Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Hayatun Nufus

Ketika Dunia Terlalu Ramai, Buku Jadi Penawar

Edukasi | 2026-02-22 12:07:33
Ilustrasi

Kita hidup di zaman yang tak pernah benar-benar sunyi. Notifikasi bersahut-sahutan, linimasa bergerak tanpa jeda, opini datang dari segala arah. Bahkan ketika tubuh sedang diam, pikiran tetap berlari. Dunia terasa terlalu ramai, dan sering kali yang paling lelah bukan badan, melainkan kepala.

Di tengah kebisingan itu, membaca buku menjadi sesuatu yang sederhana sekaligus langka. Ia tidak berbunyi. Ia tidak berkedip. Ia tidak menuntut kita untuk segera bereaksi. Buku hanya menunggu untuk dibuka. Namun justru dalam kesederhanaan itulah, banyak orang menemukan penawar bagi stres yang menumpuk pelan-pelan.

Filsuf seperti Arthur Schopenhauer pernah menyebut membaca sebagai cara untuk “berpikir dengan kepala orang lain.” Dalam dunia yang penuh tuntutan, membaca memberi kita jarak. Kita tidak lagi terjebak sepenuhnya dalam persoalan sendiri. Kita memasuki gagasan, cerita, dan sudut pandang lain. Jarak itu penting, karena sering kali stres muncul ketika kita terlalu lama terkurung dalam pikiran sendiri.

Sementara itu, Marcus Aurelius dalam catatan reflektifnya menulis bahwa manusia membutuhkan ruang untuk kembali pada dirinya. Membaca, dalam konteks hari ini, bisa menjadi bentuk jeda yang sadar. Ia bukan pelarian kosong, melainkan cara menata ulang isi kepala. Ketika dunia di luar terlalu riuh, halaman-halaman buku menghadirkan keheningan yang terarah.

Dari sisi psikologi, membaca juga memiliki efek menenangkan. Penelitian tentang bibliotherapy menunjukkan bahwa membaca dapat membantu menurunkan tingkat stres dan meningkatkan empati. Ketika kita tenggelam dalam cerita, detak jantung melambat, fokus membaik, dan pikiran yang semula terpecah-pecah mulai tersusun. Tidak heran jika banyak psikolog menyarankan membaca sebagai salah satu strategi regulasi emosi yang sehat.

Bandingkan dengan kebiasaan scrolling di media sosial. Niat awalnya mungkin untuk hiburan, tetapi sering berujung pada perbandingan dan kelelahan mental. Kita melihat pencapaian orang lain, membaca perdebatan yang tak ada habisnya, atau terjebak dalam arus informasi yang membuat cemas. Alih-alih istirahat, pikiran justru semakin penuh.

Sebaliknya, ketika kita membaca novel, esai, atau bahkan puisi, kita memilih satu suara untuk didengar. Satu alur untuk diikuti. Ada fokus, ada kedalaman. Membaca melatih kesabaran, sesuatu yang semakin jarang di era serba instan. Ia mengajarkan bahwa memahami sesuatu membutuhkan waktu.

Contoh paling sederhana bisa kita temui dalam keseharian. Seorang pekerja yang pulang dengan kepala penat mungkin terbiasa membuka media sosial sebelum tidur. Namun setelah satu jam, ia merasa lebih lelah. Ketika kebiasaan itu diganti dengan membaca beberapa bab buku, suasana hati perlahan berubah. Bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena pikirannya tidak lagi dipenuhi kebisingan yang tak perlu.

Tentu membaca bukan solusi ajaib untuk semua bentuk stres. Namun ia bisa menjadi pintu kecil menuju ketenangan. Ia memberi kita kesempatan untuk berhenti sejenak dari tuntutan untuk selalu responsif. Di dalam buku, kita tidak harus segera membalas, tidak harus berdebat, tidak harus tampil.

Ketika dunia terlalu ramai, mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak suara, melainkan lebih banyak ruang. Buku menyediakan ruang itu. Ia tidak memaksa, tidak mendesak. Ia hanya menawarkan jeda.

Dan di tengah zaman yang gemar berlari, barangkali membaca adalah cara paling sederhana untuk kembali berjalan pelan, sambil mengingat bahwa pikiran kita juga berhak beristirahat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image