Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Milenia Ferli

Pengalaman Menjadi Ibu di Tengah Bayang-Bayang Krisis

Politik | 2026-05-19 16:10:37

Di tengah dinamika sosial, politik dan ekonomi yang semakin kompleks, pengalaman menjadi perempuan di Indonesia tidak lagi dapat difahami melalui kerangka domestik semata. beban yang dipikul perempuan modern bergerak melampaui urusan rumah tangga, terutama ketika ia berada di fase kehamilan.

sumber gambar: depositphotos.com

Pada titik ini, perempuan tidak hanya menghadapi perubahan secara biologis dan emosional, tetapi juga berhadapan dengan tekanan struktural yang berasal dari ketidakstabilan ekonomi, krisis lingkungan, permasalahan internal keluarga, tuntutan terhadap dirinya, dan banyak lagi relasi sosial yang melelahkan.

Kehamilan yang secara ideal dipandang sebagai fase penuh ketenangan justru sering kali berubah menjadi ruang akumulasi kecemasan kolektif, mulai dari pelemahan mata uang rupiah, kualitas gizi yang buruk, polusi udara yang semakin tak terkendali dan ketidak pastian ekonomi global menimbulkan tekanan yang nyata terhadap keluarga muda.

Dalam konteks perempuan hamil, situasi ini menimbulkan kecemasan multidimensional, seperti yang penulis sudah sebutkan di atas. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa krisis ekonomi tidak hanya berhenti sebagai persoalan statistik makro, melainkan hadir secara konkret di ruang-ruang kehidupan masyarakat.

Pada saat yang sama, krisis kepercayaan terhadap institusi publik akibat praktik korupsi yang terus berulang memperbesar rasa pesimisme sosial. Ketika pejabat publik berkali-kali terlibat dalam penyalahgunaan kekuasaan, masyarakat tidak hanya kehilangan sumber daya ekonomi negara, tetapi juga kehilangan rasa percaya terhadap masa depan kolektif.

Dalam perspektif psikologi sosial, kondisi ini dapat memunculkan apa yang disebut sebagai learned helplessness, yakni keadaan ketika individu merasa tidak lagi memiliki kontrol terhadap perubahan sosial karena terus-menerus menyaksikan kegagalan sistemik yang berulang. Perempuan hamil, yang secara psikologis tengah membangun orientasi masa depan bagi anaknya, menjadi kelompok yang sangat rentan mengalami kecemasan eksistensial akibat situasi tersebut.

Kondisi lingkungan hidup yang semakin memburuk turut memperparah tekanan psikologis itu. Polusi udara, suhu yang semakin panas, serta pembabatan hutan yang terus berlangsung menciptakan rasa tidak aman terhadap keberlangsungan hidup generasi mendatang. Dalam kajian eco-anxiety, kecemasan terhadap kerusakan lingkungan dipahami sebagai respons psikologis yang wajar terhadap ancaman ekologis yang nyata.

Seorang calon ibu tidak hanya memikirkan kualitas hidupnya sendiri, tetapi juga mempertanyakan dunia seperti apa yang akan diwariskan kepada anaknya kelak; apakah masih tersedia udara bersih, ruang bermain yang aman, serta lingkungan sosial yang sehat untuk tumbuh dan berkembang.

Namun tekanan perempuan tidak berhenti pada persoalan negara dan lingkungan. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak perempuan juga harus menghadapi kompleksitas relasi domestik yang melelahkan, termasuk dinamika dengan keluarga besar atau mertua. Budaya patriarkal di Indonesia sering kali menempatkan perempuan dalam posisi serba salah.

Banyak perempuan yang dituntut menjadi menantu yang penuh perhatian dan patuh, istri yang suportif, sekaligus ibu yang sempurna. Dalam kondisi hamil, ketika tubuh dan emosi sedang berada dalam situasi rentan, berbagai komentar, intervensi, maupun tuntutan domestik dari lingkungan keluarga dapat menjadi sumber stres yang signifikan. Ironisnya, tekanan semacam ini kerap dianggap sebagai “hal biasa” dalam budaya keluarga Indonesia, sehingga pengalaman emosional perempuan sering kali tidak memperoleh validasi yang memadai.

Di sisi lain, tuntutan ekonomi membuat banyak perempuan tetap harus bekerja dalam kondisi hamil. Fenomena ini menunjukkan bagaimana sistem sosial modern mendorong perempuan menjalankan peran ganda secara simultan, setiap pagi hingga sore hari sebagai pekerja produktif sekaligus pengelola domestik, malamnya harus dihadapkan dengan perannya mengurus rumah tangga, menjadi pengajar untuk anak, menjadi pendengar untuk suami dan dirinya sendiri yang kelelahan.

Dalam teori role strain, individu yang menjalankan terlalu banyak peran dalam waktu bersamaan berpotensi mengalami konflik psikologis akibat ketidakmampuan memenuhi seluruh ekspektasi sosial secara optimal. Perempuan hamil akhirnya hidup dalam ritme yang melelahkan—bekerja, menjaga stabilitas rumah tangga, memenuhi tuntutan sosial keluarga, sambil tetap dituntut menjaga kesehatan fisik dan emosionalnya.

Akumulasi tekanan tersebut dalam banyak kasus bermuara pada burnout psikologis. Burnout tidak lagi hanya dialami pekerja profesional di ruang kantor, tetapi juga perempuan dalam kehidupan domestiknya. Konsep emotional exhaustion dalam teori burnout menjelaskan bagaimana individu dapat mengalami kelelahan emosional kronis akibat tekanan berkepanjangan tanpa ruang pemulihan yang cukup. Banyak perempuan akhirnya menjalani hari-hari dengan kondisi lelah secara mental, namun tetap harus terlihat kuat demi menjaga kestabilan keluarga. Mereka tidak memiliki ruang untuk benar-benar berhenti, sebab sistem sosial telah membentuk ekspektasi bahwa perempuan harus selalu mampu bertahan.

Lebih jauh, muncul pula kebingungan mendalam mengenai bagaimana cara membesarkan anak di era yang penuh paradoks ini. Di satu sisi, orang tua didorong menerapkan pola asuh modern yang suportif dan minim kekerasan. Namun di sisi lain, mereka hidup di tengah lingkungan digital yang agresif, budaya konsumsi yang semakin ekstrem, serta tekanan sosial media yang membentuk standar pengasuhan nyaris tidak realistis.

Banyak calon ibu akhirnya mengalami parenting anxiety, yaitu kecemasan berlebih terhadap kemampuan diri dalam mendidik anak secara “benar”. Mereka khawatir anak akan tumbuh terlalu rapuh, terlalu individualis, terlalu bergantung pada teknologi, atau justru kehilangan empati di tengah masyarakat yang semakin kompetitif.

Fenomena ini menunjukkan bahwa menjadi ibu di era kontemporer bukan lagi sekadar pengalaman biologis, melainkan pengalaman sosial-politik yang sangat kompleks. Seorang perempuan hari ini tidak hanya melahirkan anak, tetapi juga harus menavigasi berbagai krisis sekaligus, mulai dari krisis ekonomi, krisis lingkungan, krisis relasi sosial, hingga krisis makna dalam masyarakat modern. Dalam konteks ini, keresahan perempuan bukanlah bentuk kelemahan emosional, melainkan refleksi dari tingginya kesadaran terhadap kompleksitas dunia yang sedang dihadapi.

Pada akhirnya, pengalaman perempuan hamil di Indonesia hari ini memperlihatkan bagaimana persoalan negara sesungguhnya selalu bermuara pada tubuh dan kehidupan sehari-hari warga biasa. Ketika ekonomi melemah, lingkungan rusak, relasi sosial tidak sehat, dan sistem kerja semakin eksploitatif, maka perempuan menjadi salah satu kelompok yang paling merasakan dampaknya secara langsung.

Namun di tengah seluruh tekanan tersebut, banyak perempuan tetap menjalani kehidupannya dengan ketabahan yang nyaris tidak terlihat. Mereka tetap bekerja, tetap merawat keluarga, tetap menjaga harapan, bahkan ketika dunia di sekelilingnya terasa semakin tidak stabil. Dalam banyak hal, ketahanan perempuan Indonesia hari ini bukan hanya persoalan personal, tetapi juga fondasi yang diam-diam menopang keberlangsungan sosial bangsa ini.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Berita Terkait

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image