Terjebak Nyaman, Lupa Perjuangan
Khazanah | 2026-01-24 09:17:54Ada fase dalam hidup yang sering kita banggakan: masa muda yang penuh idealisme, semangat pengabdian, dan kerelaan berkorban tanpa pamrih. Pada fase itu, banyak kader Muhammadiyah tumbuh—belajar, berkhidmat, dan berproses dalam dakwah persyarikatan. Mereka hadir di pengajian, pelatihan, rapat, hingga aksi sosial. Muhammadiyah menjadi ruang belajar sekaligus rumah perjuangan.
Namun, waktu berjalan. Sebagian besar menikah, bekerja, meniti karir, dan mencapai stabilitas hidup. Ironisnya, di titik kenyamanan itulah sebagian justru mulai menjauh. Aktivisme memudar, keterlibatan berkurang, dan jejak perjuangan seolah terhapus oleh rutinitas dan kesibukan.
Fenomena ini tentu tidak hanya terjadi di Muhammadiyah. Banyak organisasi sosial dan keagamaan menghadapi pola yang sama: idealisme menguat di masa muda, lalu melemah saat kenyamanan datang. Padahal, dalam Islam, amalan amal justru menjadi ukuran keistiqamahan seorang hamba.
Allah SWT menegaskan:
“Dan katakanlah (Muhammad) : bekerjalahlah kamu, maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.” (QS.At-Taubah: 105)
Rasulullah saw. juga mengingatkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meski kecil. Semangat istiqamah inilah yang seharusnya menjadi ruh kader dakwah: tidak hanya bersemangat di awal, tetapi tetap hadir saat kehidupan telah mapan.
Muhammadiyah sering menjadi tempat menempa diri, memperluas jaringan, dan membangun kapasitas. Dari situlah banyak kader mendapatkan ilmu, relasi, dan pengalaman yang disampaikan pada posisi strategis di masyarakat. Maka, menjauh dari gerakan setelah meraih kenyamanan adalah ironi: tumbuh besar bersama Muhammadiyah, tetapi enggan menumbuhkan Muhammadiyah saat telah berhasil.
Tulisan ini bukan untuk menghakimi, melainkan sebagai cermin muhasabah. Apakah kita masih menjadi bagian dari perjuangan, atau justru menikmati hasil perjuangan tanpa lagi terlibat di dalamnya? Apakah dakwah masih menjadi panggilan, atau sekadar nostalgia masa muda?
Pada akhirnya, keberhasilan sejati bukan hanya diukur dari karier, harta, dan kenyamanan hidup, tetapi dari seberapa jauh kita tetap setia pada nilai dan perjuangan yang pernah kita ikrarkan. Jangan sampai kita terjebak nyaman, lalu lupa bahwa gerakan ini membutuhkan kehadiran kita—bukan hanya saat kita mendekat, tetapi juga saat kita sudah cukup.
MPKSDI Kabupaten Pekalongan
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
