Clock Magic Wand Quran Compass Menu
Image HALO MUSAFIR

Menggapai Haji yang Substansial

Agama | 2026-05-29 15:55:54
Dokpri. Ilustrasi

Taufik Sentana. Peminat studi sosial dan literasi digital. Ikatan Dai Indonesia Kab. Aceh Barat

_____________________________________

Suatu ketika di pasar Meulaboh, saya melihat seorang bapak dengan stiker “Sudah Haji” di motornya, tetapi ketika ditagih utang warung, nada bicaranya meninggi. Pertanyaan sederhana kemudian muncul: untuk apa bersusah payah ke Mekah jika watak lama tetap dibawa pulang?

Haji lazim dipahami sebagai perjalanan fisik ke Baitullah pada waktu tertentu. Para guru sering menyebut haji sebagai upaya mereguk nektar spiritual agar dapat menjadi madu kebaikan yang dibawa pulang. Nilainya terletak pada kontribusi sosial, bukan semata pada penambahan gelar di depan nama.

Kuntowijoyo dalam _Paradigma Islam_ mengingatkan bahwa Islam tidak cukup berhenti pada ritus dan simbol. Agama harus sampai pada tahap internalisasi dan transformasi sosial. Dari gagasan itulah istilah “haji substantif” menjadi relevan.

Kuntowijoyo membedakan tiga lapisan pengamalan agama: normatif, historis, dan transformatif. Dimensi haji yang hanya berhenti pada wukuf, pelafalan talbiyah, dan lempar jumrah termasuk lapisan normatif. Sah secara fiqih, tetapi belum tentu mengubah struktur kesadaran dan berdampak pada perbaikan sosial.

Masalah muncul ketika haji bergeser fungsi menjadi simbol status. Gelar “Haji” di depan nama, foto di depan Ka’bah sebagai modal sosial, dan pengulangan ibadah oleh kelompok yang sama. Kuntowijoyo menyebut kondisi ini sebagai jebakan objektifikasi tanpa internalisasi. Ritual berjalan, tetapi belum menjadi etos hidup.

Haji dan Pembebasan

Secara literal, inti Islam bagi Kuntowijoyo adalah pembebasan: dari kemiskinan, kebodohan, penindasan, dan ketimpangan sistem. Haji substantif membaca ulang manasik sebagai kurikulum pembebasan tersebut.

Pertama, Ihram sebagai latihan melepaskan atribut duniawi. Makna substantifnya adalah kesediaan melepaskan ego dan privilese ketika kembali ke tengah masyarakat. Saya pernah bertemu jemaah pulang haji yang tidak lagi mengenakan pakaian baru secara berlebihan. Alasannya sederhana, ia tidak ingin meminta dihormati karena penampilannya.

Kedua, Wukuf di Arafah sebagai simulasi hari kiamat, tempat manusia berdiri sama rata tanpa sekat kelas. Makna substantifnya adalah tumbuhnya kepekaan terhadap ketimpangan sosial di sekitar. Berdiri sejajar dengan pekerja bangunan di Arafah seharusnya membuat seseorang malu jika setelah pulang ia melewatinya tanpa sapa.

Ketiga, Thawaf sebagai gerakan sentripetal menuju satu pusat. Makna substantifnya adalah memusatkan orientasi hidup pada nilai tauhid, bukan pada komoditas dan gengsi.

Haji menjadi substantif apabila menghasilkan persona “manusia yang dibebaskan”, bukan sekadar manusia yang memiliki dokumentasi di depan Multazam.

Transformasi Pasca-Haji

Perubahan tidak cukup diukur dari ucapan. Diperlukan bukti sosial. Realisasi haji substantif dapat dilihat dari tiga gejala.

Pertama, jarak sosial berkurang. Kemudahan untuk duduk dan mendengarkan kelompok marjinal, karena di Arafah telah dirasakan pengalaman kesetaraan.

Kedua, keberanian mengkritisi struktur dosa sosial. Keberanian menolak praktik zalim dalam bentuk apa pun, karena pernah bersumpah di tanah haram.

Ketiga, kesederhanaan gaya hidup. Tidak lagi menjadikan konsumsi dan sikap pamer sebagai penanda validasi, karena pernah merasa cukup dengan dua helai kain ihram.

Jika kepulangan dari haji tidak mengubah relasi dengan tetangga, rekan kerja, dan sikap terhadap harta, maka menurut Kuntowijoyo haji tersebut belum selesai bertransformasi. Belum substantif. Belum mabrur!

Haji yang sejati mungkin baru dimulai ketika koper telah dibongkar, air zamzam telah habis, dan rutinitas kembali pada kemacetan jalan raya serta kenyataan ketimpangan di masyarakat.

Pada titik itulah diuji apakah ritual telah berubah menjadi transformasi personal dan sosial, atau hanya menjadi koleksi foto.

Saya tidak tahu apakah telah lulus dari ujian itu. Yang saya tahu, setiap kali tergoda menyebut pengalaman di Mekah, saya teringat dua helai kain ihram, dan memilih diam.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Copyright © 2022 Retizen.id All Right Reserved

× Image