Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Sausan Esam Basyarahil

Dinamika Kritik Kebijakan dan Retensi Nasionalisme di Kalangan Generasi Z

Politik | 2026-06-11 09:38:30
studyinca.ac.id

Beberapa tahun lalu, mungkin tidak banyak anak muda yang secara terbuka mengatakan ingin meninggalkan Indonesia. Namun hari ini, ungkapan seperti "kabur aja dulu" menjadi sesuatu yang mudah ditemukan di media sosial. Di kolom komentar, forum diskusi, hingga percakapan sehari-hari, semakin banyak generasi muda yang mempertanyakan masa depan mereka di negeri sendiri. Fenomena ini sering dianggap sebagai tanda memudarnya rasa cinta tanah air. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Harga kebutuhan hidup terus meningkat, persaingan kerja semakin ketat, sementara impian yang dulu dianggap wajar kini terasa semakin jauh. Memiliki rumah sebelum usia 30 tahun, misalnya, bagi sebagian anak muda kini terdengar lebih seperti mimpi daripada target yang realistis. Data Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan memperkirakan ada sekitar 81 juta anak muda di Indonesia yang belum memiliki rumah. Ketika nilai rupiah melemah dan biaya hidup terus naik, kekhawatiran tentang masa depan menjadi semakin sulit diabaikan.

Bagi Generasi Z, persoalannya bukan sekadar tentang angka kurs atau grafik ekonomi. Yang dirasakan adalah dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Realitas ini tecermin kuat dalam survei nasional Jakpat, yang mencatat bahwa 60% Gen Z di Indonesia mengaku cemas akan masa depan dan kondisi finansial mereka. Ketika harga barang naik, ketika peluang kerja terasa terbatas, atau ketika biaya pendidikan semakin tinggi, muncul pertanyaan yang mungkin tidak pernah terucap secara langsung: apakah masa depan di Indonesia masih menjanjikan?

Pertanyaan tersebut semakin berat ketika dibarengi dengan berbagai isu yang menimbulkan kekecewaan publik. Kasus-kasus yang dianggap mencederai rasa keadilan, kebijakan yang menuai kontroversi, hingga praktik korupsi yang terus berulang membuat sebagian anak muda kehilangan kepercayaan terhadap sistem yang seharusnya melindungi mereka. Kekecewaan ini bukan tanpa dasar; laporan Transparency International Indonesia (TII) menunjukkan bahwa Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia masih tertahan di skor yang rendah, yakni 34 dari skala 100, pencapaian ini menempatkan Indonesia di peringkat 109 dari 180 negara yang disurvei

Namun menariknya, di tengah segala kekecewaan itu, Generasi Z tetap tidak berhenti peduli. Mereka tetap berdiskusi. Tetap mengkritik. Tetap menyuarakan pendapat. Tetap marah ketika melihat ketidakadilan. Jika benar mereka sudah tidak peduli terhadap Indonesia, mungkin mereka tidak akan menghabiskan waktu untuk membicarakan kondisi negara ini setiap hari.

Banyak anak muda merasa kecewa terhadap keadaan, tetapi pada saat yang sama masih menyimpan harapan besar terhadap Indonesia. Mereka menginginkan negara yang lebih adil, pemerintahan yang lebih transparan, serta kesempatan hidup yang lebih layak bagi semua orang. Kekecewaan yang muncul bukan selalu karena kebencian terhadap negeri ini, melainkan karena harapan yang terlalu besar untuk melihat Indonesia menjadi lebih baik.

Mungkin yang sedang mengalami penurunan bukanlah rasa cinta tanah air, melainkan rasa percaya bahwa segala sesuatu akan berubah ke arah yang lebih baik. Akibatnya, sebagian anak muda mulai melihat peluang di luar negeri sebagai sesuatu yang lebih menjanjikan dibandingkan bertahan dan berjuang di dalam negeri.

Indonesia hari ini sedang menghadapi tantangan yang lebih besar daripada sekadar menjaga nasionalisme generasi muda. Tantangan sesungguhnya adalah mengembalikan keyakinan bahwa negeri ini masih mampu menjadi tempat yang layak untuk membangun masa depan. Sebab mencintai Indonesia bukanlah hal yang sulit bagi banyak anak muda. Yang jauh lebih sulit adalah tetap percaya bahwa cinta tersebut akan dibalas dengan masa depan yang memberi harapan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image