Kita Tidak Baik-Baik Saja, Tapi Terbiasa Berpura-Pura
Pendidikan dan Literasi | 2026-04-05 12:06:12
Di ruang kelas, kafe, hingga lini masa media sosial, kita sering melihat hal yang sama: orang-orang yang tampak baik-baik saja. Mereka tersenyum, aktif, dan terlihat produktif. Namun, di balik itu semua tidak sedikit yang sebenarnya sedang berjuang dengan dirinya sendiri bahkan sedang melawanya.
Fenomena ini bukan hal yang asing, terutama di kalangan generasi muda. Isu kesehatan mental kini semakin sering dibicarakan, tetapi belum sepenuhnya dipahami. Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi cukup banyak dialami oleh remaja dan mahasiswa. Sayangnya, meningkatnya pembicaraan tidak selalu diiringi dengan meningkatnya kepedulian.
Apakah bertopeng menjadi jawaban?
Di tengah berbagai tuntutan, banyak dari mereka yang memilih untuk diam. Mahasiswa misalnya, sering berada dalam tekanan yang tidak sederhana. Tugas yang menumpuk, target akademik, serta kecemasan terhadap masa depan menjadi beban yang harus dihadapi setiap hari. Di sisi lain, media sosial juga menghadirkan standar pencapaian yang seolah-olah harus diikuti, sehingga memicu perasaan tertinggal dan overthinking.
Kondisi ini semakin diperparah oleh cara kita meresponsnya. Kalimat seperti “harus kuat” atau “ini bagian dari proses” memang terdengar menyemangati, tetapi sering kali justru membuat seseorang merasa tidak memiliki ruang untuk mengeluh. Akhirnya, banyak orang terbiasa menyimpan lelahnya sendiri dan berusaha tetap terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain, padahal lelah adalah hal yang manusiawi. Ketika seseorang terus-menerus memaksakan diri tanpa memberi ruang untuk beristirahat, dampaknya tidak hanya dirasakan secara emosional, tetapi juga memengaruhi kemampuan berpikir, konsentrasi, dan motivasi dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Perasaan yang dipendam tanpa tahu cara menyalurkanya hanya akan menjadi bom yang sewaktu-waktu bisa meledak. Hidup dimasa kini harus mengetahui cara merespon keadaan lingkungan sekitar. Salah melangkah berakibat fatal, salah menanggapi menjadi penyakit diri. Semua tampak rumit dan sulit jika dikorelasikan pada kehidupan sehari-hari. Semua orang sedang mengalami krisis diri bergelut dengan cara berfikir dan bertindak untuk menyelesaikanya.
Masalahnya, stigma terhadap kesehatan mental masih cukup kuat. Membicarakan kelelahan mental sering kali dianggap sebagai tanda kelemahan. Akibatnya, banyak orang memilih untuk menyembunyikan perasaannya demi menjaga citra, meskipun di dalam dirinya sedang tidak baik-baik saja. Kadang mereka juga menggunakan topeng untuk membohongi dirinya sendiri agar terlihat kuat.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mulai membangun lingkungan yang lebih peduli. Kita mungkin tidak selalu bisa menyelesaikan masalah orang lain, tetapi kita bisa menjadi pendengar yang baik. Sikap sederhana seperti tidak menghakimi, memberi ruang bercerita, atau sekadar menanyakan kabar dengan tulus dapat memberikan dampak yang besar bagi seseorang.
Kontrol Diri
Di sisi lain, kesadaran juga perlu dimulai dari diri sendiri. Kita perlu belajar menerima bahwa tidak semua hal harus berjalan sempurna. Tidak apa-apa untuk merasa lelah, tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, dan tidak apa-apa untuk tidak selalu memenuhi ekspektasi yang ada. Dalam kehidupan yang serba cepat, kita sering lupa bahwa manusia memiliki batas. Sebagian orang tidak sadar bahwa kesehatan mental sangat dipengaruhi dari segi merespon dan cara mengendalikan kontrol diri pada suatu keadaan.
Kesehatan mental adalah bagian penting dari kualitas hidup. Jika diabaikan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga lingkungan di sekitarnya. Oleh karena itu, sudah saatnya kita berhenti menormalisasi tekanan tanpa jeda dan mulai menciptakan ruang yang lebih manusiawi dalam kehidupan sehari-hari.
Isu kesehatan mental ini juga sejalan dengan komitmen global dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-3 tentang kehidupan yang sehat dan sejahtera. SDGs tidak hanya berbicara tentang kesehatan fisik, tetapi juga menekankan pentingnya kesejahteraan mental sebagai bagian dari kualitas hidup manusia.
Dalam konteks ini generasi muda memiliki peran penting, bukan hanya sebagai pihak yang merasakan tekanan, tetapi juga sebagai agen perubahan dalam menciptakan lingkungan yang lebih peduli dan suportif. Membuka ruang diskusi, mengurangi stigma, dan mulai saling mendukung, tidak hanya menjaga diri sendiri tetapi juga berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang lebih sehat secara menyeluruh.
Penulis : Fayza Amma Lishayora dan Fiki Fernanda NR
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
