Sering Merasa Stres karena Beban Akademik? Bisa Jadi Itu Tanda Kamu Burnout
Gaya Hidup | 2025-12-25 09:38:31
Pernahkah kamu merasa sangat lelah dan merasa tidak punya energi dalam mengerjakan berbagai hal yang sedang kamu lakukan? Misalnya di dalam mengerjakan tugas sekolah, tugas kuliah, ataupun aktivitas akademik lainnya. Kondisi ini biasanya semakin parah karena banyaknya tuntutan yang dirasakan oleh seorang pelajar, sehingga membuatnya merasa semakin tersiksa. Mulai dari tuntutan untuk mendapatkan nilai sempurna, memenuhi ekspetasi orang tua, hingga tuntutan untuk tampil sempurna di berbagai bidang.
Oleh karena itu, sangat wajar bagi seseorang yang memiliki beban seperti itu untuk mengeluh sesekali. Hal tersebut bukanlah tanda lemah, melainkan menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk hidup yang memiliki keterbatasan fisik dan psikologis. Karena jika hal tersebut tidak tertangani dengan baik, dampaknya akan sangat buruk bagi diri kita sendiri dan bisa jadi pertanda bahwa kita sedang mengalami burnout syndrome.
Apa Itu Burnout Syndrome?
Menurut Pines dan Aronson (1989), burnout adalah kondisi kelelahan secara fisik, emosional, dan mental yang muncul akibat situasi dengan tuntutan emosinal tinggi yang dihadapi dalam waktu jangka panjang. Dalam konteks dunia akademik, kondisi ini dapat memengaruhi konsentrasi, motivasi belajar, serta kemampuan individu dalam menghadapi tuntutan akademik. Tanpa penanganan yang tepat, burnout berpotensi menimbulkan dampak psikologis yang signifikan dan berkepanjangan.
Dalam dunia akademik, tekanan akademik sering kali muncul bersamaan dengan keterbatasan fasilitas pendukung, seperti kurangnya waktu istirahat dan dukungan sosial. Kondisi tersebut dapat menyulitkan individu dalam menetapkan batasan antara kewajiban akademik dan kebutuhan pribadi, sehingga individu cenderung mengabaikan sinyal awal ketidaknyamanan dan terus memaksakan diri. Selain itu, kemampuan individu dalam mengatur waktu, menetapkan prioritas, serta mengenali batas diri turut memengaruhi cara mereka merespons tekanan akademik, di mana keterampilan yang belum berkembang dengan baik dapat meningkatkan kerentanan terhadap burnout
Macam – macam Gejala Burnout Syndrome
Menurut Leatz dan Stolar dalam Arroisi, J. Afifah , (2022), gejala burnout terdiri dari 4 kondisi, yaitu:
- Keadaan kelelahan fisik, yaitu dengan ditandai mudah merasa lelah, mudah mengalami sakit kepala, terasa mual-mual, terjadi perubahan pada pola makan dan pada pola tidur serta tenaga terasa terkuras berlebihan.
- Keadaan kelelahan emosi, muncul berbentuk depresi, frustrasi, perasaan terperangkap dalam pekerjaan atau tugas, apatis, mudah tersinggung atau mudah marah, mudah merasa sedih dan tidak memiliki daya atau tidak mempunyai kekuatan.
- Keadaan kelelahan mental, biasanya munculnya sikap ditandai dengan prasangka negatif atau prasangka buruk dan sikap sinis kepada orang lain.
- Munculnya perasaan tidak berdaya atau tidak mampu untuk mencapai makna dalam hidup, biasanya tercermin dengan perilaku ketidakpuasan pada diri sendiri, pada pekerjaan, dan pada kehidupannya.
Cara Mengatasi Burnout Syndrome
Parahyanti et al. (2023) dalam buku Solusi Mengatasi Burnout menjelaskan bahwa terdapat banyak cara untuk mengatasi burnout, 5 di antaranya adalah:
- Menerapkan manajemen waktu dengan baik, dengan begitu dapat mengurangi stres dan menghindari sikap menunda-nunda.
- Komunikasi dan dukungan sosial, dengan kemampuan berkomunikasi serta memiliki dukungan sosial yang baik akan membantu mengurangi beban emosional yang dirasakan.
- Mengelola ekspetasi, dengan mengelola ekspetasi yang baik dapat mencegah diri kita untuk menghindari terbentuknya sikap perfeksionisme.
- Gaya hidup sehat, sikap ini diterapkan melalui menjaga pola tidur, makan-makanan bergizi, dan istirahat yang cukup. Dengan begitu tubuh kita akan memiliki energi yang stabil dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
- Meditasi dan relaksasi, hal ini perlu dilakukan karena efektif untuk mengelola stres, meningkatkan konsentrasi, dan membantu memulihkan mental seseorang.
Dari pembahasan ini, diharapkan lebih banyak lagi orang yang peduli terhadap tekanan yang mereka rasakan dan tidak menganggapnya remeh begitu saja. Oleh karena itu, setiap indvidu harus belajar untuk memberikan ruang bagi dirinya sendiri dalam mengahadapi tuntutan yang ada. Dengan sikap yang lebih sadar dan seimbang, maka kesejahteraan diri kita akan meningkat.
Referensi
Arroisi, J., & Afifah, H. (2022). Sindrom burnout perspektif herbert j. freudenberger. 05.
Parahyanti, E., Dewayanti, K., Salsabila, A., & Irena, B. (2023). Solusi mengatasi burnout.
Pines, A. Aronson, E. (1989). Career Burnout: Causes and Cures. New York: The Free
Press, A Division of Macmillan, Inc.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
