Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image Aulia Syifa Kirani

Cinta yang Tertahan oleh Ego dan Prasangka dalam Pride and Prejudice

Agama | 2025-12-25 22:35:43

Pernahkah sebuah hubungan terasa rumit bukan karena tidak ada perasaan, tetapi karena ego dan prasangka yang sulit dilepaskan? Dalam banyak hubungan, kesan pertama yang salah, ego yang dipertahankan, dan komunikasi yang sering tidak tersampaikan dengan baik sering membuat dua orang saling salah memahami. Hal ini sejalan dengan pemenuhan kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki—sebagaimana dijelaskan dalam hierarki kebutuhan Maslow—sangat dipengaruhi oleh kesiapan individu untuk merefleksikan prasangka dan egonya sendiri (Diffyanie & Mubarak, 2025). Hal ini terlihat jelas dalam hubungan Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy dalam Pride & Prejudice, ketika cinta mereka tertahan oleh ego dan prasangka yang terus dipertahankan. Melalui kisah tersebut, Pride & Prejudice menunjukkan bahwa banyak hubungan hampir gagal bukan karena kurang cinta, melainkan karena kita terlalu cepat menilai dan terlalu lambat mendengarkan.

Kesan Pertama yang Menyesatkan

Hubungan antara Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy mulai dari pertemuan pertama yang tidak menyenangkan. Sikap Darcy yang terlihat dingin dan tidak dekat membuat Elizabeth mengira dia sombong dan tidak peduli terhadap orang lain. Penilaian awal ini menjadi dasar bagi Elizabeth untuk memandang hampir semua tindakan Darcy secara negatif. Dalam psikologi sosial, kesan pertama biasanya terbentuk cepat dan berdasarkan emosi, sehingga sulit diubah meskipun ada informasi baru. Akibatnya, prasangka yang muncul dari kesan awal justru menghalangi mereka untuk saling mengenal lebih dalam.

Ego dan Prasangka sebagai Bentuk Pertahanan Diri

Selain kesan pertama, ego turut berperan besar dalam memperpanjang jarak antara Elizabeth dan Darcy. Darcy mempertahankan sikap tertutup dan jaraknya sebagai cara melindungi harga diri dan status sosialnya, sementara Elizabeth menjaga egonya melalui sindiran dan keyakinan bahwa penilaiannya tidak keliru. Dalam konteks ini, ego tidak hanya berfungsi sebagai bentuk kesombongan, tetapi juga sebagai mekanisme pertahanan diri. Ketika ego lebih diutamakan daripada keterbukaan, prasangka pun semakin menguat dan hubungan sulit berkembang secara sehat.

Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Elizabeth dan Darcy?

Karya Jane Austen yang berjudul Pride & Prejudice ini tidak hanya menceritakan cerita cinta, tetapi juga menggambarkan pertumbuhan emosional para tokoh dalam karya tersebut. Perubahan dalam hubungan antara Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy terjadi ketika keduanya mulai berani menghadapi diri sendiri. Surat yang ditulis oleh Mr. Darcy menjadi titik balik penting, yang membuat Elizabeth merenungkan ulang prasangka-prasangka yang selama ini ia pertahankan. Proses ini membutuhkan sikap rendah hati untuk mengakui kesalahan dan keberanian untuk mendengarkan pandangan orang lain. Dari situ, hubungan mereka perlahan menjadi lebih baik—bukan karena munculnya rasa suka yang baru, melainkan karena keberanian untuk menurunkan ego dan merubah penilaian yang sebelumnya mereka pegang.

Akhirnya, kisah antara Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy mengingatkan kita bahwa banyak hubungan di kehidupan sehari-hari juga bisa terganggu oleh ego dan prasangka yang tidak disadari. Di tengah kebiasaan menilai orang secara cepat dan menjaga harga diri, kita sering kali tidak menyadari pentingnya memberi ruang untuk mendengarkan dan memahami. Pride & Prejudice menunjukkan bahwa kedewasaan dalam hubungan bukan selalu datang dari perasaan yang semakin dalam, tetapi lebih dari keberanian untuk mengakui ego, memperbaiki kesalahan, dan terbuka pada kemungkinan bahwa kita bisa saja salah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image