampu bertahan, maka tujuan yang hendak dicapai pun tidak dapat diraih. Persoalan nya bukan pada niat dan motivasinya, usaha atau sarananya, tetapi lebih kepada tidak adanya istiqamah. Sebab, istiqamah adalah fondasi bagi banguna amal, istiqamah adalah ringkasan dari seluruh ajaran Islam.
Perintah Istiqamah
Maka, Allah Ta’la berwasiat kepada manusia agar menjaga istiqamah atas apa yang telah diucapkan atau apa yang akan dituju:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah ” (QS. Fussilat: 30)
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa iman perlu dijaga terus-menerut, tidak cukup hanya diucapkan, tetapi dirawat sepanjang hidup. Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan bahwa istiqamah adalah ”tetap berada di atas tauhid dan ketaatan sampai akhir. Orang yang mampu menjaganya akan merasakan ketenangan, terutama pada saat-saat genting menjelang kematian (sakaratul maut), dan di alam kubur, hingga hari akhir.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa iman harus terus dijaga dengan istiqamah:
قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
“Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)
Makna dan Keutamaan Istiqamah
Ibnul Qayyim dalam Madarij al-Salikin, menjelaskan bahwa isiqamah adalah tegak di atas perintah Allah Ta’ala dalam seluruh aspek kehidupan, baik niat, ucapan dan perbuatan. Abu Bakar radhiyallhau ’anhu, memaknainya sebagai upaya menjaga tauhid dari kesyirikan. Sedangkan Umar bin Khattab radhiyallahu anhu menekankan konsistensi dalam perintah dan larangan.
Para ulama menyimpulkan bahwa istiqamah adalah ”menjalankan kewajiban, menjauhi maksiat, dan tetap berada di jalan tersebut sampai akhir hayat” dan juga sebagai sebab keselamatan di dunia dan akhirat.
Di tengah perubahan zaman, eskalasi global, godaan, dan berbagai bentuk tekanan dan dinamika, seorang muslim tetap dituntut untuk berjalan di jalan istiqamah semampunya. Istiqamah tanpa henti, terus melangkah dalam ketaatan hingga Allah Ta’ala ridha, dan jika keridhaan Allah digapai maka rahmat dan keberkahan akan mengalir pada hamba-hambaNya yang istiqamah. Allah Ta’ala berfirman:
وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُم مَّاءً غَدَقًا
“Sekiranya mereka istiqamah di jalan itu, niscaya Kami akan memberi mereka rezeki yang melimpah” (QS. Al-Jinn: 16)
Sebab Turunnya Rezeki
Diantara makna ”air berlimpah” pada surah Al Jin ayat 116 di atas adalah, rezeki yang berlimpah (Tasir Ibn Katsir). Maknanya, istiqamah adalah sebab datangnya rezeki yang berlimpah, kecukupan hidup dan terpenuhinya kebutuhan.
Sebab Hadirnya Rasa Aman dan Tenang
Selain itu, ketika istiqamah terus dijaga, dampaknya sangat besar. Ia akan menghadirkan rasa aman dalam hidup, memberi ketenangan pada situasi-situasi yang sanagt menentukan, yaitu saat kematian datang, sakaratul maut. Dalam keadaan paling genting, ketika manusia di alam kubur, saat hari perhitungan amal yamul hisab, dan berbagai ketakutan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Orang yang istiqamah akan mendapatkan ketenangan pada saat-saat mencekam tersebut, tidak diguncang oleh rasa takut yang berlebihan, tidak lain karena Allah Ta’ala telah meneguhkan hatinya, oleh sebab istiqamah dalam kebaikan yang diridhaiNya. Bahkan pada saat itulah malaikat turun memberi kabar gembira, menenangkan, dan mengingatkan bahwa apa yang ada di hadapan jauh lebih baik daripada yang ditinggalkan.
Maka keteguhan di dunia menjadi sebab keteguhan di akhirat, bahkan ketika melewati shirath yang sangat dahsyat sekalipun, yang menentukan tempat menetap yaitu surga dan neraka. Maka Allah Ta’ala perintahkan kita untuk terus istiqamah:
فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ
“Maka tetaplah engkau pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan.” (QS. Hud: 112)
Ketika ayat ini turun, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan beratnya tuntutan istiqamah itu. Sebab menjaga diri agar tetap lurus sepanjang waktu bukan perkara ringan, perlu kesungguhan dan kesabaran
Sebab Dicintai Allah Ta’ala
Istimaqah dalam melakukan kebaikan walupun sekecil biji sawi, namun jika dilakukan dengan rutin dan konsisten, maka itu jauh lebih baik dan lebih dicintai Allah Ta’ala daripada amalan yang besar tapi hanya sesaat saja dilakukan. Nabi Muhammad shallallahualaihi wasallam bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang kontinu walaupun sedikit.” (HR. Bukhari-Muslim)
Istiqamah adalah Pilihan
Seseorang diberi kebebasan dalam menentukan arah langkah hidupnya. Seorang muslim pun diberi ruang untuk memilih: apakah ia akan menjaga amal dan ibadahnya secara konsisten, ataukah membiarkannya terombang-ambing oleh keadaan. Setiap pilihan selalu membawa konsekuensi. Termasuk dalam hal istiqamah, ia memang anugerah dari Allah, namun sekaligus juga pilihan sadar manusia, apakah ia ingin meraihnya dengan kesungguhan, atau justru mengabaikannya. Hidayah telah ditunjukkan, petunjuk telah dijelaskan, tinggal kesungguhan hati dalam mengambil keputusan dan kesabaran dalam menjalaninya.
لِمَن شَاءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ
“(Al-Qur’an ini) bagi siapa di antara kamu yang ingin menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwir: 28)
Ibrah dari Kisah Ibnu Abbas
Abdullah Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, keponakan murid kesayangan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, adalah ulama besar di kalangan sahabat, meski usianya masih muda kala itu. Beliau dikenal sangat menjaga istiqamah dengan sungguh-sungguh untuk meraih tujuan.
Suatu ketika, setelah wafatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhu, tidak berhenti menuntut ilmu. Kebiasan menuntut ilmu kepada guru, beliau lanjutkan kepada para sahabat senior, sehingga ia benar-benar dapat mengumpulkan ilmu-ilmu yang kelak mengantarkannya menjadi ulama yang berkedudukan tinggi. Seringkali ia mendatangi para sahabat senior, baik Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Ka’ab dan lainnya, radhiyallahu ’anhum jami’an, baik siang maupun malam hari. Suatu ketika beliau datang kepada salah seorang sahabat senior di siang hari, ketika sahabat yang ingin ditemuinya sedang beristirahat. Beliaupun tidak langsung mengetuk pintu, tetapi memilih duduk menunggu di depan rumah. Meski debu berterbangan menutupi tubuhnya, panas dan lelah, beliau tetap menunggu sampai sahabat yang hendak beliau temui usai istirahatnya. Dann ketika sahabat senior itu keluar, melihat Ibnu Abbas berdiri menunggunya, ia berkata, “Wahai sepupu Rasulullah, mengapa engkau tidak memanggilku? Aku yang akan datang kepadamu.” Ibnu Abbas menjawab, “Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.”
Keadaan seperti ini beliau lakukan berulang kali setiap mendatangi para guru dari kalangan sahabat senior, hari demi hari, waktu demi waktu, dari satu sahabat ke sahabat lain. Hingga akhirnya atas izin Allah Ta’ala, ia meraih ilmu sebagaimana yang didoakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, ”Ya Allah jadikan ia (ibnu Abbas) faqih dalam agama dan ajarkan ta’wilnya”. Kemjudian ia dikenal sebagai “turjumanul Qur’an”, penafsir Al-Qur’an di kalangan sahabat. (riwayat Al-Dhahabi dalam Siyar A‘lam al-Nubala’).
Dari kisah ini bisa diambil pelajaran, bahwa istiqamah mengatarkan seseorang pada derajat yang tinggi dan menjadikannya mulia di sisi Allah dan mulia di tengah manusia, bahkan dikenang generasi-generasi sesudahnya
Penutup
Maka, orang-orang yang mampu menjaga istiqamah adalah mereka yang setiap hari memilih untuk tetap berada di jalan Allah, meski godaan datang silih berganti, tidak selalu sempurna, tetapi tidak pernah berhenti, niscaya Allah akan turunkan malaikat-malaikatNya untuk menyampaikan rahmat dan pesan-pesan yang menentramkan jiwa:
تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا
“Kepada mereka turun para malaikat (seraya berkata): ‘Janganlah kamu takut dan janganlah bersedih ’” (QS. Fussilat: 30)
Namun, istiqamah bukanlah jalan mulus tanpa rintangan dan ujian. Tidak sedikit aral yang harus dihadapi, maka diperlukan niat yang kuat, doa dan lingkungan yang saling mendukung.
Buya Hamka pernah berkata,“Tahan menderita, dan bersabarlah. Sebab penderitaan adalah tangga menuju kebahagiaan.” (Di Bawah Lindungan Ka'bah).
Akhirnya, istiqamah bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling teguh hingga akhir. Karena kemenangan sejati bukan pada awal langkah, tetapi pada bagaimana seseorang menutup hidupnya dalam kebaikan.
اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu.”
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
