Materi Kultum: Berdakwah dengan Santun di Tengah Keberagaman
Agama | 2026-03-07 05:56:34Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah , puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT yang telah meringankan langkah kita menuju Masjid Muhajirin di pagi yang barokah ini. Sholawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, uswah hasanah kita dalam bertutur kata.
1. Landasan Dalil: Dakwah Itu Mengajak, Bukan Mengejek
Dakwah secara bahasa berarti “mengajak”. Karena sifatnya yang mengajak, maka caranya haruslah membuat orang yang diajak merasa nyaman, bukan malah menjauh. Allah SWT berfirman dalam QS. An-Nahl ayat 125 :
" Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik..."
Bahkan ketika Allah mengutus Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS berbicara dengan Fir'aun—manusia paling sombong yang mengaku Tuhan—instruksinya sangat jelas dalam QS. Thaha ayat 44 :
" Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut."
Contoh Nyata: Rasulullah SAW pernah menghadapi seorang Badui yang kencing di dalam masjid. Saat para sahabat marah, Rasulullah justru melarang mereka bertindak kasar. Dia biarkan selesai, lalu diperintahkan menyiramnya dengan air seember, kemudian menasihati orang tersebut dengan sangat lembut hingga ia menyentuh.
2. Mengapa Dakwah Menjadi Tidak Santun?
Seringkali kita memecahkan dakwah yang keras atau kaku. Hal ini biasanya disebabkan oleh beberapa faktor:
- Merasa Paling Benar: Tumbuhnya sifat ujub (bangga diri) sehingga menganggap orang lain pasti salah dan rendah.
- Kurangnya Ilmu tentang Adab: Menguasai teks dalil tapi lupa mempelajari bagaimana Rasulullah memanusiakan manusia.
- Emosi yang Tak Terkendali: Dakwah dijadikan ajang meluapkan kemarahan pribadi atas kondisi sosial, bukan karena kasih sayang kepada sesama.
3. Belajar dari Kearifan Imam Syafi'i
Di tengah perbedaan pendapat, kita patut memikirkan perkataan emas dari Imam Syafi'i yang sangat relevan untuk menjaga kerukunan kita di Perum Taman Asri ini:
" Pendapatku benar, tapi memiliki kemungkinan untuk salah. Sedangkan pendapat orang lain salah, tapi memiliki kemungkinan untuk benar."
Pesan ini mengajarkan kita kerendahan hati (tawadhu) . Kita teguh pada pendiriannya, namun tetap membuka ruang dialog dan menghormati pilihan orang lain. Jika Imam Syafi'i yang ilmunya seluas samudera saja bisa sebijaksana itu, apalagi kita?
4. Kesimpulan
Berdakwah dengan santun bukan berarti kedamaian, melainkan mengemas kebenaran dengan akhlak yang mulia.
- Dakwah yang santun akan merangkul yang jauh dan mempererat yang dekat.
- Dakwah yang kejam hanya akan memicu perpecahan dan menjauhkan umat dari agama.
Mari kita jadikan Masjid Muhajirin ini sebagai pusat dakwah yang menyejukkan bagi warga Kota Madiun, khususnya di lingkungan Taman Asri.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.
