Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Masjid Sabilurrohman

Tadabbur Ramadhan (048) Jangan Turun di Tengah Jalan

Khazanah | 2026-03-04 19:14:29

Ramadhan telah melewati separuh perjalanannya. Hari-hari yang di awal terasa penuh semangat, kini mulai diuji oleh lelah dan rutinitas. Tilawah yang dulu dikejar dengan target harian mulai terasa berat. Tarawih yang awalnya dinanti, kini kadang terasa sebagai kewajiban yang harus dipaksakan.

Suasana Masjid yang hening, menambah kehangatan untuk bermunajat dalam kesunyian malam

Beginilah biasanya manusia. Kuat di awal, goyah di tengah.

Padahal justru di fase inilah kualitas keimanan diuji. Apakah ibadah kita sekadar euforia awal Ramadhan, atau benar-benar lahir dari kesadaran untuk berubah?

Rasulullah ﷺ memberi teladan yang berbeda. Dalam riwayat Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir, beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. Artinya, ketika sebagian orang mulai mengendur, beliau justru semakin menguat.

Pekan ketiga bukan waktu untuk turun.

Ia adalah waktu untuk naik.

Karena bisa jadi, yang kita cari belum kita temui. Lailatul Qadar tidak berada di awal Ramadhan. Ia tersembunyi di malam-malam terakhir. Ampunan besar bukan diberikan kepada yang hanya bersemangat sesaat, tetapi kepada yang bertahan hingga akhir.

Sering kali kita lupa, kegagalan bukan terjadi karena tidak memulai, melainkan karena berhenti terlalu cepat. Dalam perjalanan apa pun—belajar, bekerja, memperbaiki diri—tantangan terbesar selalu ada di tengah. Di situlah godaan untuk menyerah muncul pelan-pelan.

Ramadhan mengajarkan satu hal penting: istiqamah lebih berharga daripada semangat yang sesaat. Allah tidak menilai seberapa tinggi kita memulai, tetapi seberapa konsisten kita melanjutkan.

Jangan turun di tengah jalan.

Jika di awal kita sudah berusaha, maka di akhir inilah saatnya membuktikan kesungguhan. Tambahkan satu halaman tilawah. Panjangkan sedikit doa. Perbaiki shalat malam meski hanya dua rakaat. Jangan biarkan Ramadhan berlalu sementara kita justru melambat.

Bisa jadi puncak ampunan ada di depan.

Bisa jadi doa yang lama kita panjatkan menunggu dikabulkan di malam yang belum kita jalani.

Ramadhan bukan tentang siapa yang paling cepat.

Ia tentang siapa yang kuat sampai tamat.

Dan mereka yang bertahan hingga akhir, sering kali pulang dengan hati yang benar-benar berubah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image